Balada Radio 'Pemancar Kambing' untuk Kelabui Kompeni

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018 09:23 WIB
Balada Radio 'Pemancar Kambing' untuk Kelabui Kompeni Di zaman pra-kemerdekaan, Indonesia telah memiliki pemancar radio canggih yang terpancar dari kandang kambing di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Solo, CNN Indonesia -- Siapa sangka, di zaman sebelum kemerdekaan, Indonesia telah memiliki pemancar radio canggih yang terpancar dari kandang kambing di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Tepatnya, kandang itu terletak di Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Agresi militer Belanda II pada 1948 adalah alasan pemancar milik Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang saat itu digunakan Radio Republik Indonesia (RRI) diungsikan. Sekitar 10 pejuang penyiaran membawa pemancar itu dari Gedung Societeit Sasana Soeka (kini Monumen Pers Nasional) dengan mobil merek deSoto.

"Mereka berangkat 20 Desember 1948 menuju Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar," kata peneliti sejarah penyiaran Hari Wiryawan saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Namun, dalam perjalanan mobil itu diserang tentara Belanda pada tanggal 21 Desember 1948. Beruntung pemancar berserta alat radio lain berhasil diselamatkan sebelum mobil hancur dan tak bisa digunakan.

Mau tak mau, mereka memanggul pemancar itu menggunakan kayu dan bambu. Warga sekitar pun ikut membantu memanggul pemancar yang sangat berat itu. Kurang lebih ada 200 orang yang terlibat membawa pemancar tersebut secara bergantian.

Para pejuang itu bagai tak kenal waktu demi menyelamatkan 'harta karun.' Pada malam hari mereka tetap membawa pemancar beserta alat radio agar sampai ditempat persembunyian.

"Perjalanan itu sekitar dua minggu lebih, 25 Desember mereka sampai di Desa Ngringin. Baru sampai di Desa Balong 7 Januari 1949," kata Hari.
Balada 'Pemancar Kambing' Kelabui BelandaPemancar RRI yang pernah diungsikan ke kandang kambing di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Pemancar yang disebut Pemancar Kambing ini berada di lantai satu Monumen Pers Nasional. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Sekitar satu tahun, sampai 1950, siaran RRI mengudara lewat 'Pemancar Kambing.' Di kandang itu juga terdapat alat-alat radio lain yang digunakan untuk siaran. Usai siaran, pemancar ditutup dengan terpal agak tak terlihat.

Hari menjelaskan ada penyiar yang menetap di Desa Balongan bersama keluarganya, ada juga penyiar yang pulang pergi. Namun lebih banyak penyiar yang menetap lantaran pulang pergi sangat berisiko tinggi.

"Selain bahasa Indonesia, siaran saat itu juga menggunakan bahasa Inggris. Supaya negara lain yang mendengar tahu bahwa Indonesia masih eksis meski Belanda melakukan agresi militer. Hampir setiap hari materi siaran tentang perang," kata Hari.

RRI berhasil siaran dengan aman, sementara tentara Belanda kelimpungan mencari asal pemancar. Usaha pejuang itu tak mengkhianati hasil, pemancar yang masih ada hingga saat ini menjadi bukti bahwa mereka berhasil.

Pemacar Kambing diperkirakan dibawa kembali ke Societeit Sasana Soeka pada akhir tahun 1950-an. Kini pemancar itu ada di lantai satu Monumen Pers Nasional yang dihiasi pagar bak kandang kambing dan dua patung kambing yang lebih mirip domba.

Kepala Monumen Pers Nasional Suminto Yuliarso mengatakan pemancar itu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Saksi bisu perjuangan dalam bidang penyiaran nasional.

"Pemancar itu awalnya ada di lantai tiga dengan kondisi kotor, kemudian dibersihkan dan dipajang di lantai satu," kata Suminto.

Suminto memperkirakan butuh tenaga 10 orang selama dua hari sampai pemancar itu layak pajang. Hari pertama digunakan untuk membersihkan dan hari kedua digunakan untuk menurunkan pemancar tersebut.

Lebih lanjut, Hari mengatakan Solo bukan satu-satunya daerah yang memiliki sejarah Pemancar Kambing. Menurutnya fenomena serupa juga terjadi di Surabaya dan Yogyakarta. (res)




BACA JUGA