Tujuh Karya Sastra Bahasa Lokal Raih Anugerah Rancage 2018

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 27/09/2018 17:13 WIB
Tujuh Karya Sastra Bahasa Lokal Raih Anugerah Rancage 2018 Ilustrasi literasi. (Caio Resende/Pexels)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah krisis renjana masyarakat akan literasi lokal, segelintir sastrawan masih konsisten berjuang mempertahankan singgasana budaya lokal di tanah air sendiri.

Anugerah Sastra Rancagé kembali hadir tahun ini untuk mengapresiasi sosok di balik lestarinya sastra lokal di Indonesia pada Rabu (26/9), Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Terbagi menjadi enam kategori, acara penghargaan yang dimulai sejak 1989 ini mengelompokkan karya sastra berdasarkan bahasa daerah yang digunakan yakni Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, dan Banjar. Selain itu, ada satu penghargaan khusus bernama hadiah Samsudi untuk buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda.


Berikut nama tujuh sastrawan pemenang Anugerah Sastra Rancagé 2018.


Kategori Sastera Sunda- Nazarudin Azhar (Miang)

Kumpulan sajak Nazarudin Azhar bertajuk 'Miang' mampu mencuri perhatian juri di kategori Sastera Sunda. Dalam 70 sajaknya di buku ini, Nunu, panggilan akrab Nazarudin, mampu menuliskan sajak indah dan sarat makna mengenai topik yang tak biasa, yakni dunia agraris.

Sajak-sajaknya 'mengindahkan' segala proses dan detail yang ada di dunia agraris. Misalnya dengan mengibaratkan padi sebagai jelmaan tubuh Dewi Sri sehingga harus dihormati, menguraikan hubungan 'sakral' antara yang ditanam dan yang menanam, dan lain sebagainya.

Melalui sajaknya, Nunu teguh mengakar kepada tradisi Sunda Buhun atau kuno namun tak kehilangan konteks dengan dunia masa kini. Hal itu yang membuat buku terbitan Langgam Pustaka ini unggul dibandingkan 15 nominasi buku lainnya.


Kategori Sastera Jawa- Suharmono K. (Kakang Kawah Adi Ari-Ari)

Cerkak atau cerita pendek karya Suharmono K bertajuk Kakang Kawah Adi Ari-Ari mampu ungguli 21 karya berbahasa Jawa lainnya. Sejak beberapa tahun terakhir, pengarang berbahasa Jawa memang semakin tumbuh subur.

Karya-karya yang masuk dalam nominasi ini dianggap mampu menggunakan bahasa Jawa yang baik dan indah. Tutur bahasa naratif yang baik mampu menambah nilai tambah karya-karya pengarang berbahasa Jawa ini.

Kategori Sastera Bali- Nirguna (Bulan Sisi Kauh)

Menjadi satu-satunya prosa liris alias emosional yang terbit pada 2017 silam, Nirguna dengan Bulan Sisi Kauh (Bulan di Sisi Barat) mampu menjadi sebuah karya yang kuat, segar, dan orisinal.

44 prosa liris ini mengantarkan pembaca masuk ke dalam hutan kata-kata dan jembatan pencarian jati diri.

Tak hanya itu, estetika nilai filsafat yang dikaitkan dengan fenomena aktual mampu jadi kekuatan sakral karya satrawan dengan nama asli I Gede Agus Darma Putra.


Kategori Sastera Lampung- Muhammad Harya Ramdhoni (Semilau, Sang Rumpun Sajak)

Melalui 'Semilau, Sang Rumpun Sajak', M. Harya Ramdhoni mampu buktikan diri sebagai sastrawan multi-genre yang tak hanya mampu menulis prosa tetapi juga puisi.

Memuat 69 sajak, penulis roman Perempuan Penunggang Harimau ini berkisah mengenai legenda Sekala Brak (Skala Baka) yang digabungkan dengan pengalaman sosial dan personalnya.

Kategori Sastera Batak- Panusunan Simajuntak (Bangsa na Jugul Do Hami)

Dengan karya bertajuk 'Bangsa na Jugul Do Hami' (Kami yang Keras Kemauan), pembaca diajak berdendang rindu sekaligus merasa pilu atas tanah kelahiran penulis yang mulai 'merosot' di segala bidang.

Sebanyak 75 elegi (puisi ratapan) dari Panusunan Simajuntak dinilai mampu mewakili masyarakat Batak secara utuh, mulai dari pengangkatan masalah yang sedang terjadi di masyarakat Batak (Toba) hingga tajuk yang digunakan penulis dinilai mampu menjadi simpulan besar watak dasar masyarakat Batak.


Kategori Sastera Banjar- Hatmiati Masy'ud (Pilanggur)

Hatmiati Masy'ud dengan Pilanggur mampu mengangkat mitos yang hidup dan berkembang dalam masyarakat menjadi sebuah karya estetik.

Dalam masyarakat Banjar, kata pilanggur merujuk pada sebutan bagi perawan tua yang terkena kutukan akibat melanggar pantangan adat.

Tak hanya berkisah mengenai mitos perawan tua, sebelas cerpen lainnya di dalam buku ini juga angkat mitos yang kerap hadir di masyarakat Banjar.

Dengan menunjukkan sentuhan warna setempat dengan menggunakan mitos sebagai benang merahnya, Pilanggur mampu mengungguli buku sastra berbahasa Banjar lainnya.

Hadiah Samsudi- Tetti Hodijah (Ulin di Monumen)

Memuat 10 cerita pendek, Tetti Hodijah dengan 'Ulin di Monumen' mampu ceritakan kisah anak-anak dan lingkungannya sehari-hari. Tak hanya itu, kemahiran menyampaikan literasi budaya melalui bahasa yang sederhana mampu jadikan cerpen Tetti terasa istimewa.

Kreativitas penulis dalam pengandaian diri masuk ke dunia imajinasi anak-anak mampu jadikan cerpen-cerpen di dalamnya penuh dengan perumpamaan yang memudahkan anak-anak terhibur cerita serta memahami nilai pendidikan secara bersamaan. (dna/end)