Patah Lidah Bahasa Indonesia Mencari Padanan Kata

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 09:48 WIB
Ilustrasi. (Istockphoto/ti-ja).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia berkembang dengan cepat, mulai dari soal teknologi, komunikasi, dan lainnya. Namun bahasa Indonesia masih adem ayem kala banyak warga Indonesia memilih menggunakan sebagian porsi komunikasinya dengan bahasa asing.

Alasan memilih mencampurkan bahasa asing ke bahasa Indonesia ada banyak, salah satu yang paling sering didengar adalah sulitnya menemukan padanan kata yang tepat untuk ungkapan bahasa asing.

Masalah padanan kata ini berarti perihal kekayaan diksi bahasa Indonesia yang menjadi wilayah pengembangan yang ditugaskan kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa alias Badan Bahasa.


Sejak dideklarasikan pada sembilan dekade lalu, bahasa Indonesia memang telah mengalami perkembangan, penambahan kata, hingga evolusi tata bahasa yang berbeda antar generasi bangsa.

Namun ternyata ketika dunia bergerak ke era digital atau milenial, bahasa Indonesia agak tergagap menghadapi pesatnya aktivitas dan perkembangan berbahasa masyarakat, yang salah satunya dipicu globalisasi.


Badan Bahasa sebagai pihak yang dilimpahkan tanggung jawab mengembangkan bahasa persatuan itu pun seolah mendadak berlari mengejar perkembangan zaman. Salah satunya contoh adalah digitalisasi Kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia dalam format online atau daring yang baru dilakukan sejak Oktober 2016.

Bukan hanya itu. Badan yang dikepalai oleh Prof Dadang Sunendar sejak 2015 itu juga baru-baru ini saja mempersingkat periode pembaharuan kosa kata KBBI. Jika semula dilakukan setiap lima tahun sekali, kini menjadi setahun dua kali.

Penyingkatan periode ini jelas menjadi beban baru bagi Badan Bahasa lantaran juga harus memangkas masa Sidang Komisi Istilah namun dengan jumlah kata yang mesti dibahas terus bertambah.

"Jadi pengembangan terus kami optimalkan. Selain itu kami juga mengembangkan teknologi, bertujuan memberikan pelayanan lebih baik lagi kepada masyarakat," kata Dadang saat bertemu CNNIndonesia.com di kantor Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Kosa Kata Menggunung

Menambah kata dalam KBBI bukan sekadar mengentri. Sebuah kata baru bisa masuk KBBI bila ia mendapatkan usulan dari masyarakat, Balai Bahasa yang tersebar di 30 provinsi, serta media massa yang sering menggunakannya.

Kata yang dikumpulkan akan dibahas dalam Sidang Komisi Istilah. Setiap kata diseleksi dengan ketat oleh anggota sidang karena setiap kata yang ada dalam KBBI harus bisa dipertanggungjawabkan.

Sejak 2017, kurang lebih dalam setahun ada 2.000 sampai 3.500 kata baru hingga saat ini terdapat 127 ribu kata dengan 130 ribu makna.

Proses tidak berhenti sampai kata masuk KBBI. Badan Bahasa harus melakukan pemutakhiran, baik dari aspek penulisan hingga makna kata yang dianggap salah dalam 'kitab suci' bahasa Indonesia itu.

[Gambas:Instagram]

Belum lagi bila ada kendala teknologi dan tugas mengkaji kosa kata bahasa daerah bila ada yang diusulkan untuk diserap menjadi bagian bahasa Indonesia.

Badan Bahasa jelas tergagap menghadapi tugas mengembangkan kosa kata baru yang menggunung. Penambahan kata dalam KBBI masih jauh tertinggal dengan yang terjadi dalam percakapan masyarakat dan bahasa asing.

Bahasa Inggris misalnya. Dalam tujuh tahun terakhir, masyarakat dunia akrab dengan kata selfie. Dua kata itu muncul di era generasi milenial yang aktif dalam dunia maya, terutama media sosial, termasuk di Indonesia.

Kepopuleran selfie membuat pihak Oxford University menambahkan kata tersebut dalam kamusnya yang menjadi rujukan bahasa Inggris dunia itu pada 2013. Sedangkan dalam KBBI, padanan kata tersebut baru masuk pada 2017 dengan menyertakan swafoto sebagai padanannya.

Begitu pula dengan istilah asing netizen. Kata yang muncul seiring dengan kepopuleran media sosial dalam satu dekade terakhir itu tercatat baru masuk KBBI pada 2017. (end)


1 dari 2