Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran Nasional

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018 10:33 WIB
Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran Nasional Nama budayawan Indonesia Mangkunegoro VII sudah lama diajukan sebagai bapak penyiaran nasional. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Solo, CNN Indonesia -- Indonesia punya Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan, Tirto Adhi Soerjo sebagai bapak pers, Usmar Ismail sebagai bapak film dan beberapa tokoh lain.

Meski demikian, Tanah Air belum memiliki bapak penyiaran hingga saat ini. Padahal, Indonesia memiliki banyak tokoh dalam bidang penyiaran.

Salah satu tokoh yang paling berperan dalam dunia penyiaran Indonesia adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII. Ia merupakan penguasa Pura Mangkunegaran dari 1916 sampai 1944 yang mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV), radio milik orang Indonesia pertama pada 1 April 1933.
Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran NasionalMangkunegoro VII usai diperiksa oleh dokter setelah jatuh dari kuda, ia foto bersama Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Timur dan Gusti Nurul. Reproduksi dari buku Lembar Kenangan Gusti Noeroel yang diterbitkan Himpunan Kerabat Mangkunegaran Suryasumirat. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Ketertarikan Mangkunegoro VII dalam pada bidang penyiaran berawal ketika menerima persembahan dari orang Belanda berupa pesawat radio penerima yang disebut receiver pada 1927. Sejak itu, Mangkunegoro VII meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Praja Mangkunegaran, Raden Mas Ir Sarsito untuk mengelola stasiun radio.


Peneliti sejarah penyiaran Hari Wiryawan mengatakan Mangkunegoro VII memiliki visi perlawanan terhadap budaya kebaratan yang masuk ke Indonesia. Ia mulai mengawali perlawanan dengan memproduksi lagu-lagu tradisional dengan format piringan hitam bermerek Columbia GLX.

Produksi itu tidak maksimal karena durasi piringan hitam hanya sebentar. Sementara lagu tradisional Jawa yang banyak menggunakan gamelan bisa memakan waktu berjam-jam.

Mengutip buku Mengkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia karya Hari Wiryawan, kegagalan itu membuat Mangkunegoro VII melirik radio sebagai senjata melawan budaya kebaratan. Ia merintis stasiun radio dengan membeli pemancar tua milik Djocjchasche Radio Vereeniging, radio swasta milik Belanda di Yogyakarta.

Pemancar itu diberikan pada sebuah perkumpulan seni bernama Javansche Kuntskring Mardiraras Mangkunegaran. Perkumpulan itu menyiarkan lagu-lagu Jawa yang dimainkan dengan gamelan dengan call sign PK2MN. PK adalah kode radio amatir Jawa Tengah dan MN adalah kode Mangkunegaran.

Mangkunegoro VII terus melakukan pembenahan agar PK2MN semakin baik dan bisa didengar lebih banyak orang. Sarsito juga meminta dibelikan pemancar baru lantaran kualitas pemancar tua itu semakin buruk. Sarsito yang ditunjuk sebagai pimpinan proyek pun meminta melibatkan masyarakat luas.

Pada Jumat, 1 April 1933, rapat pengadaan pemancar baru diselenggarakan di Gedung Societeit Sasana Soeka (kini Monumen Pers Nasional). Sarsito berperan sebagai pembicara pertama pada rapat tersebut.
Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran NasionalPemotretan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII untuk pembuatan patung. Repro dari buku Lembar Kenangan Gusti Noeroel yang diterbitkan Himpunan Kerabat Mangkunegaran Suryasumirat. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
"Pendirian pemancar baru yang modern sangat penting bagi martabat bangsa Nusantara. Lewat pemancar baru nanti, akan dilestarikan dan dikumandangkan kesenian Nusantara," papar Sarsito, mengutip buku Mengkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia.

Bukan hanya membeli pemancar anyar, rapat itu juga setuju mendirikan lembaga penyiaran baru yang diberi nama Solosche Radio Vereeniging. Sarsito yang dipercaya Mangkunegoro VII dalam urusan radio akhirnya didapuk sebagai ketua SRV.

Anggota SRV yang awalnya hanya sembilan orang terus bertambah, tapi uang kas hanya mencapai f600 (Rp600). Sementara Perusahaan Telpon dan Telegraph Pemerintah Hindia Belanda (PTT) di Bandung menjual pemancar seharga f1.500 (Rp1.500).

SRV meminta bantuan pada Mangkunegoro VII untuk menanggung kekurangan. Sang priayi pun bersedia menanggung kekurangan demi terciptanya radio pertama milik orang Indonesia. Pemancar itu tiba di Solo pada 5 Januari 1934 dan langsung digunakan untuk siaran.
Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran NasionalPatung KGPAA Mangkunegoro VII yang terletak di depan museum RRI. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
"Dari cerita itu sebenarnya sudah bisa dilihat seperti apa kecintaan Mangkunegoro VII terhadap dunia penyiaran. Kalau ada yang bilang dia raja makanya bisa bantu beli pemancar, tapi mengapa raja Jawa lain tak melakukan hal sama waktu itu," kata Hari kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Bahkan, kata Hari, SRV, yang saat itu belum memiliki gedung dan studio, akhirnya menumpang di Pendopo Kepatihan Mangkunegaran atas izin Patih Mangkunegaran, KRMT Sarwoko Mangunkusumo. SRV kembali menggunakan fasilitas Pura Mangkunagaran yang saat itu dipimpin Mangkunegoro VII.

Hari menjelaskan Mangkunegoro VII diajukan sebagai bapak penyiaran nasional saat rapat persiapan deklarasi hari penyiaran nasional pada Maret 2010. Menurutnya, banyak orang yang belum mengetahui sepak terjang Mangkunegoro VII dalam bidang penyiaran, sehingga sampai sekarang belum ditetapkan.

Hari, yang saat itu sebagai komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, sempat bertemu dengan seluruh pejabat KPID lain saat rapat. Dalam rapat itu, ia mengusulkan Mengkunegoro VII untuk menjadi bapak penyiaran, tetapi banyak yang tidak tahu.

"Saya rasa Mangkunegoro VII belum ditetapkan bukan karena tidak berjasa, tapi karena tidak dikenal oleh generasi sekarang. Mengapa? Karena pengertian pahlawan bagi mereka adalah tentara atau politisi. Sedangkan Mangkunegoro VII adalah budayawan," kata Hari.

Sudah delapan tahun nama Mangkunegoro VII diajukan, namun belum juga ditetapkan. Padahal, ia selalu digadang-gadang sebagai bapak penyiaran nasional. Mangkunegoro VII bak bapak tiri penyiaran nasional karena belum diakui negara.

"Ya istilah bapak tiri itu bisa jadi. Padahal menurut saya beliau layak jadi bapak penyiaran," kata Hari.
Mangkunegoro VII, Bapak 'Tiri' Penyiaran NasionalPatung Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII di kawasan Pura Mangkunegaran. Sayang patung tersebut tidak terurus sehingga berlumut bahkan terletak ditanah bersama rerumputan. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Yuliandre Darwis mengatakan sampai saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut mengenai penetapan Mangkunegoro VII sebagai bapak penyiaran nasional. Namun, ia memastikan akan ada pembahasan khusus mengenai sang budayawan.

"Bicara fakta hari penyiaran, mengapa tidak kita bicara siapa bapak penyiaran nasional? Cuma bapak penyiarannya bapak apa? Misalnya, definisinya seperti apa, kan harus jelas. Mungkin ada lagi timnya yang akan digagas bersama pemerintah," kata Andre.

Sementara itu, Kasubdit Iklim Usaha Penyiaran dan Kelayakan Teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika Syaharuddin mengatakan belum ada pembahasan mengenai bapak penyiaran nasional.

"Saat ini Pemerintah sedang concern pada penetapan Keppres Hari Penyiaran Nasional, yang jatuh pada tanggal 1 April. Untuk penetapan bapak penyiaran perlu dilakukan kajian lebih lanjut," kata Syaharuddin. (res)