Analisis

Taring Tua Badan Bahasa Melawan Arus Generasi 'Which Is'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 12:38 WIB
Taring Tua Badan Bahasa Melawan Arus Generasi 'Which Is' Ilustrasi. (cocoparisienne/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bahasa Indonesia mungkin telah berkembang pesat selama sembilan dekade terakhir. Namun tak ada gading yang tak retak, masih ada banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti dikerjakan untuk mengawal bahasa negara itu di tengah arus deras globalisasi.

Tugas itu secara resmi memang ada di pundak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa alias Badan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Secara riwayat, lembaga bahasa itu sudah berdiri sejak 1948. Namun lembaga tersebut baru memiliki landasan hukum kuat dari Undang-undang No 24 Tahun 2009 dan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010.


Kini sudah sewindu Badan Bahasa bertarung di tengah arus globalisasi yang membuat sebagian masyarakat Indonesia memilih mencampurkan bahasa asing di tengah kehidupan sehari-hari.

Selama sewindu pula, munsyi alias ahli bahasa Remy Silado menilai lembaga tersebut masih memiliki pola pikir lawas di tengah tantangan modernisasi yang ada di depan mata.


Remy menilai badan bahasa hanya melihat bahasa Indonesia dari sisi bahasa Indonesia semata. Padahal bahasa Indonesia banyak menyerap bahasa asing, salah satunya adalah Belanda.

Ia pernah menulis soal fakta bahasa Indonesia yang banyak menyerap bahasa asing ini dalam dalam buku 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing.

Sempitnya pandangan ini dinilai Remy membuat pengembangan dan keberlanjutan bahasa Indonesia menjadi seolah mandek atau tersalip dengan bahasa asing lainnya.

"Bahasa Indonesia itu dikembangkan dulu oleh orang-orang Belanda. Kalau kita bicara ketatabahasaan kita juga harus berpikir dari segi Barat yang notabene dahulu menata bahasa kita," kata Remy saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

'Disunat'

Apa yang dikatakan Remy tidak salah. Seorang Belanda bernama Charles Adriaan van Ophuijsen adalah pihak yang menyusun ejaan cikal bakal bahasa Indonesia meskipun bahasa Indonesia memiliki akar bahasa Melayu Riau.

Ophuijsen gemar yang mempelajari bahasa dari berbagai suku di Nusantara itu dibantu dengan dua orang lokal, Engku Nawawi dan Moehammad Taib Sutan Ibrahim dalam menyusun ejaan baru pengganti ejaan Melayu pada 1896.

Ejaan itu disebut ejaan van Ophuijsen dan resmi diakui oleh pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia pada 1901. Setelah itu lahir lembaga bentukan Kolonial Belanda yang mempelajari bahasa yang saat ini menjadi Badan Bahasa.

Menurut Remy, orang yang Ingin benar-benar mengenal bahasa Indonesia juga harus mempelajari bahasa Belanda. Apalagi, untuk ahli bahasa yang bekerja di Badan Bahasa yang bertugas mengembangkan dan membina bahasa Indonesia.

[Gambas:Instagram]

Bila tidak demikian, pengembangan dan pembinaan Indonesia lamban.

Pengembangan dan pembinaan yang lamban akan memberikan efek domino negatif terhadap bahasa Indonesia. Salah satunya, kemunculan tren berbicara campur antara bahasa Indonesia dan asing.

"Bahasa campur Indonesia-Inggris menunjukkan kepribadian yang tidak utuh. Sekarang kita lihat dicampur-campur itu dilakukan hanya untuk pamer dan kesombongan saja. Kepribadiannya mengambang," kata Remy.

Bukan hanya anak muda, pria 73 tahun ini mengatakan bahasa campur Indonesia-Inggris juga digunakan oleh orang dewasa. Ia menyontohkan dengan politisi yang juga mencampur Indonesia-Inggris saat pidato.

Remy mengatakan Badan Bahasa harus lebih cepat mengembangkan dan lebih aktif membina bahasa Indonesia.

Ia menyebut bahasa Indonesia seperti miskin kata, terlihat dari KBBI yang hanya setebal 1.400 halaman. Sementara ketebalan kamus Brunei Darussalam mencapai 3.000 halaman, padahal negara itu jauh lebih kecil dari Indonesia.

Di sisi lain, Kepala Badan Bahasa Prof Dadang Sunendar mengatakan dana dan sumber daya manusia adalah kendala utama implementasi pengembangan dan pembinaan. Sampai saat ini dana sangat terbatas dan ahli bahasa di Badan Bahasa masih sedikit.

"Alasan saja itu. Barangkali itu karena disunat-sunat, barangkali ya," kata Remy.

Kurang Bangga

Pegiat sekaligus Wikipediawan Indonesia Ivan Lanin memberikan pendapat yang berbeda terhadap kinerja Badan Bahasa saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kesempatan terpisah.

Sebagai sosok yang dekat dengan Badan Bahasa, Ivan melihat kendala yang dihadapi lembaga tersebut masih tergolong lazim meskipun tak menampik adanya hambatan dalam menjalankan tugas mengawal bahasa Indonesia.

"Birokrasinya rumit sekali sih enggak, cuma kadang-kadang hubungan antar departemen dan antar bagian tidak terjadi dengan baik. Komunikasinya yang kurang, ini sih persoalan yang lazim dalam instansi pemerintah," kata Ivan.

Kendala tersebut menjadi penyebab kinerja Badan Bahasa lamban. Salah satunya lamban dalam membuat padanan bahasa asing. Seperti pada kata selfie yang masuk Kamus Oxford pada 2013, namun padanannya yaitu swafoto baru masuk KBBI 2017.

Akan tetapi, di balik kelambanan itu, Ivan melihat ada kemajuan yang cukup pesat. Sejak 2017, pemutakhiran KBBI dilakukan enam bulan sekali setelah sebelumnya sejak 1980-an pemutakhiran terjadi lima tahun sekali.



Pemutakhiran KBBI memang kini lebih cepat, namun masih lebih lambat dibandingkan kamus Oxford yang melakukannya sebulan sekali. Maka tak heran, sejumlah padanan kata asing di bahasa Indonesia belum diketahui secara luas.

Menurut Ivan, hal yang mesti dibereskan terlebih dahulu untuk menghadapi masalah berbahasa Indonesia saat ini adalah rasa kebanggaan menggunakan bahasa ibu tersebut.

"Yang bisa menumbuhkan itu menurut saya hanya Badan Bahasa. Mereka memiliki otoritas, dan budaya Indonesia itu meniru pemimpin, apa yang dilakukan pemimpin itu akan diikuti," kata Ivan.

Mengibaratkan pepatah 'rumput tetangga lebih hijau', Ivan Lanin menilai masyarakat terbiasa mengabaikan hal yang dimiliki dan terpukau akan milik orang atau bangsa lain.

Setidaknya, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga berbahasa Indonesia. Pertama, memperbanyak rujukan serta sumber bahasa Indonesia. Kedua, memberikan contoh berbahasa Indonesia melalui duta bahasa.

"Mereka bisa memberi contoh kepada penutur Indonesia bahwa bahasa Indonesia bisa dituturkan, dituliskan dengan baik dan kelihatan indah. Badan Bahasa harus membantu memikirkan bagaimana menumbuhkan kebangaan berbahasa," kata Ivan Lanin. (end)