Efek Rumah Kaca Perpanjang Kunjungan ke Amerika usai SXSW

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 08/03/2018 19:39 WIB
Efek Rumah Kaca Perpanjang Kunjungan ke Amerika usai SXSW Efek Rumah Kaca berencana memperpanjang durasi kunjungannya ke Amerika Serikat setelah tampil dalam festival musik akbar South By South West (SXSW). (CNN Indonesia/Ajeng Dinar Ulfiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kurang dari satu minggu band Efek Rumah Kaca (ERK) akan terbang ke festival musik akbar South By South West (SXSW) di Texas, Amerika Serikat. Mereka dijadwalkan tampil di Esther's Follies pada Jumat (16/3) pukul 23.00 waktu setempat.

Vokalis Cholil Mahmud mengatakan ERK memperpanjang kunjungan ke Amerika Serikat sehingga mendarat di Indonesia tanggal 29 Maret. Rencana itu mundur satu minggu lantaran sebelum mereka berencana mendarat di Indonesia pada 22 Maret.

"Kami hanya memanfaatkan waktu, kami mau belajar dan mencari ilmu dengan ke museum atau nonton acara musik. Mau cari tahu juga tentang skema musik independen di sana," kata Cholil kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (7/3) malam.



Cholil belum bisa memastikan akan tampil di beberapa klub setelah SXSW atau tidak. Pasalnya, membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan untuk memastikan suatu klub bisa dijadikan tempat untuk tampil.

"Mungkin kalau open mic aja bisa, tapi kalau main satu band belum tentu bisa. Kami ada niat untuk main di tempat lain, tapi belum tentu," kata Cholil.

Perpanjangan kunjungan ke Amerika dipilih lantaran ERK resmi mundur sebagai musisi Indonesia yang dibantu Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Penganggaran dana tiket pesawat yang tidak efektif menjadi alasan band asal Jakarta ini untuk mundur.

Mulanya, kata Cholil, Bekraf hanya mampu membantu dana tiket dan akomodasi untuk lima personel ERK. Dengan begitu, ada empat personel yang harus berangkat dengan dana sendiri.

ERK menggalang dana dengan manggung di sejumlah kesempatan, membuat konser dan menjual pernak-pernik band. Semua uang mereka kumpulkan hingga bisa memberangkatkan empat personel ERK yang tak ditanggung Bekraf.

Efek Rumah Kaca menggelar konser untuk mengumpulkan uang demi bisa terbang ke SXSW.Efek Rumah Kaca menggelar konser untuk mengumpulkan uang demi bisa terbang ke SXSW. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Menjelang keberangkatan, kata Cholil, empat personel ERK ingin membeli tiket melalui agensi travel yang digunakan Bekraf agar mendarat waktu yang sama. ERK kaget ketika mengetahui harga satu tiket sebesar Rp32 juta untuk pulang pergi menggunakan Eva Air.

Belum lagi, ERK harus menambah biaya USD 280 atau setara Rp3,8 juta untuk memperpanjang kunjungan. Tambahan biaya itu berlaku untuk lima personel yang ditanggung Bekraf.

Cholil menilai harga tiket itu sangat mahal, karena ia biasa melakukan perjalanan Jakarta-New York dengan harga sekitar Rp20 juta. Bila ditotal, bantuan dana dari Bekraf cukup untuk memberangkatkan sembilan personel ERK.

"Akhirnya kami cari harga tiket, ternyata harga tiket sampai Austin sekitar Rp20 juta untuk pulang pergi. Kemudian Bekraf mengatakan ganti maskapai jadi China Airlines, harga satu tiket tetap sekitar Rp32 juta," kata Cholil.

Cholil melanjutkan, "Kami cari harga tiket maskapai yang sama, dengan tempat berangkat sama. Total harga tiket tetap lebih murah, sekitar Rp18 juta untuk pulang pergi."


Melalui komite yang ditunjuk Bekraf, ERK meminta berkomunikasi langsung dengan lembaga yang dipimpin Triawan Munaf itu. Selama ini ERK hanya berkomunikasi melalui komite sebagai pihak ketiga, mereka hanya bertemu dengan Bekraf saat rapat dalam watu yang singkat.

Pihak ERK bertanya kepada Bekraf mengenai harga tiket yang mahal dan menyarakan membeli tiket seharga Rp18 juta karena lebih murah. Bekraf menyetujui saran itu dengan sistem membayar kembali (reimburse) setelah ERK membeli tiket itu. Namun, hal itu tidak mungkin bagi ERK karena tidak memiliki cukup uang.

"Kami merasa aneh, mengapa tidak ada tanggapan soal perbedaan harga tiket, padahal mencolok. Harusnya ada penjelasan, mengapa lebih mahal, teknis bagaimana dan persetujuan apa. Mengapa Bekraf lebih mahal dari individu? Setahu saya kalau pakai corporate lebih murah dari individu," kata Cholil.

Cholil melanjutkan, "Kami enggak pernah kerja sama dengan pemerintah, kami jadi ragu mengapa begini dan khawatir ada apa-apa. Kami akhirnya mundur dari bantuan Bekraf walau harus cari uang kanan kiri. Apa kami terlalu naif, tapi menurut kami itu penggunaan dana tidak efektif."

Sebelumnya, Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik memberi penjelasan mengapa anggaran mereka terbatas pada lima personel dan tiga band yang berangkat ke SXSW. Menurutnya, hal itu berawal dari 2017 lalu, saat untuk pertama kalinya panitia SXSW memilih lebih dari satu band dari Indonesia untuk tampil.


Total anggaran yang ada biasanya sekitar Rp6 miliar. Angkanya Ricky tidak tahu persis. Namun yang jelas, uang itu termasuk akomodasi selama di Amerika Serikat dan sewa lahan untuk membangun paviliun di mana start up pilihan dari Indonesia bisa promosi.

Hitungan kepala, dana itu untuk memberangkatkan 25 'delegasi.' Sebanyak 15 dari musisi (tiga band, tiap band lima orang) dan 10 perwakilan start up (lima start up, masing-masing dua orang untuk bergantian menjaga stan di SXSW). Namun dana itu belum termasuk tiket pesawat.

"Sesuai peraturan Kementerian Keuangan, sistemnya per lump sum. Demikian juga untuk tiket pesawat. Misalnya ke AS, pejabat Eselon 1 jatahnya sekian. Saya bisa naik pesawat apa. Kalau SQ misalnya, plafonnya enggak cukup, mungkin Emirates cukup," Ricky menjelaskan.

Artis yang diberangkatkan, kata Ricky, setara pejabat Eselon 2 atau 3.

"Saya tidak tahu ERK mendapat angka bujet itu dari mana. Yang di-quote itu bukan harga yang dibeli, melainkan batas atas tiap pembelian," tutur Ricky lagi.

Pembelian tiket pesawat melalui lembaga pemerintah, kata Ricky, memang selalu lebih mahal dibanding membeli sendiri lewat agen travel online. Menurutnya, lembaga pemerintah tidak pernah membeli tiket kdengan tanggal pasti, sehingga tak bisa dikembalikan. Karenanya, tiket dengan tanggal fleksibel yang selalu dipilih.

(res)