FOTO: Sembah Syukur dari Sawah Terakhir di Karimunjawa

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Senin, 07/05/2018 16:35 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Petani yang tergabung dalam kelompok Sapa Nyana di Karimunjawa adalah pengelola sawah terakhir, yang hasil buminya disyukuri setiap tahun.

Para petani yang tergabung dalam kelompok tani Sapa Nyana berbondong-bondong di Dusun Cikmas, Karimunjawa, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Sebagian dari mereka membawa orang-orangan sawah yang biasa dipasang di tengah padi yang sudah menguning untuk menakuti hama. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Sebagian lagi membawa alat-alat pertanian. Ada pula yang mengusung gunungan berisi hasil bumi, sebagai persembahan sekaligus ungkapan syukur untuk panen mereka. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Dilakukan setiap tahun, tradisi bernama Memedan Sawah—yang diambil dari istilah orang-orangan sawah—itu memang merupakan ungkapan syukur para petani. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Di lokasi perayaan, petani yang membawa memeden menancapkannya di tepi sawah, lalu berdoa bersama sebagai tanda syukur dan memohon kebaikan atas padi yang akan ditanam. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Perayaan diakhiri dengan makan bersama untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Mereka adalah petani-petani yang tersisa dari sawah terakhir di Karimunjawa, daerah kepulauan, di mana sawah-sawah lain sudah banyak yang beralih fungsi jadi tambak udang. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Meski sawah seluas 14 hektar di Dusun Cikmas itu adalah satu-satunya sawah di Karimunjawa, hasil panennya tetap apik, meningkat 10 persen per tahun. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Itu kenapa kelompok tani Sapa Nyana mensyukurinya setiap tahun dengan Memedan Sawah. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Meski begitu, mereka masih punya satu keluhan, soal sulit dan mahalnya pupuk. Mereka harus menyeberang ke Pulau Jawa untuk membeli pupuk, jika tidak ingin dapat yang mahal. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)