Ulasan Film: 'Kenapa Harus Bule?'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 18:18 WIB
Fenomena 'bule hunter' hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Film 'Kenapa Harus Bule?' pun membahasnya dengan cara yang jenaka. Fenomena 'bule hunter' hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Film 'Kenapa Harus Bule?' pun membahasnya dengan cara yang jenaka. (dok. Good Sheep Productions/Kalyana Shira Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi sebagian orang, pasangan hidup bukan hanya bersyarat materi atau pun pendidikan. Ras juga menjadi salah satu pertimbangan. Bule hunter yang mencari pasangan dari ras Kaukasia seperti Eropa atau Amerika adalah salah satu fenomena sosial di Indonesia.

Namun fenomena ini berselimutkan stigma. Mereka yang memilih atau kadung dianggap sebagai bule hunter kerap mendapatkan anggapan miring dari masyarakat. Kondisi itu yang diangkat film 'Kenapa Harus Bule?'.

Namun alih-alih membahasakan fenomena sosial dengan cara serius, sutradara sekaligus penulis film Andri Cung membalutnya dalam nuansa jenaka. Ia menempatkan aktris Putri Ayudya sebagai pion cerita, Pipin Kartika.



Pipin Kartika terobsesi memiliki pasangan dan menikah dengan bule. Ia merasa hanya orang bule yang suka pada dirinya lantaran memiliki kulit berwarna gelap.

Apa pun Pipin lakukan, mulai dari mencari bule lewat aplikasi kencan sampai datang ke berbagai kelab di Jakarta. Sayang, usahanya selalu berbuah pahit.

Sahabat Pipin, Arik (Michael Kho), menyarankan dia pindah ke Bali untuk meneruskan perburuan bule.

Di Pulau Dewata yang terkenal di dunia internasional itu, Pipin bertemu dengan turis sekaligus pengusaha vila asal Italia, Gianfranco (Cornelio Sunny). Pipin pun melancarkan strategi menaklukkan bule Italia itu.

Film 'Kenapa Harus Bule?'Film 'Kenapa Harus Bule?' (dok. Good Sheep Productions/Kalyana Shira Films)

Di tengah upaya Pipin mendapatkan Gianfranco, Ben (Natalius Chendana) datang. Pengusaha restoran yang mengaku indo itu terpikat dengan Pipin dan mencoba memikat hati wanita Indonesia tersebut.

Terjebak di antara dua pria, kehidupan Pipin tak lantas bahagia di Bali. Keuangannya menipis dan pekerjaan baru di Pulau Dewata tak kunjung ia dapatkan. Ia harus memutar otak.

Bagi mereka yang tinggal di kota besar atau pun kerap bertemu dengan orang asing, fenomena bule hunter mungkin bukan hal yang ganjil. Wanita lokal dengan kulit gelap kerap dikaitkan dengan fenomena ini.

Andri Cung yakin cara penuturan yang jenaka akan mampu menyampaikan pesan film 'Kenapa Harus Bule?' lebih mudah sampai kepada masyarakat.


Setelah dieksekusi, cerita yang ditawarkan Andri memang realistis dan cukup sederhana. Namun di sisi lain, ini menjadi terlalu mudah ditebak dan terkesan klise.

Beruntung, dialog dan pesan pada film ini amat berbobot untuk film sekelasnya, mulai dari kesetaraan perempuan sampai tekanan sosial soal perkawinan di Indonesia.

Isu feminisme itu tak dapat dilepaskan dari campur tangan Nia Dinata selaku produser. Nia mengaku memang memberikan masukan kepada Andri soal dialog dalam film tersebut. Sehingga wajar, unsur 'Nia Dinata' masih terasa kuat.

Andri patut berterima kasih kepada Nia. Campur tangan sineas yang kerap menyuarakan masalah marjinal dalam masyarakat itu 'menyeimbangkan' bobot film ini sehingga tak terlalu ringan sampai bisa terbang terbawa angin lalu.

[Gambas:Youtube]

Selain dialog, unsur komedi pada 'Kenapa Harus Bule?' juga menjadi salah satu kekuatan. Adegan dan dialog komedi ditulis rapi sehingga terasa natural dan tidak dipaksakan.

Secara keseluruhan, nilai dengan angka 6,5 dari 10 cukup diberikan pada film ini. (end)


BACA JUGA