Kala 'Selebgram' Jadi Cita-cita Baru Remaja

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Sabtu, 14 Jul 2018 09:43 WIB
Media sosial kini bukan lagi hanya sekadar wadah bersosialisasi, tapi juga ladang uang sekaligus pendulang pengikut alias follower. Media sosial kini bukan lagi hanya sekadar wadah bersosialisasi, tapi juga mendulang pengikut dan juga keuntungan dari 'follower'. (AFP PHOTO / JUAN MABROMATA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Media sosial kini bukan lagi hanya sekadar wadah berkomunikasi dan berinteraksi. Seiring dengan perkembangannya, media sosial ternyata mampu menciptakan sosok-sosok dengan pengikut ratusan ribu hingga jutaan orang.

Fenomena kemunculan selebritas media sosial mungkin bisa dirunut sejak memasuki milenium baru, era di mana generasi Z adalah penduduknya dan internet adalah 'sumber kehidupan'.

Di awal era milenium, platform media sosial seperti YouTube hanya berniat sebagai wadah saling berbagi video. Namun siapa sangka sejak dirilis pertama kali di California pada 2005, YouTube kini bak stasiun televisi raksasa, lintas negara, lintas benua.

Salah satu dampak kemunculan YouTube adalah Justin Bieber. Bocah asal Ontario itu tadinya hanya anak lelaki yang gemar mengikuti kontes menyanyi di daerahnya.

Tapi sang ibunda, Patricia Mallette tak tahan untuk membagikan kebanggaannya kepada dunia. Ia mengunggah video Justin bernyanyi, dan itu adalah awal perubahan hidup si bocah.

Kini, platform digital tersebut memiliki lebih dari satu miliar pengguna di dunia, sepertujuh dari populasi manusia di Bumi. Lalu YouTube diakses oleh mereka yang berusia 18 hingga 34 tahun, generasi Y dan Z.

Dalam waktu yang sama ketika YouTube rilis, media sosial Facebook dan Twitter juga menginvasi dunia maya. Mereka adalah pionir terciptanya netizen yang kini berceloteh nyaris tanpa henti.

Dari banyaknya netizen di Facebook dan Twitter itu, muncullah mereka yang diikuti oleh publik. Mereka diikuti karena keunikan, aktivitas, hingga gagasan atau tingkah mereka. Mereka dikenal sebagai selebtwit.

Kemunculan Instagram pada 2010 yang berbasis foto dan video singkat juga menjadi salah satu faktor munculnya seleb medsos. Contoh paling nyata dari aplikasi media sosial ini adalah Kim Kardashian yang sukses menemukan panggungnya di media sosial sejak 2011.

Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Banyak seleb medsos bermunculan, sebut saja selebtwit @amrazing yang terkenal akan petualangan wisata dan celotehannya, seleb Instagram alias selebgram Jovi Adhiguna Hunter atas padu-padannya dalam mode, hingga Arief Muhammad alias @pocongg yang juga punya banyak pengikut.

Namun tak semua seleb medsos ini terkenal akan karya. Sebagian juga karena kontroversi dan pergunjingan di masyarakat. Beberapa nama di antara mereka ada Awkarin yang muncul pada 2016, atau Bowo Alpenliebe dan Nurraini yang mengaku sebagai istri sah penyanyi Iqbaal Ramadhan.

Dengan kemunculan banyaknya anak muda di kisaran generasi Z berlomba-lomba menjadi seleb medsos menimbulkan pertanyaan sebab apa yang membuat mereka beralih dari anak muda yang notabenenya adalah pelajar menjadi selebriti.

"Kalau kita tanya anak sekarang, banyak anak yang cita-citanya ingin jadi selebgram. [Mereka menganggap] ternyata [menjadi selebgram] cepat terkenal dan uangnya banyak," kata Ajeng Raviando, psikolog.

"Hal-hal yang seperti ini membuat keinginan untuk bisa jadi orang sukses dengan waktu singkat semakin besar," lanjutnya.

Terlepas dari bergelimangnya lini masa para selebritas medsos, ada banyak duka yang tak diketahui oleh para pengikutnya.

"Saya jadi kehilangan ruang privat karena ada beberapa followers yang merasa berhak untuk ingin tahu kehidupan pribadi saya. Waktu luang bersama keluarga dan sahabat pun jadi berkurang," kata selebgram Gita Savitri.

Atau, yang baru-baru ini terjadi, menjadi sasaran bullying seperti yang dialami oleh Bowo Alpenliebe. Ia menjadi sasaran emosi kekecewaan penggemarnya sendiri, yang seumuran dengan dirinya, yang kecewa bahwa Bowo tak setampan yang dikira.

Terlepas dari fenomena kemunculan seleb media sosial, peran orang tua menjadi amat krusial untuk memahamkan generasi Z ini bahwa kehidupan butuh proses juga perjuangan, termasuk bila mendadak menjadi pusat perhatian netizen.

CNNIndonesia.com mencoba membuka sedikit dari dunia seleb medsos yang biasa diikuti oleh netizen dalam fokus 'Seleb Medsos, Pesohor ala Gen Z' kali ini. Sebagian menyenangkan, sebagiannya lagi penuh drama, namun mereka mengajarkan bahwa menjadi pusat perhatian generasi pengguna Internet tidaklah mudah.

"Dampak jangka panjangnya bisa positif atau pun negatif tergantung bagaimana rekam jejak digital anak di media sosial. JIka positif, tentu akan membanggakan dan membuat anak jadi percaya diri. Tapi di Indonesia ini, suatu yang positif pun pasti akan ada haters-nya, maka menyiapkan anak untuk menghadapi hal tersebut menjadi penting," kata Vera Itabiliana, psikolog. (end/end)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER