Di Balik 'Skill Is Dead, Let's Rock' Teenage Death Star

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 13:54 WIB
Di Balik 'Skill Is Dead, Let's Rock' Teenage Death Star Teenage Death Star punya filosofi unik di balik 'skill is dead, let's rock.' (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Skill Is Dead, Let's Rock'

Slogan itu digaungkan band asal Bandung, Teenage Death Star (TDS) yang terbentuk pada 2002 silam. Lewat slogan itu, mereka ingin menyatakan bahwa kemampuan bermain instrumen bukan hal utama dalam karier musik. Meski terdengar bercanda, TDS sendiri sudah membuktikannya.

Vokalis Dandi Achmad Ramdani alias Sir Dandy alias Achong mengatakan, pembentukan TDS didasari keinginan setiap personel untuk bersang-senang. Bila tidak berhasil menghibur orang lain, setidaknya menghibur diri sendiri.


Ia merasa, TDS yang saat ini dihuni Achong, drumer Firman Zaenudin, gitaris Alvin Yunata, basis Satria Nurbambang alias Iyo dan gitaris Helvi Sjarifudin memiliki kemampuan biasa saja. Tapi hal itu tidak menghalangi niat mereka untuk serius bermusik.

"Kami bikin band tanpa memikirkan skill, yang penting pegang alat musik. Manggung pertama enggak pakai lirik, semua mainkan instrumen saya hanya teriak-teriak," kata Achong saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Menurut Achong pekerja kreatif membutuhkan simbol yang bisa menyampaikan ide dan sikap secara sederhana. Kala itu ia dan rekan-rekan di TDS pun berpikir bagaimana cara paling mudah menyampaikan pesan pada pendengar bahwa mereka ada.

"Kami mikir apa yang gampang dan akhirnya keluar slogan itu. Pada realitanya memang juga kami begitu," kata Achong sambil tertawa.

TDS bahkan punya lagu yang hanya berisi tawa. Itu adalah I Don't Know What is Right Anymore yang terdapat dalam album perdana bertajuk Longway to Nowhere (2008).

Alvin menjelaskan, lagu itu memiliki makna yang sangat dalam. Menurutnya semua personel TDS memang tidak mengetahui lagi mana yang benar dalam konteks memainkan alat musik.

Posisi jari yang membentuk chord G pada gitar misalnya, kata Alvin, belum tentu benar-benar kunci G. Ia mempertanyakan siapa yang pertama kali menjelaskan kunci G, lalu diajarkan kepada semua orang, terutama lewat sekolah musik.

"Menurut gua sekolah musik itu pembodohan yah. Diajarkan chord A, C dan D, Itu doktrinasi," kata Alvin.

Meski mengaku tak tahu mana yang benar dan salah, seiring waktu TDS semakin sering manggung di berbagai acara musik. Mereka masuk album kompilasi JKT: SKRG (2004) bersama Seringai, White Shoes and The Couples Company, The Upstairs, Sore dan The Adams hingga semakin terkenal.

Bahkan I've Got Johnny In My Head digunakan untuk lagu latar film Janji Joni (2005). Sementara Absolute Beginner Terror digunakan untuk lagu latar film Catatan Akhir Sekolah (2005).

Semua hal di atas ternyata tidak menjamin kemampuan personel TDS. Alvin sendiri merasa kemampuannya memainkan alat musik tidak berkembang.

"Orang bilang umur bertambah skill juga bertambah. Tapi kalau mau ngukur skill liat aja dari album, ada yang baru apa enggak," kata Achong sambil tertawa.

Sampai saat ini TDS memang baru memiliki satu album. Mereka sebenarnya sempat merilis album kedua bertajuk The Backyard Tapes - Early Years 88-91 (2010) yang direkam live dan berisikan materi eksperimental. Namun TDS sepakat tidak menyebut itu sebagai album kedua.

"Tapi dengan skill seperti ini seperti ini kami besyukur," kata Achong.

Penampilan Teenage Death Star nan berisik bisa disaksikan di CNNIndonesia.com Music at Newsroom yang tayang Rabu (25/7) pukul 14.00 hingga 15.00 WIB atau di sini. (rsa)