Muslihat Liuk Lele dan Ngejreng Spanduk Pecel Lamongan

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 12:40 WIB
Muslihat Liuk Lele dan Ngejreng Spanduk Pecel Lamongan Ada alasan tertentu mengapa spanduk pecel Lamongan menyantumkan ayam jago dan lele yang meliuk indah. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang yang suka berburu makanan kaki lima pasti tak asing warung makan pecel lele yang diselimuti spanduk. Pada spanduk biasanya terdapat tulisan dan gambar hewan dengan warna yang cerah, seperti warna merah, hijau muda, oranye muda dan bahkan jambon.

Bukan hanya di Jakarta, spanduk dengan gaya seperti itu menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Walau dibuat oleh orang yang berbeda, spanduk pecel selalu memiliki gaya yang sama.

Adalah Lamongan, salah satu kabupaten di Jawa Timur, yang menjadi tempat kelahiran spanduk tersebut. Orang Lamongan senantiasa berjualan dengan spanduk dan membawa tradisi itu saat merantau ke berbagai daerah.


Pelukis spanduk pecel lele Lamongan, Hartono (49), mengatakan spanduk pecel lele memiliki gaya yang sama walau dibuat orang yang berbeda. Dua unsur yang tak pernah lepas dari spanduk adalah warna cerah dan gambar hewan.

Mari membahas gambar hewan terlebih dahulu. Har, sapaan karib Hartono, menjelaskan gambar hewan disesuaikan dengan menu makanan. Pedagang akan menyajikan lele bila pada spanduk terdapat gambar lele, akan menyajikan ayam bila terdapat gambar ayam.

Uniknya, hewan tersebut digambar dengan pose bak model di sampul majalah. Lele misalnya, tubuh lele sering kali digambarkan meliuk. Pada lekukan tubuh lele digradasi dengan warna putih agar terlihat mengilat.

"Gambar lele dibuat seperti itu biar ada seninya dan menarik. Kalau boleh jujur, mana ada lele belok begitu," kata Har saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Pekayon, Bekasi, beberapa waktu lalu.

Pun begitu dengan gambar ayam. Pada spanduk selalu digambarkan ayam kampung atau yang biasa disebut ayam jago. Padahal pecel ayam yang disajikan merupakan ayam negeri alias ayam broiler.

Cetakan bentuk ayam dan lele milik Hartono.Cetakan bentuk ayam dan lele milik Hartono. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Ayam jago dipilih karena pada dunia nyata berwara dominan hitam dengan corak oranye, hijau dan merah. Warna itu dinilai menarik bila digambarkan pada kain putih. Sementara ayam negeri berwarna putih pulus, hanya jengger saja yang berwarna merah.

"Nilai senilah yang dijual pada spanduk ini. Kalau dibilang bohong ya pasti bohong, gambar ayam kampung yang dijual ayam negeri," ujar orang asli Lamongan ini.

Selain gambar hewan, warna cerah nan ngejreng juga menjadi unsur penting spanduk pecel lele Lamongan. Berbagai warna cerah dilukis dengan teknik gradasi sehingga terlihat kontras. Tujuannya hanya satu, menarik pembeli di malam hari.

Pedagang pecel tak peduli komposisi warna ngejreng spanduk bagus atau tidak. Bagi mereka yang penting warungnya terlihat terang di malam hari sehingga menarik pembeli.

Bahkan terkadang beberapa penjual meyorot spanduk dari belakang dengan lampu agar menyala.

Penjelasan Har serupa dengan penjelasan Trisno, pelukis spanduk pecel lele Lamongan yang tinggal di Serang, Banten. Ia beralih profesi menjadi pelukis spanduk sejak 2016 lalu, sebelumnya ia merupakan pedagang pecel.

Masih soal warna, Trisno menjelaskan banyak pedagang pecel yang meminta spanduk dilukis dari belakang agar terlihat bagus dari dalam warung. Padahal tanpa dilukis dari belakang, warna di bagian depan tetap tembus.

"Pedagang ini banyak yang ingin warnanya tetap sama dari depan atau belakang, karena banyak yang minta begitu akhirnya ini menjadi salah khas spanduk asal Lamongan," kata Trisno saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Trisno menyebut tak ada perbedaan berarti antar spanduk pecel Lamongan meski dibuat oleh orang yang berbeda. Mereka satu gaya, satu tipe.
Muslihat Liuk Lele dan Ngejreng Spanduk Pecel LamonganTrisno menyebut dulu sempat ada kesepakatan bahwa pelukis hanya boleh melayani orang Lamongan. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

Tapi tetap ada perbedaan yang lebih cenderung bersifat teknis, seperti bentuk hewan, jenis huruf yang digunakan, dan nama "pecel" yang menyesuaikan dengan daerah si pedagang berjualan. Contohnya, di Bali, "pecel" disebut dengan "lalapan".

"Perbedaan lain soal ukuran, kalau di luar Pulau Jawa ukuran spanduk bagian depan bisa sampai 10 meter atau lebih, dalam pulau Jawa hanya 5 meter," kata Trisno.


Hampir setiap pelanggan spanduk Trisno dari berbagai pulau merupakan orang asli Lamongan. Trisno menilai hal itu wajar karena memang banyak orang Lamongan yang merantau untuk berjualan pecel. Walau terkadang ditemukan ada pedagang yang bukan orang asli Lamongan.

Dulu, kata Trisno, seperti ada kesepakatan tidak tertulis antara pedagang pecel dan pelukis spanduk pecel. Mereka membuat kesepakatan bahwa pelukis tidak boleh membuatkan spanduk kecuali untuk orang Lamongan asli.

"Tujuan aturan itu supaya spanduk menjadi ciri dan identitas orang Lamongan. Tapi sejak tahun lalu saya sudah buatkan spanduk untuk yang bukan orang Lamongan," kata Trisno.

Baik Har atau Trisno tak merasa kesulitan membuat spanduk. Apa lagi, bahan spanduk seperti katun tetoron, cat sablon dan penguat cat (binder) mudah dicari. Mereka hanya perlu membuat pola huruf dan gambar hewan sesuai dengan cita rasa seni masing-masing.

Tonton juga video: Rahasia di Balik Spanduk Pecel Lamongan
[Gambas:Video CNN]
(end)