ULASAN KONSER

Anti Klimaks Dakwah Musik Rhoma Irama di Syncronize Fest 2018

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 18:19 WIB
Anti Klimaks Dakwah Musik Rhoma Irama di Syncronize Fest 2018 Rhoma Irama dan Soneta tampil sebagai penutup Synchronize Fest 2018 hari kedua. Tampil selama satu setengah jam, mereka membuat penonton yang henti bernyanyi dan berjoget. (Foto: CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Leher, sendi telapak kaki dan sendi telapak tangan telapak tangan terasa sangat pegal. Rasanya sulit sekali menggerakkan tangan untuk menenggak air putih atau berjalan untuk pulang. Itulah yang saya rasakan setelah menyaksikan penampilan Rhoma Irama di Syncronize Festival 2018 hari ke dua (6/10), Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kini saya mengerti mengapa Rhoma dijuluki raja dangdut. Pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, terlihat benar-benar mengerti dan memahami musik dangdut yang sejak dulu dianggap musik rakyat. Penampilannya sangat baik dari berbagai aspek, mulai dari permainan alat musik, vokal, sampai aksi panggung yang tidak berlebihan.

Hampir semua pengunjung bernyanyi dan berjoget selama satu setengah jam, pun begitu saya. Mereka seakan tak peduli dengan suasana sesak nan sumpek dan bau alkohol yang terkadang semerbak tercium. Yang penting bisa joget dari Sabtu (6/10) malam sampai Minggu (7/10) dini hari ditemani Rhoma.


Sayang, nyanyian dan jogetan terasa tidak klimaks karena Rhoma tiba-tiba berhenti tampil. Musisi berusia 71 tahun ini selesai tampil pada pukul 00:42 yang seharusnya selesai pukul 01:45. Ada perasaan tidak puas sudah pasti, tapi mau bagaimana lagi.
Beruntung Rhoma selalu tampil maksimal pada setiap lagu yang dibawakan. Bahkan untuk penampilan yang maksimal, ia sempat meminta izin sound check saat naik tepat pukul 23:23. Penonton memberi izin dengan tepuk tangan sembari berteriak 'siap bang haji'.

"Assalamualaikum, mau sound check dulu boleh ya," kata Rhoma.

Rhoma mengomentari satu per satu suara yang dianggap kurang baik. Mulai dari suara gitar yang tidak muncul di monitor, sampai mik vokal yang terdengar ada feedback. Sembari sound check, ia turut bergoyang, jubah merah yang ia kenakan dengan setelan putih berkibar seperti seorang pahlawan super.
Anti Klimaks Dakwah Musik Rhoma Irama di Syncronize Fest 2018Rhoma Irama dan Soneta tampil sebagai penutup Synchronize Fest 2018 hari kedua. (Foto: CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Setelah itu, Rhoma tampil sangat lepas tanpa basa-basi. Ia sering membawakan lagu tanpa jeda, seperti ketika membawakan lagu Dangdut (Terajana), Terajana versi India dan Terajana versi Indonesia. Gerakan badan mengayun ke belakang sembari memegang gitar buntung masih menjadi andalannya.

Pun begitu saat membawakan tiga lagu yang satu tema tanpa jeda, yaitu Introspeksi Nasional, Bencana dan Malapetaka. Sekalinya menyapa penonton, ia memberikan nasihat-nasihat sesuai ajaran Islam bak mubalig yang sedang berdakwah.
Ia memang menjadi mubalig sejak 1980an dan mendeklarasikan Soneta, band yang ia bentuk, sebagai The Voice Of Muslims.

"Kita telah berduka karena Palu, Sulawesi Tengah terlanda tsunami. Bencana bukan kebetulan, semua perintah Allah SWT dengan tiga alasan. Pertama, bisa saja ini ujian. Kedua, peringatan. Ketiga, hukuman naudzubillahimindzalik," kata Rhoma.

Rhoma kembali berdakwah disela penampilan. Kali ini ia berbicara soal kontestasi Pilpres 2019 yang sudah mulai berlangsung. Tapi tenang saja, ia tidak mengampanyekan salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

"Berbeda adalah salah satu syarat mutlak demokrasi, tapi bukan berarti musuh-musuhan dan marah-marahan. Mari ciptakan pemilu damai dan bermanfaat. Laksanakan pesta demokrasi yang penuh persaudaraan," kata Rhoma.

Penjelasan itu merupakan jembatan menuju lagu Adu Domba yang bercerita tentang. Lagu itu langsung disambung dengan lagu Stop dan Perjuangan dan Doa. Tak disangka kualitas suara Rhoma masih bagus di usia senja, bahkan beberapa kali ia bernyanyi dengan cengkok dangdut.

Pengunjung kaget ketika Rhoma mengucapkan terima kasih dan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, seakan memberi isyarat akan membawakan lagu terakhir. Pasalnya jarum jam menunjukkan pukul 00:30, sementara Roma dijadwalkan selesai tampil pukul 01:45.
Lagu Insya Allah Rhoma bawakan sebagai lagu terakhir. Hampir semua penonton beringas meminta Rhoma kembali tampil usai membawakan lagu tersebut. Ada berteriak 'we want more', ada juga yang meneriakkan 'bang haji, miras belum, bang haji'.

Di panggung terlihat ada tiga orang yang mendekat ke arah Rhoma. Salah satu orang itu mengenakan polo shirt biru donker dengan tulisan 'Turn Back Crime' ala Kepolisian Nasional Republik Indonesia. Entah apa yang dibicarakan mereka selama beberapa menit, yang pasti pengunjung berteriak meminta Rhoma terus tampil.

"Masih mau lagi?," kata Rhoma yang disambut riuh pengunjung. Setelah itu Rhoma kembali berbicara dengan tiga orang tersebut dan melanjutkan penampilan.

Lagu Begadang dan Nafsu Serakah dibawakan sebagai encore. Pengunjung langsung berteriak 'lagi lagi lagi' usai Rhoma membawakan lagu Nafsu Serakah. Sayang Rhoma tak menuruti hingga penampilannya terasa anti klimaks.

CNNIndonesia.com bertanya kepada Program Director Syncronize Festival 2018 Rizki Aulia mengenai penampilan Rhoma yang selesai lebih awal. Ia menjelaskan Rhoma berhenti bukan karena ada permintaan dari pihak luar penyelenggara dan panitia Syncronize Festival 2018.

"Rhoma ngantuk katanya," kata Rizky melalui pesan singkat. (age/age)