'Sandungan' Dunia Seni, Nasi Kotak sampai 'Bambu Cirebon'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 12:49 WIB
Butet Kartaredjasa menyampaikan 'sandungan-sandungan' dalam dunia seni pertunjukan di Indonesia, mulai yang sepele sampai ego personal dan proposal. Butet Kartaredjasa berbagi ilmu soal dunia seni pertunjukan di Bali, Minggu (11/2). (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Bali, CNN Indonesia -- Butet Kartaredjasa mengakui dunia seni pertunjukan Indonesia masih banyak kendala. Masalahnya bukan hanya komunikasi gagasan yang kurang tersampaikan, teori yang masih berkaca pada dunia luar padahal tak relevan, dan infrastruktur yang tak kunjung beres.

Butet juga melihat beberapa aspek remeh yang sering dianggap sepele, padahal itu penting.

"Kalau kreatif, oke lah kita banyak ilmu, banyak guru. Yang tidak ada itu bagaimana tim pendukung menghadirkan gagasan itu secara baik. Misalnya perkara sederhana, soal makan," Butet mengawali pemaparannya di GEOKS Artspace, Denpasar, Bali, Minggu (11/2).



Seniman 56 tahun itu menuturkan, makanan di dunia seni pertunjukan seharusnya dikelola dengan baik sehingga orang-orang di dalamnya tidak terbebani. Selama ini, katanya, banyak penyelenggara yang hanya menyediakan nasi kotak untuk para seniman yang terlibat.

"Itu paling saya benci, menyebalkan. Nasi kotak itu nasinya dingin, enggak ada kuahnya, bagaimana mau jadi seniman yang berekspresi kalau urusan perut saja enggak beres?"

Ia pun mewanti-wanti, lebih baik memesan prasmanan di setiap pentas. "Meskipun sederhana, ada kuahnya. Nasi panas, minuman ada opsi teh, gula, kopi. Lengkap, tidak perlu mahal, tapi fresh," katanya, membandingkan perbedaan konsumsi prasmanan dan kotakan.


Butet yakin bukan ia saja yang bermasalah soal itu. Kata sang seniman kelahiran Yogyakarta, komedian Cak Lontong juga pernah menyampaikan keluhannya soal makanan.

"Cak Lontong itu mengatakan, 'Iki nek enggak ono sambel'e meneh, aku enggak gelem main nang Indonesia Kita. (Ini kalau [makanannya] tidak ada sambalnya lagi, saya enggan bermain di Indonesia Kita).' Hanya karena sambal Cak Lontong loyal. Sepele sekali, sambal," katanya.

Indonesia Kita sendiri merupakan program yang digagas Butet bersama Djaduk Ferianto dan Agus Noor dan didukung Bakti Budaya Djarum Foundation. Program itu mengajak seni-seni daerah yang dipandang dengan mata terpicing agar dikemas menjadi sesuatu yang menarik.

Butet Kartaredjasa saat menyampaikan pandangannya soal dunia seni pertunjukan Indonesia di sebuah acara di Bali.Butet Kartaredjasa saat menyampaikan pandangannya soal dunia seni pertunjukan Indonesia di sebuah acara di Bali. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Salah satunya melalui berbagi ilmu seperti yang dilakukan Butet bersama sutradara Garin Nugroho dan Direktur Eksekutif Yayasan Bagong Kussudiardja, Jeannie Park di Bali kemarin. Ilmu semacam itu juga akan disampaikan di kota-kota seperti Bali, Kudus, Malang, dan Padang Panjang.

Menghargai Penonton

Makanan layak untuk seniman bukan satu-satunya yang perlu dipenuhi di dunia seni pertunjukan Indonesia. Butet juga menggarisbawahi layanan terhadap penonton.

Bila penonton bergembira, begitu juga dengan senimannya. Demikian prinsip Butet.

"Bagaimana agar manajemen tidak salah memperlakukan penonton, datanya dihimpun dalam database, sapa di media sosial, sebelum jadwal penjualan tiket dia sudah kita sapa. Karena hanya menonton pertunjukan saja itu sudah suatu kegigihan, perjuangan yang luar biasa."


Itu pun belum tersentuh oleh manajemen hingga sekarang.

Butet mencontohkan usaha menonton pentas di Taman Ismail Marzuki. Penonton perlu perjalanan jauh yang menghabiskan waktu, biaya, dan persiapan lainnya. Karena itulah penonton harus dihargai, dan menjadi poin penting yang tidak boleh diabaikan pelaku seni.

"[Kita harus] mengembalikan pengabdian mereka dengan memberikan pelayanan yang terbaik. Nah, ilmu seperti itu enggak ada di teori-teori dari barat itu," tutur Butet yakin.


Ia memang termasuk seniman yang sepakat Indonesia punya kultur berbeda yang tidak sepenuhnya bisa terkover oleh ajaran barat. Karena itulah ia menganggap teori yang terlalu kebaratan dan menjadi pegangan manajemen seni sekarang, tidak relevan dengan Indonesia.

Seniman Jangan Congkak

Soal komunikasi gagasan seni yang tak tersampaikan, Butet melihat itu karena ide mereka tak dibarengi dengan penyusunan proposal dan penyampaian yang baik. Menurutnya, biasanya itu karena seniman yang congkak. Proposal seni mereka hanya berisi kesombongan.

"Proposal kesenian itu isinya kesombongan-kesombongan, ngomong kecendikiawanan yang tinggi-tinggi, sampai yang baca saja bingung," katanya memberi gambaran.

Kemampuan berkomunikasi lisan maupun tulisan menjadi sesuatu yang penting dikuasai di bidang seni pertunjukan. Apalagi jika mereka masih membutuhkan sponsor.


"Penting itu proposal dituliskan dengan komunikatif, sederhana, tanpa meremehkan. Ini hal sepele yang ditemukan di 'sandungan' hidup," Butet menambahkan poinnya.

Tak Perlu Ego Personal

Ketika gagasan seni itu sudah terwujudkan, selanjutnya, kata Butet, sutradara tak perlu mengedepankan ego personalnya. Baginya, kualitas produk harus berkompromi dengan manajemen. Butet memberi contoh seorang sutradara besar yang terlalu egois.

"Pernah terjadi sutradara besar main teater, lalu untuk dekor minta Rp200 juta. Untuk bambu besar harus dihadirkan dari Cirebon. Padahal penonton tidak peduli itu bambu dari mana. Toh, tetep bambu," tuturnya. Kualitas akting secara keseluruhan lebih penting.

Butet Kartaredjasa menganggap seniman tak perlu egois soal kualitas produk, karena itu harus berkompromi dengan manajemen.Butet Kartaredjasa menganggap seniman tak perlu egois soal kualitas produk, karena itu harus berkompromi dengan manajemen. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
(rsa)