Ulasan Film: 'Kulari ke Pantai'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 29/06/2018 15:44 WIB
Ulasan Film: 'Kulari ke Pantai' 'Kulari ke Pantai' bisa bangkitkan film anak-anak Indonesia. (Miles Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konon, untuk mengenal sifat asli seseorang, berlibur bersama merupakan jawabannya. 'Kepercayaan' itu pun menjadi bagian dari kisah dalam film anak, Kulari ke Pantai.

Cerita ini berangkat dari hubungan dua sepupu, Sam dan Happy yang bersitegang karena perbedaan diri mereka. Sam (diperankan Maisha Kanna) merupakan bocah 10 tahun yang besar di kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur dan begitu mencintai alam serta selancar.

Sementara Happy (Lil'li Latisha), tumbuh di ibukota Jakarta dan keranjingan dengan media sosial. Dia pun melihat sepupunya sebagai bocah kampung yang ketinggalan zaman.



Mengetahui sikap Happy yang angkuh, sang ibunda, Kirana (diperankan Karina Suwandi) mencoba mengakurkannya kembali dengan Sam. Dia pun meminta izin pada ibunda Sam, Uci (Marsha Timothy) agar Happy dapat ikut mereka pergi berlibur ke timur Pulau Jawa.

Harapannya, Happy dan Sam bisa saling menghargai satu sama lain. Namun, perbedaan itu ternyata juga membuat perjalanan darat dengan mobil ke Jawa menjadi penuh tantangan.

Usai genre horor mendominasi layar film Indonesia selama libur Lebaran kemarin, kehadiran Kulari ke Pantai menjadi sebuah penyegaran. Tidak hanya sarat akan pesan moral, film keluarga dan anak ini menuturkan kisah kehidupan dengan sangat manis dan menghangatkan.


Dua bocah bintang utamanya seolah menjadi cermin kehidupan masa kini. Sosok mungil mereka mengajak penonton belajar memahami dan menerima satu sama lain. Saling peduli dan menghargai pun menjadi bagian kuat dari kisah film yang diarahkan sutradara Riri Riza ini.

Meski pendatang baru, Maisha dan Lil'li mampu berperan dengan begitu natural. Karakter keduanya pun sama-sama kuat dan menonjol untuk menjadi bintang utama di sebuah film anak. Alhasil, mereka sukses menyampaikan pesan dengan baik, tanpa terkesan menggurui.

Ikatan emosi yang dibawakan Marsha Timothy sebagai ibu yang mengasuh dua anak dengan sifat berbeda sepanjang perjalanan sejauh 1000 kilometer, pun patut diacungi jempol. Itu bukan peran mudah, namun ia bisa menjalaninya dengan natural, bahkan bisa mencapai tujuan.

Cuplikan film 'Kulari ke Pantai.'Cuplikan film 'Kulari ke Pantai.' (Miles Films)
Ditambah lagi, konteks dan realita yang disuguhkan film itu relevan dengan masa kini.

Tak luput, kehadiran bintang-bintang pendukung turut melengkapi manisnya kisah Kulari ke Pantai, sesuai porsinya. Di antaranya kehadiran Suku Dani yang berperan sebagai dirinya sendiri, seorang pelancong dan peselancar Amerika yang tumbuh dan besar di Papua.

Kemunculannya cukup mencuri perhatian dan memancing gelak tawa.


Di samping begitu banyaknya pelajaran kehidupan, Kulari ke Pantai juga memanjakan mata dengan suguhan keindahan alam Indonesia yang luar biasa. Sinematografinya terasa nyata.

Dari persawahan di Temanggung, birunya laut di Pacitan dan Pulau Rote, hingga kala matahari terbit di Gunung Bromo.

Belum lagi, iringan musik dan lagu tema yang terasa tepat dan menambah kehangatan cerita.

'Kulari ke Pantai' berawal dari cerita dua sepupu yang tak akur.'Kulari ke Pantai' berawal dari cerita dua sepupu yang tak akur. (Miles Films)
Secara keseluruhan, duet maut antara Riri Riza dan Mira Lesmana berhasil kembali membangkitkan film anak. Dengan cerita yang ditulis oleh Gina S Noer, Arie Kriting, serta Riri dan Mira sendiri, Kulari ke Pantai menjadi film yang mampu membukakan mata para orang tua serta anak-anak yang menontonnya serta menghangatkan hati mereka dengan kisahnya.

Kulari ke Pantai patut dinikmati bersama keluarga selama liburan sekolah tahun ini.

'Kulari ke Pantai' menyuguhkan keindahan alam Indonesia.'Kulari ke Pantai' menyuguhkan keindahan alam Indonesia. (Miles Films)
(rsa)