Kala Desain Pecel Lamongan Jadi Motif Baju Kekinian

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 15:34 WIB
Kala Desain Pecel Lamongan Jadi Motif Baju Kekinian Desain ikonis spanduk pecel Lamongan ternyata bukan hanya menarik minat para pembeli di malam hari, tetapi juga desainer lini busana. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Desain ikonis spanduk pecel Lamongan ternyata bukan hanya menarik minat para pembeli yang kelaparan mencari seporsi pecel lele atau ayam di malam hari, tetapi juga desainer lini busana.

Pemilik sekaligus desainer lini busana Kamengski, Sulaiman Said adalah salah satu orang yang tertarik dengan desain spanduk pecel Lamongan. Ia mengangkat gambar yang ada di jalanan itu menjadi baju dengan gaya streetwear.

Ketertarikan Said bermula kala dirinya heran dengan gaya streetwear kekinian yang diusung sejumlah lini Barat yang tergolong mahal bagi "baju jalanan". Sedangkan di matanya, ada gambar spanduk pecel Lamongan yang lebih ramah bagi masyarakat lokal.


"Spanduk pecel lele itu gambar yang kita lihat berulang-ulang. Setiap beberapa meter di jalan kita lihat gambar yang sama," kata Said saat ditemui di kantor Kamengski, Jagakarsa, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Desain spanduk pecel Lamongan yang nyentrik dan ngejreng, seperti tiga gradasi warna mentereng, gambar ayam dan lele atau hewan sesuai menu, serta tulisan dengan jenis bentuk yang unik amat berkesan bagi Said.

Kerap melihatnya setiap hari dan menganggap memiliki nilai lebih, ia pun mendesain ulang tulisan dan gambar tersebut tanpa menghilangkan gaya khasnya agar rasa 'jalanan' masih ada.

Pemilik lini busana Kamengski, Sulaiman Said.Pemilik lini busana Kamengski, Sulaiman Said. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

"Setiap bentuk dan warna gue usahakan serupa dengan spanduk. Bentuk dan warna ayam serta lele ikut gaya mereka," kata Said.

Said, melalui label Kamengski, mulai menawarkan kepada publik kreasi baju kekiniannya berdesain spanduk pecel Lamongan itu sejak 2017.

Bukan cuma dalam bentuk kaos, Said menerapkan desain itu pada jaket, bucket hat, dan kemeja. Koleksi spanduk pecel Lamongan ini menambah koleksi unik Kamengski sebelumnya.

Said mengaku produk berdesain Lamongan tidak kalah bersaing dengan desain lain. Produk mode yang mengadaptasi desain jalanan itu mendapat respons positif dengan tipe kaos lebih banyak terjual lantaran paling umum.

"Ada yang komentar di Instagram, katanya orang Lamongan harus beli. Ada juga yang nanya kalau orang Lamongan yang beli dapat diskon apa enggak," kata Said mengingat komen di akun instagram @kamengski_stuff.

Dosen komunikasi visual Program Studi Jurnalistik Universitad Padjadjaran Sandi Jaya Saputra menilai tindakan Said disebut "counter culture hegemony fashion", atau gerakan perlawanan terhadap gaya mode Barat yang jadi arus utama.

[Gambas:Instagram]

"Mereka bosan dengan merek-merek mapan seperti Zara atau H&M. Akhirnya kembali dengan ke lokal dengan modifikasi," kata Sandi, kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, di lain kesempatan.

Sandi menilai akan lebih baik bila Kamengski memberikan edukasi atau informasi mengenai desain spanduk pecel Lamongan, seperti memberikan penjelasan asal usul spanduk terserbut.


Dengan begitu, kata Sandi, Said yang juga berperan sebagai seniman punya tanggung jawab terhadap produk yang ia jual, bukan hanya sekadar mengeksploitasi suatu desain 'umum' demi keuntungan.

Akan tetapi Said punya pendapat berbeda. Ia merasa tindakannya bukan berangkat dari "counter culture hegemony fashion", melainkan ia sebut sebagai pelestarian budaya karena Indonesia punya aset desain grafis yang sangat kuat.

Meski begitu ia tidak menutup peluang untuk memberikan informasi soal spanduk pecel lele Lamongan pada banyak orang.

"Paling mungkin lewat buku atau tulisan, mungkin tulisan sudah ada beberapa tapi enggak ada yang mengelompokkan itu jadi buku." kata Said.

[Gambas:Instagram] (end)