12 Penulis Indonesia Menuju London Book Fair 2019

CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 10:10 WIB
12 Penulis Indonesia Menuju London Book Fair 2019 12 penulis terpilih asal Indonesia akan turut dalam London Book Fair 2019 yang diselenggarakan pada bulan Maret mendatang. (Foto: Ubud Writers & Readers Festival 2018/Wayan Martino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah sukses sebagai Guest of Honour di Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia akan kembali menjadi sorotan dalam skena perbukuan internasional. Tahun depan, pada penyelenggaraan London Book Fair 12-14 Maret 2019 di London, Inggris, Indonesia terpilih menjadi Market Focus Country. Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang mendapatkan kesempatan ini.

Komite Nasional Pelaksana Persiapan Market Focus Country London Book Fair 2019 yang dibentuk oleh Badan Ekonomi Kreatif dengan dukungan Kemendikbud, telah menyiapkan sejumlah program yang merefleksikan tema yang diusung, yaitu: '17.000 Islands of Imaginations'.

Bekerja sama dengan British Library, panitia akan mendigitalisasi 75 manuskrip Jawa dari Keraton Jogjakarta. Sejumlah program juga akan ditampilkan, seperti pembacaan naskah teater Indonesia bekerja sama dengan Departement of Drama, Royal Holloway, University of London; pembuatan zine yang bekerja sama dengan UK-Indonesian Muslim Women Exchange Project, dan pameran buku-buku komik Indonesia.




Salah satu yang paling ditunggu dari program ini adalah siapa penulis Indonesia yang akan ditampilkan di London Book Fair 2019. Setelah melalui proses seleksi yang panjang, 12 nama itu akhirnya diumumkan pada Kamis malam, 25 Oktober 2018 di Ubud, Bali, dalam rangkaian acara Ubud Writers and Readers Festival 2018.

"Dari sekian banyak penulis berbakat di Indonesia, sangat sulit memilih hanya 12 orang untuk mewakili Indonesia di program sastra. Banyak sekali faktor yang dipertimbangkan -dari kualitas karya, produktivitas penulis, dan jumlah karya yang diterjemahkan sampai kefasihan penulis berbicara dalam bahasa Inggris. Sembari mempertimbangkan topik-topik bagi audiens Inggris," kata John McGlynn, Koordinator Program Market Focus London Book Fair.

Duabelas penulis yang terpilih adalah Agustinus Wibowo, Clara Ng, Dewi Lestari, Faisal Oddang, Intan Paramaditha, Laksmi Pamuntjak, Leila S. Chudori, Nirwan Dewanto, Norman Erikson Pasaribu, Reda Gaudiamo, Seno Gumira Ajidarma, dan Sheila Rooswitha Putri.

Keduabelas penulis ini dianggap mewakili ide-ide keindonesiaan yang baru, dan tidak melulu terjebak pada tema-tema lama seperti kasus HAM, kesenjangan sosial, dan konflik agama.



Penulis perjalanan Agustinus Wibowo, misalnya, menganggap ini sebuah pencapaian baru.

"Buat saya masuknya genre perjalanan yang akan dibawa ke London Book Fair, merupakan suatu pencapaian baru di dunia sastra Indonesia, karena genre ini masih terbilang baru di Indonesia. Dan bagi saya, ciri bangsa yang besar adalah yang orang-orangnya melakukan perjalanan dan menuliskannya,"  kata Agustinus Wibowo, yang menulis buku memoar perjalanan 'Zero: When Journey Takes You Home'.

"Terkadang cukup ironis, ketika ingin belajar tentang sejarah bangsa sendiri, harus me-refer [referensi] ke tulisan perjalanan yang ditulis orang luar. Mereka tentu punya perspektif masing-masing," lanjutnya. (Fauzan Mukrim/rea)