Kala Gombalan 'Dilan' Bikin Kelepek Indonesia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 10/02/2018 11:43 WIB
Kala Gombalan 'Dilan' Bikin Kelepek Indonesia Dilan menjadi fenomena baru di Indonesia. Karakter ciptaan Pidi Baiq ini bukan hanya jadi sensasi di internet, tapi di industri film Indonesia. (Dok. Falcon Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu. Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja."

Bila kalimat gombalan itu kerap terlontar beberapa hari terakhir, itu semua karena Dilan. Dilan, baik di buku maupun film, jadi fenomena di Indonesia pada awal 2018.

Berawal dari sebuah cerita blog karya Pidi Baiq pada 2013 yang dilanjutkan menjadi sebuah novel pada 2014 bertajuk Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990, sosok Dilan menarik hati masyarakat Indonesia dengan gombalan dan cerita cinta remajanya dengan Milea.


Dikisahkan, Dilan adalah seorang pemuda 2 SMA, nakal, anak seorang tentara, ketua geng motor paling dikenal di Bandung, dan tak kenal lelah merayu untuk meluluhkan hati gadis pujaannya, Milea.

Kisah Dilan sejatinya cerita cinta klise anak remaja era '90-an, yang kala itu masih terbatas dalam berkomunikasi. Internet belum awam. Maka ia banyak menulis surat, berbahasa merajuk, menghubungi dengan telepon umum, dan 'ngapel' ke rumah.
Tapi cerita klasik yang jarang ditemukan di era generasi milenial itu lah yang menjadi sensasi dan roman picisan era 'zaman now'. Sosok Dilan juga jadi arketipe atau role model baru bagi sebagian masyarakat generasi Instagram kini.

Itu terbukti melalui jajak pendapat yang dihimpun CNNIndonesia.com, ketika nama Dilan diberikan di antara sejumlah arketipe pria idola dari cerita fiksi seperti Rangga (AADC, 2002), Boy (Catatan Si Boy, 1987), atau Fahri (Ayat Ayat Cinta, 2008).

Dilan, si tengil dan tukang gombal itu, mendapatkan dukungan 23 persen. Memang masih kalah dengan Rangga dan Boy yang legendaris yang mendapatkan dukungan 31 dan 24 persen. Tapi setidaknya, Dilan sudah punya basis penggemarnya sendiri.



Sehingga wajar, ketika ia diangkat ke dalam 'bentuk nyata' di layar lebar, harapan para penggemar pun membubung.


Hal ini terlihat ketika nama Iqbaal Muhammad alias Iqbaal 'CJR' dipilih Pidi Baiq untuk memerankan sosok Dilan versi layar lebar, pada Juli 2017 lalu. Keputusan ini menimbulkan pro-kontra, lebay memang, tapi itu kenyataannya.





Saking banyaknya tanggapan pesimistis akan kemampuan Iqbaal memerankan Dilan, Pidi pun angkat suara membela pemuda 21 tahun itu.

"Iqbaal bukan Dilan, itu pasti. Iqbaal hanya pemeran Dilan yang harus nurut pada arahanku, bagaimana harus bicara, bagaimana harus bersikap dll." kata Pidi dalam unggahannya di media sosial.

Sempat mereda, kontroversi kemampuan Iqbaal menjadi sosok Dilan muncul kembali ketika trailer pertama film Dilan 1990 muncul pada Desember 2017. Tak sedikit penggemar mengaku kecewa dengan penggambaran Dilan versi Iqbaal.





Tapi kekecewaan itu nyatanya hanya keluhan semata di media sosial. Perolehan penonton Dilan 1990 di bioskop sejak dirilis pada 25 Januari 2018 lalu menunjukkan hasil yang tergolong fantastis.

Dilan melesat dan membuat kelepek masyarakat Indonesia yang notabenenya masih sulit menonton film buatan lokal.

Data jumlah penonton yang dirilis pihak studio, Falcon Pictures menunjukkan Dilan 1990 mampu menembus 'pos aman' pertama, yaitu satu juta penonton hanya dalam empat hari penayangan.

Sejak saat itu, disebut Falcon, film Dilan 1990 ditonton 200-300 ribu orang setiap harinya. Hingga tulisan ini dibuat, Dilan 1990 telah menembus angka 4 juta penonton dalam 12 hari.

[Gambas:Youtube]

Capaian Dilan 1990 itu mengalahkan fenomena layar lebar Indonesia pada 2017, Danur: I Can See Ghosts, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, dan Pengabdi Setan.

Pun, perolehan Dilan yang tergolong fantastis di bioskop menjadi sebuah rekor baru di awal tahun yang biasanya minim penonton. Biasanya, film baru akan mengejar musim liburan untuk menggaet penonton, tapi gombalan Dilan mampu menjaring penonton dan pundi-pundi uang.

"Efek Dilan ini menciptakan penonton film. Kayak Pengabdi Setan, jadi sepenuhnya karena unsur film," kata pengamat film, Hikmat Darmawan, kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Dilan juga jadi budaya pop baru. Hal ini terlihat dari banyaknya atensi generasi muda akan karakter yang dibawa oleh Dilan. Segala hal tentang karakter itu, menjadi viral.



Seperti fenomena lainnya, Dilan pun diwarnai berbagai rumor dan teori fan.

Tak jarang, Pidi Baiq yang dikenal amat berhati-hati ketika berhadapan dengan media, harus menjawab sendiri berbagai tudingan terhadap karakter Dilan dan beragam asumsi yang beredar liar di internet.

Semua sensasi dan atensi atas kisah Dilan, gombalannya, cerita ia dengan Milea, menjadi bukti kesuksesan nyata yang mampu muncul dari sebuah kisah atau konten yang kuat, meski hanya berupa hubungan cinta remaja.

Di satu sisi Dilan mampu menawarkan penyegaran baru bagi generasi internet, namun di sisi lain ia menjadi bukti bahwa konten yang baik dan kuat adalah jawaban untuk menggerakkan industri perfilman Indonesia.
(end)