Alasan Tak Ada Lagu seperti 'Baby Shark' di Indonesia

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 24/06/2018 10:11 WIB
Alasan Tak Ada Lagu seperti 'Baby Shark' di Indonesia Ilustrasi: Lagu anak mengalami penurunan jika dibandingkan beberapa dekade lalu. (CNN Indonesia/Timothy Loen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagu anak saat ini mengalami penurunan di segi kuantitas jika dibandingkan beberapa dekade lalu. Anak-anak masa kini seakan kurang mendapat asupan karya musik lokal yang sesuai dengan usia mereka.

Kurangnya lagu anak di Indonesia menyebabkan generasi cilik beralih mencari dan mendengarkan musik yang tak sesuai dengan usia mereka. Selain itu, lagu ciptaan musisi asing mereka jadikan alternatif untuk bernyanyi, meski sebagian besar dari mereka mungkin tak mengerti arti liriknya.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri, memaparkan sejumlah alasan yang menjadi pemicu minimnya produksi lagu anak yang berkualitas baik dari sudut pendidikan maupun yang bernilai budaya Indonesia saat ini.



Poppy menyebutkan bahwa dari 12 sampai 15 perusahaan rekaman yang berbisnis, hanya beberapa yang masih memproduksi lagu anak. Hal itu, menurutnya, disebabkan oleh ekosistem musik anak yang sudah tak lagi kondusif.

"Karena ekosistem industri nyanyian anak-anak sudah tidak kondusif lagi. Jadi saat ini terjadi kekurangan lagu, kekurangan penyanyi, juga kurangnya minat konsumen, [ini semua] merupakan akibat dari tidak kondusifnya ekosistem yang dimaksud," ujarnya kepada CNNIndonesia.com via pesan singkat beberapa waktu lalu.

Akibat selanjutnya, imbuh Poppy, tak ada rangsangan untuk para penulis lagu dalam melahirkan tembang anak-anak yang bermutu, enak didengar meski diputar berulang, dan gampang diingat. Padahal, menurutnya, itu merupakan syarat-syarat agar bisa sesuai dengan semangat motorik anak-anak.


"Dan yang paling penting bernilai edukasi sekaligus ekonomi. Lagu Baby Shark misalnya, bukan tercipta begitu saja dari langit, dia tercipta dan terdistribusikan oleh ekosistem yang kondusif di luar negeri," katanya, merujuk lagu Baby Shark buatan musisi Korea Selatan yang sempat viral beberapa bulan belakangan.

Hal itu, menurut Poppy, diperparah dengan tidak adanya acara atau program yang berkesinambungan yang dapat memberi stimulus minat, baik dari pelaku, produsen, maupun konsumen untuk memajukan lagu anak.

"Beberapa usaha telah dilakukan untuk membangkitkan kembali industri lagu anak, namun dampaknya masih minim," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Poppy juga menyebut terjadinya digitalisasi dalam dunia musik menjadi pisau bermata dua bagi perkembangan lagu anak masa kini. Ia berpandangan bahwa hal ini bisa menyebabkan kemunculan beberapa platform baru di dunia musik, seperti Youtube, yang bisa diakses siapa saja dan kapan saja.

"Di satu sisi hal ini bisa menjadi alternatif dalam dunia industri musik, di sisi yang lain memberi akses kepada anak-anak kita untuk mengakses konten-konten yang tak terbatas dan tak terkontrol. Apa yang mereka lihat kemudian mereka serap apa adanya dan mereka nyanyikan kembali," katanya.

Melengkapi paparan Poppy, profesor musik dan komposer handal Tjut Nyak Deviana Daudsjah menilai sebenarnya saat ini cukup banyak musisi yang gencar dan sering mempromosikan lagu anak. Namun, upaya mereka kurang didukung oleh media yang selama ini lebih mengejar rating daripada unsur pendidikan.


"Bukan kualitas yang dipikirkan [media], tapi rating karena yang mereka kejar uang. Sementara, bangsa Indonesia belum sadar bahwa uang itu bisa lebih banyak dihasilkan apabila kita kreatif dan positif," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Stasiun televisi dinilai Deviana hampir tak memberi ruang untuk memamerkan lagu anak yang sudah ada. Jika ada ruang pun, ucapnya, biasanya berbentuk kontes bernyanyi yang melibatkan peserta anak-anak. Padahal, menurutnya, acara seperti ini amat kurang mengekspos unsur pendidikannya.

"Setiap ada kontes itu unsur pendidikan tidak di-highlight, selalu cuma hura-hura saja. Itu sebabnya mereka cepat tenggelam. Kalau ada bobot pendidikannya, saya kasih contoh, kalau juri-jurinya sendiri adalah musisi-musisi yang dulu kuliah, sarjana musik dan mengerti tentang pendidikan pedagogi, kompeten, saya yakin kok itu bisa berjalan terus," katanya.


Lebih jauh, Deviana pun tak setuju dengan bagaimana para orangtua mendorong anak-anaknya untuk berkompetisi di kontes seperti itu. Ia menilai hal itu bisa membuat anak yang masih belia terbiasa untuk bersaing dan memicu gelombang euforia orangtua dalam memaksakan anak kecilnya untuk menjadi selebritas cilik secara instan.

Padahal, Deviana menggarisbawahi bahwa salah satu poin terpenting dalam upaya menyuburkan kembali lagu anak adalah menggugah kesadaran para orangtua masa kini mengenai betapa pentingnya lagu anak untuk pendidikan.

Poin ini pun disampaikan oleh psikolog anak Erfiane Cicillia. Orangtua zaman sekarang cenderung memperkenalkan lagu-lagu yang kekinian kepada anaknya, alih-alih lagu yang sesuai dengan usia anak mereka, karena menganggap lagu tersebut keren.


Berdasarkan pantauan Erfiane selama ini, di beberapa tempat les vokal dan karaoke, anak-anak lebih memilih untuk menyanyikan lagu-lagu orang dewasa karena menganggap tembang itu sulit, sehingga merasa hebat jika bisa melantunkannya dengan baik.

"Kemudian anak-anak sekarang sudah bisa pakai gadget. Nah di gadget itu kan lagu-lagu yang ditampilkan dan dianggap hit adalah lagu-lagu Grammy," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Ia menambahkan, "Sementara mereka kan sedang pembentukan diri, di mana mereka ingin diakui dan dianggap keren dan update kalau mereka tahu lagu-lagu itu. Kalau orang dewasa kan terserah mau lagu Ebiet atau Koes Plus, orang lain tidak suka ya terserah. Tapi kalo anak-anak kan kalau orang lain tidak suka, dia akan berusaha supaya orang lain suka." (res)