Tiga Puan NonaRia Racik Pelecehan Seksual Jadi Karya

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 27/06/2018 14:36 WIB
NonaRia tengah menyiapkan album kedua, yang tema lagu-lagunya bakal diangkat dari fenomena sosial, seperti pelecehan seksual yang pernah mereka alami sendiri. NonaRia tengah menyiapkan album kedua. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grup NonaRia sukses merilis album dengan nama mereka sendiri pada Januari lalu. Album itu berisikan delapan lagu dengan lirik-lirik yang bertemakan keseharian yang sederhana.

Kini band yang digawangi tiga perempuan itu tengah menyiapkan album kedua. Pemain biola mereka, Yashinta Pattiasina menjelaskan, lagu-lagu dalam album itu bakal mengambil inspirsi dari fenomena sosial. Salah satunya tentang pelecehan seksual terhadap perempuan.

"Itu tema yang berat," kata Yashinta saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com.



Yashinta mengakui, ia sendiri pernah mengalami pelecehan seksual, saat tergabung dalam salah satu grup orkestra di Jakarta. Sepanjang latihan sebelum tampil, seorang personel laki-laki mendekatinya dengan cara yang kurang baik. Itu masih dibiarkan.

Ketika tampil, personel yang tak disebut namanya oleh Yashinta itu berusaha menginjak rok panjangnya. Yashinta pun melawan dan melaporkan kejadian tersebut ke manajemen orkestra.

"Saya bilang enggak mau main kalau ada orang itu, karena mengancam keselamatan saya. Itu lumayan traumatis dan sampai mimpi buruk tiga hari ke depan," kata Yashinta.


Dari pengalaman itu Yashinta belajar bahwa pelecehan dalam bentuk apa pun harus dilawan, walau seringnya korban merasa takut ketika dilecehkan.

Vokalis Nesia Ardi juga pernah mengalami pelecehan seksual, namun enggak menjelaskannya lebih lanjut. Begitu pula dengan pianis Nanin Wardhani.

"Paling enggak dari kebiasaan kecil, kadang cowok kalau melihat cewe suka dipanggil-panggil (catcalling). Itu udah pelecehan," kata Nanin.


Isu-isu pelecehan semacam itu akan diracik menjadi lagu khas NonaRia, yang liriknya sederhana dan mudah dipahami, tapi enak di kuping karena dibalut musik jazz swing, oleh tiga puannya. Soal karakter musik, mereka tidak membuatnya berbeda dari album pertama.

"Mungkin kami bungkus dengan bahasa kita, jangan terlalu gelap," kata Yashinta. (rsa)