Mengaburkan Batas Seni Lewat Ikebana di Bandung

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 11:48 WIB
Mengaburkan Batas Seni Lewat Ikebana di Bandung Pameran Ikebana di Bandung yang mengolaborasikan seniman lokal dan mancanegara mampu mengaburkan batas-batas seni untuk bisa dinikmati bersama. (CNN Indonesia/Huyogo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah sukses digelar tiga tahun lalu di Bandung, gelaran seni merangkai bunga dari Jepang atau Ikebana kembali dipamerkan di Lawangwangi Creative Space untuk kedua kalinya.

Pameran yang dibuka Jumat (5/10) itu merupakan garapan seniman Ikebana, Andajani Trahaju.

Ia merupakan kurator pameran Ikebana di Bandung pada 2016 lalu dan kembali menjadi kurator pada pameran bertajuk [not]ARTofficial[?]: Out of Track kali ini bersama Nia Gautama.

Pameran kali ini, kata Andajani, berupaya untuk menyosialisasikan bahwa Ikebana bukan sekedar hobi dan pengisi waktu luang masyarakat urban.


Namun lebih dari itu, Ikebana memerlukan pemahaman selayaknya sebuah seni yang memiliki sejarah, filosofi dan estetika yang dalam.

"Pameran ini berupaya untuk mengaburkan batas-batas atau hirarki seni dengan memandang bahwa karya seni apapun bentuknya adalah sesuatu yang bisa dinikmati bersama. Melalui seni bisa terjadi pertukaran budaya dan kreativitas, serta menambah wawasan, pengetahuan, dan persahabatan antar negara," ujar Andajani.

Ia mengungkapkan, pameran ini selain melibatkan seniman Ikebana dari dalam negeri maupun mancanegara, juga melibatkan beberapa seniman kontemporer dari Bandung, Jepang dan Vietnam.

Para seniman tersebut di antaranya Andajani Trahaju, Caitlin Nishikawa, Chiemi Nakajiwa, Deni Ramdani, Edwin Credo Makarim, Eldwin Pradipta, Erwin Windu Pranata, Evi Moeljo, Hanako, Henryette Louise, Hollywinarni Jamihardja, Juliana Joe, Lestari Mulyanto, Maradita Sutantio, Milla Hardi, Mimi Safira Permana, Natas Setiabudi, Patriot Mukmin, Richard Streitmatter-Tran, Ryota Shioya, Satako Yamane, Syaiful Aulia Garibaldi, Swasti Kania The, Tamaki (Hosui) Morii, Toshiko Mizumoto, dan Wiwiek Tonny Surono.


Seniman-seniman kontemporer dalam pameran ini ditantang untuk menciptakan karya yang mungkin tidak biasa atau tidak menjadi materi pokok pameran mereka, yaitu merespons filosofi Ikebana.

Namun mereka dibebaskan dalam eksekusi media dan olah material. Di sisi lain, para pelaku Ikebana juga ditantang untuk menambah pemaknaan pada karya-karya Ikebananya.

"Seniman kontemporer membaca dan memaknai Ikebana dengan karakter karya masing-masing seniman. Di dalam pameran ini juga seniman kontemporer diberi kebebasan untuk tidak membuat karya Ikebana sesuai dengan konvensinya, termasuk penggunaan material non-vegetasi," kata kurator pameran lainnya, Nia Gautama.

Pameran ini menyajikan keberagaman bahasa artistik dari masing-masing senimannya. Publik dapat menyaksikan budaya lokal sebagai sumber budaya menjadi struktur estetika di dalam karya seni rupa kontemporer ini.

Salah satu kreasi Ikebana dalam pameran [not]ARTofficial[?]: Out of Track, di Bandung, Jumat (5/10).Salah satu kreasi Ikebana dalam pameran [not]ARTofficial[?]: Out of Track, di Bandung, Jumat (5/10). (CNN Indonesia/Huyogo)

Salah satu seniman dari Vietnam, Richard Streitmatter-Tran yang ikut serta dalam pameran ini mengatakan, bahwa pameran ini di luar dugaannya. Beragam karya seni kontemporer ia sebut ada dalam pameran ini.

Richard sendiri menyajikan sebuah karya still-life berjudul "Nature Mortis" dari bahan tanah lempung yang diproduksi secara khusus di Lawangwangi Creative Space, Bandung, selama beberapa hari sebelum pameran dibuka.

"Saya memang tidak ada relasi kuat dengan Ikebana tetapi seni Ikebana berhubungan dengan still-life. Nah, term still-life itu yang memberi tantangan artistik bagi saya untuk menyajikan karya dalam pameran ini," kata Richard.

Tamaki Morii, salah satu seniman ahli Ikebana dari Jepang yang untuk pertama kalinya hadir ke Bandung, turut menyajikan karya seni Ikebana di dalam pameran ini. Ia memamerkan hasil kolaborasi artistik dengan Ryota Shioya yang juga kompatriotnya dari Jepang.

Ia mengatakan bahwa pameran seni Ikebana ini menunjukkan bahasa simbolik yang sangat artistik dan beragama. Selain itu, pameran ini ia sebut sebagai sebuah kebanggaan dan kehormatan baginya.

Ikebana pada dasarnya merupakan peciptaan kembali tumbuhan dan bunga ke dalam lingkungan berlingkup lebih kecil dengan latar belakang alam yang dimiliki sebelumnya.Ikebana pada dasarnya merupakan peciptaan kembali tumbuhan dan bunga ke dalam lingkungan berlingkup lebih kecil. (CNN Indonesia/Huyogo)

Ikebana sendiri merupakan seni tradisi budaya Jepang yang dalam praktiknya bukan membuat rangkaian bunga untuk hiasan di atas meja seperti banyak kita temui dalam tradisi budaya Eropa yang dilakukan oleh perangkai bunga.

Ikebana pada dasarnya merupakan peciptaan kembali tumbuhan dan bunga ke dalam lingkungan berlingkup lebih kecil dengan latar belakang alam yang dimiliki sebelumnya.

Karya Ikebana sarat dengan simbol-simbol spiritual melalui pemilihan material, bentuk, warna sesuai musimnya. Ikebana diyakini menampilkan unsur-unsur makro-kosmos kemudian berhimpun menjadi kegiatan spiritual manusia atau dikenal dengan mikro-kosmos.

Pameran [not]ARTofficial[?]: Out of Track ini akan berlangsung hingga 5 November mendatang di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri No. 99 Bandung.


(hyg/end)