Surat dari Rantau

Ketidakacuhan Warga Inggris Jelang Pernikahan Harry-Meghan

Olivia Rondonuwu, CNN Indonesia | Sabtu, 19/05/2018 14:15 WIB
Ketidakacuhan Warga Inggris Jelang Pernikahan Harry-Meghan Pangeran Harry dan Meghan Markle menikah Sabtu (19/5). (CNN Indonesia/Olivia Rondonuwu)
London, CNN Indonesia -- Warna biru dan merah bendera Union Jack, bendera Inggris Raya, mewarnai sudut-sudut kota London minggu-minggu ini.

Bendera-bendera kecil dengan foto pasangan baru kerajaan Inggris Pangeran Harry dan Meghan Markle pun saling-silang di langit-langit di banyak pub seantero Inggris menjelang pernikahan putera kedua dari Pangeran Charles dan mendiang Puteri Diana.

Banyak pub--tempat minum dan bersosialiasi warga Inggris--memajang papan pengumuman berisi undangan untuk warga yang ingin menonton dan merayakan pernikahan kerajaan di sana.


Di tengah riuh-rendah warga Inggris dan pencinta keluarga kerajaan untuk menyaksikan pernikahan yang semakin jarang ini, ada segelintir warga Inggris tidak peduli akan kemeriahan pesta sang pangeran.

Diantara yang acuh terhadap pernikahan kerajaan adalah pencinta sepak bola. Mereka tak peduli pernikahan ini berlangsung atau tidak selama mereka bisa menonton piala FA, yang memang dilaksanakan pada hari yang sama.

Warga lain menyatakan tidak menonton karena Sabtu ini cuaca diprediksi akan sangat cerah, suatu hal yang jarang terjadi di negeri yang hampir selalu ditudungi awan kelabu, bahkan ketika musim semi seperti sekarang ini.

Acuh Warga Inggris Jelang Pernikahan Harry-MeghanSudut-sudut kota Inggris meriah dengan bendera Union Jack jelang pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle. (Reuters/Phil Noble)
Mereka pun lebih memilih untuk ke taman bersama keluarga atau teman mereka daripada menyibukkan diri menonton pernikahan kerajaan, yang akan diadakan sekitar di kota Windsor, 40 kilometer Barat kota London.

Pernikahan ini pada akhirnya memang menjadi arena yang menunjukkan berbagai pendapat warga Inggris mengenai monarki.

Walaupun sebagian besar warga Inggris mendukung monarki dan siap berdesakan di Windsor, atau berpesta untuk pernikahan untuk calon Duke of Sussex dan Duchess of Sussex di pub-pub bersama teman dan keluarga mereka, banyak juga warga yang tidak suka akan perayaan-perayaan
semacam ini.

Ada dari mereka yang anti-monarki, atau republikan, dan ada juga yang bukan monarki dan bukan republikan tapi merasa pernikahan ini sesuatu yang tak perlu dibesar-besarkan.

William atau Harry?

"Hah? Pernikahan kerajaannya Sabtu ini?" begitu kata beberapa warga London yang ditemui CNNIndonesia.com pada Jumat (18/5), sehari menjelang pernikahan Harry dan Markle.

Russell, pekerja kantoran di kawasan bisnis di timur London bahkan tidak tahu siapa yang akan menikah. "Siapa yang menikah? William atau Harry?" kata pria Inggris yang sudah tinggal di kota London selama bertahun-tahun ini.

Pangeran William, kakak Pangeran Harry, menikah bulan April tujuh tahun yang lalu dengan teman sekelasnya di universitas, Katherine.

Acuh Warga Inggris Jelang Pernikahan Harry-MeghanDi tengah gegap-gempita pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle, ada pula warga Inggris yak tak peduli. (Reuters/Hannah McKay)
Pernyataan Russel ini cukup mengherankan karena wajah Harry dan Meghan selalu menghiasi koran gratisan pagi dan sore yang biasanya dibagi-bagikan di stasiun kereta bawah tanah dan di bus di London.

Selain itu, media pun berlomba-lomba menulis artikel mengenai rencana pernikahan keduanya, mulai dari kisah asmara mereka hingga kegaduhan dari keluarga Meghan.

"Saya tak peduli siapa yang menikah, saya melihatnya sebagai sebuah pasangan, yang laki-laki lumayan ganteng dan yang perempuan sangat cantik, ya bagus untuk mereka dan selamat," ujar Russell.

"Tetapi mereka bukan Tuhan atau para dewa, mereka itu manusia sama dengan kita, tidak ada yang luar biasa dari mereka, jadi saya tidak mengerti kenapa pernikahan ini dibesar-besarkan seperti ini," kata pria asal Kent ini.

Posisi berdasarkan garis keturunan atau prestasi?

Stuart, mantan kepala sekolah yang tinggal di London, mengatakan bahwa dia berdiri di tengah, bukan mendukung kelompok royalis, maupun kelompok republikan.

Di matanya, pernikahan kerajaan ini akan menarik wisatawan ke Inggris dan memberikan kontribusi untuk perekonomian negara yang sedang bersiap untuk memisahkan diri dari Uni Eropa ini.

Menurut Stuart, walaupun keluarga kerajaan tidak memiliki kekuatan apa pun secara politik, anggota keluarga Ratu Elizabeth II ini diam-diam memiliki pengaruh untuk menjaga stabilitas politik di negeri ini.

"Walaupun saya sendiri tidak berniat merayakan pesta pernikahan kerajaan ini, saya butuh minuman untuk melewati hari pernikahan kerajaan ini, jadi saya akan menerima undangan pesta beberapa teman saya yang merayakan akan pernikahan ini dan minum-minum bersama mereka," kata Stuart kepada CNNIndonesia.com.

Acuh Warga Inggris Jelang Pernikahan Harry-MeghanPernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle memberi dampak positif bagi perekonomian Inggris. (Reuters/Phil Noble)

"Satu Duke lagi yang membuat kita muntah"

Toko suvenir di Inggris beberapa minggu terakhir mengeruk keuntungan bisnis dari pernikahan Harry dan Meghan. Wajah pasangan baru ini dicetak di atas beragam barang seperti piring, gelas dan dijual di daerah yang sering dikunjungi turis di sekitar London.

Namun sebuah toko di Gateshead, Inggris timur laut, menjual kantong muntah sebagai persiapan pernikahan kerajaan ini.

Di kantong putih itu, tertulis "Satu Duke lagi yang membuat kita muntah" (One more duke to make us puke) ditulis persis diatas sketsa Harry dan Meghan yang sedang bersanding mesra.

Selembar kantong muntah ini dijual dengan harga 4 poundsterling (Rp80 ribu) dan sudah habis terjual jelang sehari jelang pernikahan Harry dan Meghan.

Di laman toko yang menjualnya, kantong ini dibuat untuk lucu-lucuan atau untuk mereka yang sudah muak dengan berita-berita mengenai pernikahan kerajaan.

Negara Meritokrasi?

Sebuah kelompok yang menamakan diri "Republic" adalah satu entitas yang ingin Ratu Inggris digantikan dengan kepala negara yang dipilih secara demokratis,

"...karena jabatan publik yang diwariskan merupakan hal yang bertentangan dengan setiap prinsip demokrasi", kata kelompok ini, seperti diungkap di laman resmi mereka www.republic.org.uk.

Joe, seorang mahasiswa S-2 yang sempat bekerja di kantor pemerintah kota di London, menentang keras pernikahan ini. Bangga sebagai seorang pendukung negara republik , dia merasa hingar-bingar pernikahan kerajaan sebagai suatu "kebodohan".

"Menurutku, monarki adalah sesuatu yang usang dan sudah tidak layak untuk ada lagi di abad ke-21 sekarang ini," katanya. "Menurut saya, monarki harus dihapuskan karena negara ini seharusnya dijalankan berdasarkan sistem meritokrasi."

Mereka-mereka yang tidak suka dengan monarki dan pernikahan kerajaan yang layaknya dongeng memang jauh lebih sedikit dibanding mayoritas warga Inggris yang menyukai monarki. Terlepas dari jumlah yang jauh lebih kecil, mereka tetap bisa menyatakan pendapat mengenai raja dan ratu secara terbuka dan bebas. (yns)