Ulasan Konser

Sisi Lain Indra Lesmana yang Terinspirasi Erupsi Gunung Agung

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 28/06/2018 16:27 WIB
Sisi Lain Indra Lesmana yang Terinspirasi Erupsi Gunung Agung Indra membuat proyek musik yang tidak beraliran jazz. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berangsur-angsur pengunjung memadati gedung Lemmon ID, Jakarta Selatan, Rabu (27/6) malam tadi. Sebagian dari mereka merupakan musisi kenamaan Indonesis seperti Dewa Budjana, Gusty Hendy dan Brian Kresna Putro. Mereka menanti penampilan Indra Lesmana Project (ILP).

Setelah merilis mini album bertajuk Sacred Geometry bulan lalu, ILP pun percaya diri menggelar showcase. Tak hanya di Jakarta, mereka juga tampil di Surabaya, Minggu (30/6).

Di Jakarta, pintu ruangan konser dibuka sekitar pukul 19.45 WIB. Pengunjung yang sudah mengantre pun masuk satu per satu. Ruangan masih gelap. Dinding dan atap ruangan hitam.



Bersamaan dengan tata cahaya panggung yang menyala menerangi ruangan, Indra Lesmana (kibor), Shadu Shah (bas), Karis (gitar), Ray Syarif (gitar), Hata Arysatya (drum) dan Togar (vokal) naik pentas. Tanpa basa-basi ILP langsung memainkan lagu Awakening.

Belum banyak penonton yang terlihat menganggukkan kepala atau bergoyang mengikuti alunan musik di awal konser. Apalagi lagu pertama hanya berisikan permainan intrumental alat musik, tidak mengandung lirik. Itu seakan 'jembatan' untuk memahami sisi lain Indra.

Sebab kali ini Indra tak memainkan musik jazz, melainkan progressive rock.

[Gambas:Instagram]

Suasana baru mulai panas ketika ILP memainkan lagu Acknowledge. Banyak pengunjung yang menganggukkan kepala dan bertepuk tangan di beberapa bagian. Lagu itu makin 'menggertak' dengan suara Togar yang mampu meraih nada-nada tinggi dan panjang.

Aksi panggung Togar pun sangat aktif. Suaranya tetap stabil meski ia mondar-mandir di panggung, bahkan melakukan headbanging. Dari satu lagu ke lagu lain pun transisinya tak cukup lama, tapi kestabilan suara tetap terjaga. Setelah Acension yang akhir Mei lalu video klipnya dirilis lewat YouTube, Acception yang durasinya 11 menit dibawakan.

[Gambas:Youtube]

Di sela-sela aksi panggung yang penuh semangat itu, Indra bercerita bagaimana ILP terbentuk. Ia menjelaskan, ide pembentukan band itu muncul pada September 2017 lalu, ketika Gunung Agung meletus. Kala itu ia terpikir soal suara-suara distorsi.

"Saya audisi lewat Instagram, sampai akhirnya bertemu dengan mereka ini," kata Indra.

Indra bisa dibilang berhasil membuat band beraliran progressive rock yang baik. Meski malam tadi adalah pertama kalinya mereka manggung di depan hadapan pengunjung, aksi mereka terasa rapi. Indra sepertinya serius membesut ILP, bukan sekadar 'pelarian' dari jazz.

[Gambas:Instagram]

Sayang, di sela-sela showcase itu ada penampilan solo Hata dan Shadu yang dirasa tidak perlu. Kemungkinan besar itu dilakukan hanya untuk memperpajang durasi konser, mengigat ILP memang baru merilis empat lagu, dengan total durasi sekitar 29 menit.

Padahal durasi yang singkat tapi penampilan berkualitas, sudah bisa memuaskan pengunjung.

(rsa)