Analisis

Menakar Orisinalitas Spanduk Pecel Lamongan

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 13:34 WIB
Menakar Orisinalitas Spanduk Pecel Lamongan Meski para pengrajin spanduk pecel Lamongan mengklaim bahwa gaya mereka adalah identitas asli, namun pakar komunikasi visual meragukannya. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Temaran lampu jalanan menyinari salah satu warung makan pecel lele di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Warna putih spanduk yang menyelimuti warung tampak kumal. Pun warna cerah pada tulisan dan gambar hewan memudar.

Meski kondisi tidak paripurna, spanduk itu tetap menarik bila diperhatikan secara mendalam, karena spanduk bergaya seperti itu hanya ada Indonesia. Bukan cuma di Jakarta, spanduk dengan gaya itu tersebar di berbagai daerah Indonesia dari Aceh sampai Papua.

Spanduk itu lahir dari Kabupaten Lamongan yang terletak di Jawa Timur. Belum ada pecel lele, dulu pedagang berjualan soto ayam atau yang biasa disebut soto Lamongan. Mereka melukis spanduk sendiri yang berfungsi sebagai penutup warung dan pemasaran.


Makanan pecel lele dan pecel ayam disebut baru muncul pada akhir era '70-an. Kemunculan dua menu itu menjadi salah satu titik perkembangan spanduk lukis. Spanduk yang sedianya bergambar soto bertambah gambar ayam dan lele.

Spanduk selalu dilukis dengan banyak warna cerah agar terlihat terang di malam hari. Para pedagang berpendapat spanduk yang cerah akan menarik pembeli, seperti laron yang tertarik cahaya pijar.

Seiring berjalannya waktu kualitas lukis spanduk semakin meningkat. Spanduk tersebut tersebar ke seluruh Indonesia karena orang Lamongan yang merantau berjualan pecel dan memakai spanduk seperti pedagang di kampungnya.

Persebaran yang masif membuat spanduk itu jadi identik khas Lamongan. Hal itu diklaim oleh pelukis spanduk, Trisno yang saat ini tinggal di Serang, Banten. Ia asli Lamongan dan merantau sejak 2009.

"Ya spanduk ini seperti identitas Lamongan. Salah satu khas spanduk pecel Lamongan itu dilukis," kata Trisno, beberapa waktu lalu.

Trisno, pelukis spanduk pecel lele Lamongan mempertahankan teknik melukis.Trisno, pelukis spanduk pecel lele Lamongan mempertahankan teknik melukis. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

Dosen komunikasi visual Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran Sandi Jaya Saputra meragukan spanduk tersebut adalah khas dan identitas Lamongan.

Sandi menilai, dewasa ini, orang yang bukan asli Lamongan juga bisa membuat spanduk tersebut.

Selain itu, diketahui ada spanduk pecel dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang juga dilukis. Namun bedanya dengan spanduk pecel Lamongan adalah mayoritas spanduk asal Brebes tidak memiliki gambar hewan dan menggunakan warna merah serta biru.

"Saya tidak melihat spanduk itu sebagai kekhasan Lamongan. Spanduk itu diklaim sebagai khas karena mayoritas pedagang adalah orang Lamongan," kata Sandi.

Contoh spanduk pecel lele asal Brebes, dengan permainan gradasi merah dan biru di bagian tulisan warung.Contoh spanduk pecel lele asal Brebes, dengan permainan gradasi merah dan biru di bagian tulisan warung. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

Sandi mengatakan pembuatan spanduk pecel lele Lamongan dilukis karena saat itu teknologi percetakan belum canggih. Teknik lukis yang dianggap sebagai khas Lamongan otomatis gugur karena saat ini ada spanduk pecel yang disablon.

Hartono adalah salah satu pelukis yang mengombinasikan teknik sablon dan lukis untuk membuat spanduk.

Sablon ia gunakan untuk huruf dan lukis ia gunakan untuk gambar binatang. Kombinasi ia lakukan untuk menghemat waktu namun tak menghilangkan pakem spanduk pecel Lamongan.

Bila dilihat dari sudut pandang ilmu desain visual, spanduk pecel Lamongan dianggap tergolong dalam tipografi vernakular.


Mengutip laman Binus Malang, tipografi vernakular merupakan desain visual yang dibuat oleh sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan dan terus berkembang.

Pelaku desain tipografi vernakular biasanya mengedepankan kefektifan ketimbang estestika.

Hal ini terlihat kala pelukis spanduk pecel lele Lamongan menabrakkan sejumlah warna cerah karena bertujuan menarik pembeli, soal komposisi warna bagus atau tidak itu urusan belakangan.

Tujuan tersebut diperkuat dengan gaya desain yang sama meski tak ada kesepakatan diantara pelukis. Secara sengaja, warna cerah dan gambar hewan sesuai menu makanan selalu ada.

Contoh spanduk pecel Lamongan.Contoh spanduk pecel Lamongan. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Semua demi bisa menarik pembeli, tak peduli urusan orisinalitas seni.

Walau memandang spanduk pecel Lamongan bukan sebagai khas daerah tersebut, Sandi memandang kesadaran pelukis terhadap ruang komunikasi visual sangat menarik.

Di sisi lain, belum tentu semua pelukis mengeyam ilmu desain komunikasi visual (DKV) sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan ada keunggulan lain yang dimiliki oleh budaya masyarakat Lamongan.

"Itu pengetahuan lokal yang sebenarnya dasar pengetahuan mainstream dalam desain. Pengetahuan mereka dari dulu setara dengan pengetahuan saat ini," kata Sandi. (end)