Pemilik sekaligus desainer lini busana Kamengski, Sulaiman Said adalah salah satu orang yang tertarik dengan desain spanduk pecel Lamongan. Ia mengangkat gambar yang ada di jalanan itu menjadi baju dengan gaya streetwear.
Ketertarikan Said bermula kala dirinya heran dengan gaya streetwear kekinian yang diusung sejumlah lini Barat yang tergolong mahal bagi "baju jalanan". Sedangkan di matanya, ada gambar spanduk pecel Lamongan yang lebih ramah bagi masyarakat lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menakar Orisinalitas Spanduk Pecel Lamongan |
Pemilik lini busana Kamengski, Sulaiman Said. (CNN Indonesia/M. Andika Putra) |
"Setiap bentuk dan warna gue usahakan serupa dengan spanduk. Bentuk dan warna ayam serta lele ikut gaya mereka," kata Said.
Said, melalui label Kamengski, mulai menawarkan kepada publik kreasi baju kekiniannya berdesain spanduk pecel Lamongan itu sejak 2017.
Bukan cuma dalam bentuk kaos, Said menerapkan desain itu pada jaket, bucket hat, dan kemeja. Koleksi spanduk pecel Lamongan ini menambah koleksi unik Kamengski sebelumnya.
Said mengaku produk berdesain Lamongan tidak kalah bersaing dengan desain lain. Produk mode yang mengadaptasi desain jalanan itu mendapat respons positif dengan tipe kaos lebih banyak terjual lantaran paling umum.
"Ada yang komentar di Instagram, katanya orang Lamongan harus beli. Ada juga yang nanya kalau orang Lamongan yang beli dapat diskon apa enggak," kata Said mengingat komen di akun instagram @kamengski_stuff.
Dosen komunikasi visual Program Studi Jurnalistik Universitad Padjadjaran Sandi Jaya Saputra menilai tindakan Said disebut "counter culture hegemony fashion", atau gerakan perlawanan terhadap gaya mode Barat yang jadi arus utama.
[Gambas:Instagram]
"Mereka bosan dengan merek-merek mapan seperti Zara atau H&M. Akhirnya kembali dengan ke lokal dengan modifikasi," kata Sandi, kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, di lain kesempatan.
Sandi menilai akan lebih baik bila Kamengski memberikan edukasi atau informasi mengenai desain spanduk pecel Lamongan, seperti memberikan penjelasan asal usul spanduk terserbut.
Dengan begitu, kata Sandi, Said yang juga berperan sebagai seniman punya tanggung jawab terhadap produk yang ia jual, bukan hanya sekadar mengeksploitasi suatu desain 'umum' demi keuntungan.
Akan tetapi Said punya pendapat berbeda. Ia merasa tindakannya bukan berangkat dari "counter culture hegemony fashion", melainkan ia sebut sebagai pelestarian budaya karena Indonesia punya aset desain grafis yang sangat kuat.
Meski begitu ia tidak menutup peluang untuk memberikan informasi soal spanduk pecel lele Lamongan pada banyak orang.
"Paling mungkin lewat buku atau tulisan, mungkin tulisan sudah ada beberapa tapi enggak ada yang mengelompokkan itu jadi buku." kata Said.
[Gambas:Instagram] (end)
Pemilik lini busana Kamengski, Sulaiman Said. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)