Analisis

AMI Awards, 'Basa-Basi' Ajang Penghargaan Musik Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 18:55 WIB
AMI Awards, 'Basa-Basi' Ajang Penghargaan Musik Indonesia Sebagai ajang penghargaan musik tertinggi di Indonesia, banyak harapan disematkan di AMI Awards. Sejauh apa mereka berhasil memenuhinya? (Foto: CNN Indonesia/Natasya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak banyak ajang penghargaan untuk para pelaku industri musik di Indonesia. AMI, singkatan dari Anugerah Musik Indonesia adalah salah satu dari sangat sedikit pilihan yang ada, baru selesai dihelat pada Rabu malam (26/9).

Para pemenang telah diumumkan dari 48 kategori. AMI Awards 2018 sendiri bisa disaksikan secara langsung di televisi. Menghadirkan puluhan penghibur dan aksi kolaborasi, seharusnya AMI bisa menjadi standar musik Indonesia, terutama karena sebenarnya Indonesia tidak pernah kekurangan talenta.

Sayangnya, di 21 tahun usia AMI Awards yang 'lahir' pada 1997 silam atas prakarsa Tantowi Yahya, hal itu belum juga terwujud. Yang terjadi justru sebaliknya, pagelaran ini mengundang banyak tanya dan kritik.


Bukan hanya kemasan acara yang terlihat mentah, para nomine yang naik panggung untuk membacakan pemenang pun seolah tidak mendapat cukup pengarahan mengenai apa yang harus dikatakan atau dilakukan karena terlihat tidak siap.


Pun dengan kualitas audio panggung tak seimbang, yang jelas terlihat dalam sesi penampilan Arsy Widianto feat Brisia Jodie - Isyana Sarasvati, Afgan, Rendy Pandugo - Marion Jola feat Rayi Putra. Akibatnya, tak terasa kemewahan ala ajang penghargaan tertinggi Indonesia, malah mengingatkan pada acara hura-hura berbalut musik yang kerap tayang televisi di pagi hari.

Di situs resmi AMI, mereka menulis 'akan selalu menjaga komitmen untuk selalu independen, kredibel dan prestisius'.

Menarik menyadari mudahnya menebak siapa pemenang dari tiap-tiap kategori. Adanya nama-nama baru dari ranah yang sering disebut indie seperti Ramengvrl, NonaRia sampai Rayssa Dynta dan Reality Club tentu menyegarkan dan merupakan upaya yang harus dihargai.

[Gambas:Youtube]

Tetapi justru di titik tertentu, beberapa hal jadi serba bias. Misalnya, dari kategori Pendatang Baru Terbaik Terbaik dengan nominator Bam Mastro, Marion Jola, Monica Karina, NonaRia, Ramengvrl, Rayssa Dynta dan Reality Club.

Marion keluar sebagai pemenang berkat lagu kolaborasinya bersama Rayi Putra dalam Jangan, sedikit kehabisan nafas dan banyak mendesah di atas panggung. Track tersebut baru dirilis pada awal Juni di layanan musik berbayar, sementara video musiknya keluar di pertengahan bulan yang sama di YouTube. Dan sampai AMI Awards digelar semalam, Jangan adalah satu-satunya karya Marion di periode pendaftaran AMI.

[Gambas:Youtube]


Dengan catatan, Jangan tidak ditulis oleh Marion. Single bergaya RnB itu dilahirkan oleh Laleilmanino, trio yang belakangan ini karya-karyanya sedang laris-manis dibawakan oleh penyanyi-penyanyi lain.

Kondisi berbeda dialami oleh Ramengvrl contohnya, yang terlibat secara pribadi dalam proses penulisan lirik, aransemen lagu dan video audio Go! (I Can Be Your).

Nama Agnez Mo yang muncul di kategori Artis Solo Pria/Wanita R&B Terbaik juga cukup mengusik. Track Long As I Get Paid dipublikasikan pada September 2017, diambil dari album X yang rilis sebulan setelahnya. Tak jelas mengapa bukan Damn I Love You yang secara musikalitas lebih kental rasa RnB-nya dibandingkan Long As I Get Paid, yang masuk dalam nominasi itu.

Hal tersebut mengingatkan kepada Rich Brian, rapper Indonesia yang sama-sama telah merilis album internasional. Bedanya, Rich Brian tidak masuk nominasi Karya Produksi Rap/HipHop Terbaik di antara A Nayaka, Dipha Barus, Ramengvrl, dan Rayi Putra yang baru-baru ini kerap berkutat di ranah hip-hop.

[Gambas:Youtube]

Selanjutnya yang terjadi AMI Awards adalah semacam pengulangan, pola yang bisa dibaca, seperti pemenang yang berasal dari ajang pencarian bakat atau dinaungi label yang sama.

Belum lagi masalah waktu pelaksanaan yang juga mengundang tanya. Acara dimulai pada sekitar pukul 21.30 WIB, lewat dari prime time televisi. Padahal jika memang menyasar ke banyaknya pentonton, maka pemilihan waktu tayang di prime time biasanya menjadi pertimbangan.

Kesan akhirnya, nama-nama yang tadinya menyegarkan daftar nominasi jadi terasa sia-sia, anti-klimaks tak terjelaskan yang membuat penonton menghela nafas dalam-dalam sebelum kembali mematikan televisi.

Setelah 20 tahun lebih, ada harapan lebih melihat daftar nominasi AMI Awards dalam beberapa tahun terakhir ini, setelah sebelumnya didominasi nama itu-itu saja. Masih ada waktu untuk perubahan, semoga apa yang tampak berbeda sekarang bukan basa-basi semata. (adp/rea)