Rayuan Abadi Lintas Zaman Ismail Marzuki

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 08:45 WIB
Rayuan Abadi Lintas Zaman Ismail Marzuki Ismail Marzuki bukan hanya sekadar komponis biasa. Melalui rayuannya dalam bentuk lagu, ia melintas zaman merasuk ke benak orang Indonesia bergenerasi. (Wikimedia Commons (PD Indonesia Old))
Jakarta, CNN Indonesia -- Ismail Marzuki mungkin salah satu nama yang paling familier di telinga masyarakat Indonesia.

Nama itu bukan sekadar nama pusat kesenian di Jakarta atau pencipta lagu atau pun komponis. Ismail Marzuki adalah salah satu bagian dari sejarah Indonesia.

Ia lahir sebagai anak Betawi di kampung Kwitang, Jakarta pada 11 Mei 1914 dengan nama asli Ismail. Anak laki-laki dari Marzuki ini adalah harapan yang telah lama dinanti kedua orang tuanya.


Ismail Marzuki lahir setelah orang tuanya kehilangan kedua kakaknya karena tak berumur panjang. Namun saat Ismail lahir, tiga bulan setelahnya sang ibu pergi selamanya.


Marzuki membesarkan Ismail dengan penuh harapan dan cita-cita. Ia dididik dengan sepenuh hati, disekolahkan di sekolah Belanda, yaitu Hollandsh Inlandshe School, sekolah unggulan di masa itu.

Namun Marzuki juga memasukkan Ismail ke sebuah madrasah bernama Unwanul Falah yang dipimpin oleh Habib Ali Alhabsji di Kwitang.

"Pengalamannya sebagai santri Habib Ali Kwitang banyak mempengaruhi pola pikirnya," kata sejarawan Alwi Shahab dalam Ismail Marzuki, Santri yang Melegenda Lewat Lagu Perjuangan yang diterbitkan oleh Republika pada 25 September 2016.

"Ia menjadi sosok Islam moderat dengan istiqomah menggali dan mengamalkan Islam serta sekaligus mendalami seni," lanjut Alwi.

Ismail Marzuki muda dengan arkodeonnya.Ismail Marzuki muda dengan arkodeonnya. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Namun bakat musik yang mengalir dari Marzuki tak dapat disembunyikan dalam diri Ismail. Meski Marzuki tak ingin anaknya menjadi seniman karena stigma pekerjaan yang tak jelas, ia harus mengakui anaknya memiliki darah seni.

Ismail sudah ketagihan memainkan alat musik sejak amat belia. Ninok Leksono dalam buku Seabad Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman (2014) menyebut harmonika menjadi salah satu alat musik awal yang dikuasai Ismail.

Usai harmonika, ia berpindah ke alat musik lainnya. Terus begitu dan selalu berlatih empat hingga lima jam setiap harinya, hingga Ismail mampu menguasai delapan alat musik: harmonika, mandolin, gitar, ukulele, biola, akordeon, saksofon, piano.

Ismail Marzuki pun mampu menciptakan lagu pertamanya, O Sarinah, pada usianya 17 tahun, atau pada 1931.


Bakat dan ketenaran Ismail cemerlang saat ia bergabung dengan Lief Java pada 1936, atau pada 22 tahun. Ia pun disebut sempat menjalani pekerjaan sebagai penjual piring hitam yang cemerlang, berkat minatnya terhadap musik.

Namun kariernya sebagai musisi adalah yang mempertemukan Ismail dengan Eulis, seorang biduan orkes asal Bandung nan terkenal. Ismail kepincut mojang Sunda itu dan berupaya mendapatkan hatinya.

"Waktu itu Uu [sapaan Eulis oleh Ismail] bilang kalau dia sebenarnya enggak naksir sama Ismail, tapi Ismail nguber terus ke mana pun seolah ibu itu ratu," kata Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail dan Eulis.

"Mereka selalu ketemu kalau lagi tampil. Aa [sapaan Ismail oleh Eulis] kan maik musik, nah Uu penyanyi. Jadi ketemu terus, dan Aa enggak bisa jauh sampai Uu risih. Eh enggak tahunya jadi juga," lanjutnya.

Ismail Marzuki (paling kiri) bersama Eulis (tengah) kala bergabung dalam suatu grup musik.Ismail Marzuki (paling kiri) bersama Eulis (tengah) kala bergabung dalam suatu grup musik. (Arsip Taman Ismail Marzuki)
Namun bukan hanya Eulis yang dicintai Ismail hingga menjadi inspirasi terbesarnya dalam menulis lagu bertema cinta dan perempuan. Indonesia juga jadi inspirasinya.

Di antara 337 lagu yang tercatat di bawah nama Ismail, setidaknya sembilan di antaranya dijadikan lagu wajib nasional karena dinilai mampu meningkatkan rasa nasionalisme, seperti Indonesia Pusaka, Ibu Pertiwi, Gugur Bunga, dan Sepasang Mata Bola.

"Ismail Marzuki adalah seorang pejuang. Cintanya kepada Indonesia berkobar-kobar terus sepanjang masa," kata Alwi yang sekaligus tetangga Ismail dan sempat bertemu dengan sang maestro itu, saat ditemui CNNIndonesia.com pada Mei 2018.

"Bukan main hebatnya dia. Ismail Marzuki sangat cinta pada tanah airnya. Lagu-lagunya itu menciptakan jiwa kepahlawanan bangsa Indonesia yang besar. Tidak tertandingi, [Ismail ingin] bangsa Indonesia ini harus maju, maju," lanjut Alwi.


Akan tetapi, idealistis dan memiliki nama besar dan populis tak selamanya menguntungkan. Di akhir hidupnya, Ismail meninggal dalam kondisi yang sederhana karena sakit paru-paru basah. Sejak sakit, pendapatannya pun sulit.

Ismail meninggal dunia di usia yang muda, 44 tahun, pada 25 Mei 1958. Usai kepergiannya pun, keluarga harus berjuang keras untuk bertahan hidup dari royalti kegeniusan dan cinta Ismail Marzuki terhadap musik.

Terlepas dari itu semua, rasa cinta yang besar dan kegeniusan Ismail 'merayu' dalam bentuk lagu mampu melintasi zaman dan masih dinilai relevan sehingga terus dibawakan ulang berbagai musisi.

Dalam rangka mengenang wafatnya Ismail 60 tahun lalu, CNNIndonesia.com mencoba menggali sebagian kisah Ismail Marzuki yang rayuannya abadi dalam seri legenda kali ini dari sejumlah wawancara dan berbagai literasi yang ada.

Partitur lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki koleksi Taman Ismail Marzuki. Tertanda tangan, diciptakan 15 November 1944 oleh Ismail Marzuki. Partitur lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki koleksi Taman Ismail Marzuki. Tertanda tangan, diciptakan 15 November 1944 oleh Ismail Marzuki. (Arsip Taman Ismail Marzuki)

Bukan mustahil terdapat perbedaan antara satu referensi dengan yang lain, mengingat keterbatasan kemampuan Indonesia soal dokumentasi.

Namun semoga cinta Ismail Marzuki melalui lagunya masih mampu menyerap dalam kalbu masyarakat Indonesia hingga bergenerasi mendatang, seperti salah satu karyanya, Rayuan Pulau Kelapa yang legendaris.

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat ku cinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang ku puja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik
Raja kelana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah airku
Indonesia

[Gambas:Youtube] (end)