Prilly Latuconsina Akui Bisnis Artis Tak Selalu Mulus

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 08:01 WIB
Prilly Latuconsina Akui Bisnis Artis Tak Selalu Mulus Prilly Latuconsina yang sudah terjun ke dunia bisnis, mengakui bahwa bisnis artis tak selalu mulus. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbisnis saat sudah menjadi artis sepertinya lebih mudah. Setidaknya sudah punya nama besar yang bisa dipakai 'berjualan.' Namun Prilly Latuconsina mengakui kondisinya tak selamanya begitu. Figur publik memang lebih dipercaya, tapi juga tetap punya kesulitan.

"Sama saja kesulitannya kayak pengusaha yang lain. Produk yang dikasih terkadang tak sesuai selera semua orang, menurut A bagus, menurut B belum. Dan tugas kami bagaimana membuatnya jadi seimbang," ujar Prilly dalam acara Shopee Celebrity Squad di kawasan Kebayoran, Jakarta, Rabu (18/4).

Belum lagi, karena ia figur publik, saat berbisnis pun seperti 'dilarang' cacat.



"Jadi sasaran netizen kalau kami lambat merespons," ujarnya menambahkan.

Sejauh ini, Prilly diketahui telah memiliki sejumlah produk seperti Really Cake, Bebellybakery, Nonajudesss, Illywears collection, serta Slimilly by Prilly Latuconsina.

Prilly bukan satu-satunya artis yang terjun berbisnis. Masih banyak nama-nama lain yang menggunakan ketenaran mereka, ditopang popularitas di media sosial, untuk berbisnis. Namun memang tak semua bisnisnya mulus dan laris.


Contoh saja Cilok Muncrat yang dimiliki Mulan Jameela. Tak berapa lama, bisnis itu seperti tiada kabar. Norman Kamaru yang sudah mencoba berbisnis macam-macam, tak kunjung sukses. Sushi Miyabi yang dimodali beberapa artis termasuk Dude Herlino, Adi Nugroho, Thomas Nawilis dan Teuku Wisnu pun terpaksa bubar.

Artis memang bisa disebut influencer, orang-orang yang punya banyak pengikut dan pengaruh besar di media sosial. Menurut pengamat pemasaran digital Tuhu Nugraha, influencer bisa menjadi cara efektif memasarkan produk di internet. Mereka bisa jadi 'penyaring.'

"Ketika kita memiliki banyak pilihan [produk yang ingin dibeli], influencer itu jadi penting karena jadi filter buat konsumen," kata Tuhu.


Contohnya, Tuhu melanjutkan, saat ia ingin memesan topi di salah satu layanan e-commerce. Begitu mengetik 'topi,' akan ada begitu banyak ragam pilihan yang disuguhkan.

"Lalu mana yang harus saya pilih?" ujarnya.

Ia terkadang merasa perlu membandingkan, baik dari segi harga atau merek. Meski sudah begitu, terkadang ia masih merasa ragu apakah yang dibeli sudah pilihan yang tepat.


"Makanya influencer jadi kayak filter, jadi lebih terklasifikasi. Orang yang mungkin gayanya kayak Prilly akan, 'Oh kayaknya Prilly suka itu, aku juga beli kayak Prilly,'" tutur Tuhu melanjutkan pemaparannya.

Menurut Tuhu, selebriti yang telah berbisnis umumnya sudah memiliki aset berupa nama besar dan penggemar. Hal itu yang kemudian menurutnya perlu dikelola dengan baik.

"Yang pertama fan base perlu dikelola, karena mereka yang akan coba. Dan yang kedua adalah inovasi apa yang baru, karena konsumen online tipe yang mudah bosan," katanya. (ysv/rsa)