Studi: YouTube Jadi Platform Mendengar Musik Paling Dominan

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 04:04 WIB
Studi: YouTube Jadi Platform Mendengar Musik Paling Dominan Menurut sebuah penelitian, mayoritas orang mendengarkan musik melalui platform YouTube. (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) melakukan penelitian tentang konsumen musik. Penelitian itu menyatakan bahwa kebanyakan konsumen mendengar musik melalui YouTube dengan hasil 47 persen.

Penelitian dilakukan pada negara Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Meksiko, Belanda, Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Inggris dan Amerika Serikat selama bulan April sampai Mei lalu.

Dari setiap negara terdapat 1.000-2.000 responden dengan rentang usia 16 sampai 64 tahun. Rentang galat penelitian ini kurang lebih berada pada angka tiga persen, sementara tingkat kepercayaan penelitian ini mencapai 95 persen.



Berdasarkan penelitian tersebut, setiap orang mendengarkan musik selama 2,5 jam dalam satu hari. Dalam satu minggu, setiap orang mendengarkan musik selama 17,8 jam.

Sebanyak 86 persen mendengarkan musik melalui layanan musik streaming baik dalam bentuk audio atau video. Kemudian, 75 persen responden mendengarkan musik melalui ponsel.

Sebesar 47 persen konsumen musik mendengarkan musik melalui YouTube.

Sementara 5 persen mendengarkan musik melalui video (selain YouTube), 28 persen mendengarkan musik secara berbayar lewat layanan setraming dan 20 persen mendengarkan musik gratis lewat layanan streaming.


Chief Executive IFPI Frances Moore menjelaskan sejumlah perusahaan rekaman menjalin kerja sama dengan mitranya untuk mengembangkan musik agar bisa dinikmati dengan berbagai cara.

Mengacu pada peneliitan ini, tantangan yang harus dihadapi adalah pelanggaran hak cipta.

"Ada ancaman pelanggaran hak cipta digital yang terus berkembang. Selain itu ada kegagalan untuk mencapai kompensasi yang adil antara pengguna layanan dan penyedia layanan," kata Moore seperti dilansir Variety.

Moore menjelaskan saat ini pembuat kebijakan di berbagai negara tengah meneliti itu tersebut. Menurutnya mereka tengah merancang hal untuk mengatasi masalah pelanggaran hak cipta. (adp/end)