Hari Musik Nasional

Lagu Abadi dari Masa Perjuangan versi Mus Mulyadi

Resty Armenia, CNN Indonesia | Kamis, 09/03/2017 14:23 WIB
Lagu Abadi dari Masa Perjuangan versi Mus Mulyadi Mus Mulyadi memberikan rekomendasi lima lagu Indonesia yang dianggap abadi. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam rangka memperingati Hari Musik Nasional, penyanyi keroncong legendaris Mus Mulyadi membeberkan beberapa lagu yang 'beredar' di masa perjuangan setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, kelima lagu ini tetap enak didengarkan hingga kini dan patut direkomendasikan kepada generasi millenial.

Mus Mulyadi mengatakan, lagu-lagu ini dirilis saat ia masih berumur sekitar 20an tahun. Meski bukan menjadi hal yang mewah, mendengarkan lagu pada zaman itu terbilang agak sulit karena minimnya media yang ada.

"Waktu saya muda, kadang-kadang kalau sedang berkumpul bersama teman-teman, kami mendengarkan musik. Lagu seperti Sepasang Mata Bola itu sangat populer, jadi diputar di radio. Dulu kan belum begitu banyak yang punya televisi," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.



Mus Mulyadi pun berharap masyarakat Indonesia mau menghargai musik-musik karya anak bangsa, meski saat ini industri musik lokal diserbu dengan lagu-lagu dari Amerika, Inggris, Korea Selatan, Jepang, dan negara lainnya.

"Mudah-mudahan masyarakat Indonesia sedikit banyak menghargai musik-musik kita sendiri. Jangan lagu Barat saja. Apalagi yang lagu-lagu lawas juga enak-enak kok. Banyak yang sudah berhasil diperbarui dan diaransemen ulang dengan model masa kini," katanya.


Berikut ada lima lagu abadi pada masa perjuangan setelah kemerdekaan yang direkomendasikan oleh Mus Mulyadi:

1. Kebyar-Kebyar (Gombloh)
Ini merupakan salah satu lagu di album musik karya Lemon Tree's Anno '69 dan menjadi album terlaris dari semua album grup musik yang dimotori Gombloh. Lagu yang dirilis dan diedarkan oleh Golden Hand Record pada 1979 ini pun menjadi ciri khas Gombloh.

Selain diaransemen ulang oleh musisi lokal seperti Cokelat dan Anggun, band rock elektronik asal Inggris Arkarna pun merilis Kebyar-Kebyar pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 lalu.

2. Aryati (Ismail Marzuki)
Aryati adalah lagu tertua dibanding kelima rekomendasi Mus Mulyadi. Ismail Marzuki membuat lagu ini pada 1939. Pada masa itu, ia gemar menelurkan lagu-lagu yang bertema percintaan yang disukai masyarakat. Namun, memasuki masa kemerdekaan, ia mulai membuat banyak tembang bertema perjuangan bangsa yang mampu membakar semangat. Ia pun mendapat gelar pahlawan karena hal itu.

3. Sepasang Mata Bola (Ismail Marzuki)
Lagu yang diciptakan Ismail Marzuki pada 1946 ini menjadi 'lagu wajib' bagi para pemuda di masa pascakemerdekaan. Muda-mudi biasanya mendengarkan lagu ini melalui siaran radio.

Sepasang Mata Bola bercerita tentang seorang perwira dari Jakarta yang tak sengaja bertemu dengan seorang gadis di Yogyakarta saat ia mau bertugas menumpas para penjajah Belanda di kota itu.

4. Badai Pasti Berlalu (Chrisye)
Lagu hit ini merupakan bagian dari album soundtrack untuk film Badai Pasti Berlalu (1977) yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo. Lagu ini diciptakan oleh Eros Djarot dan Yockie Soerjoprajogo.

5. Sepanjang Jalan Kenangan (Tetty Kadi)
Mungkin tak sedikit generasi millenial yang pernah mendengarkan lagu ini dalam sebuah kesempatan tertentu. Penyanyi solo wanita Tetty Kadi pertama kali menyanyikan lagu ini pada 1960an. Ia merekam lagu karangan A.Riyanto itu bersama Phillip Comp.

Rekaman pertama Sepanjang Jalan Kenangan beredar pada 1966 dengan iringan band Zaenal Combo. Lagu ini kemudian dinyanyikan kembali oleh Broery Pesulima.

(res/res)