Setelah membawa penonton menilik masa depan melalui pementasan 'Gemintang' yang sarat akan unsur futuristik, Teater Koma mengajak para penonton untuk kembali masa lalu dan menyaksikan cerita klasik para dewa ini. Namun, cerita klasik ini akan dikemas secara modern dengan menggabungkan unsur budaya lokal hingga global.
"Ini lakon lama tapi masih sangat memikat. Lakon ini bisa bersumber dari mana saja, maka tak heran jika kali ini Tanah Batak, Bugis, Toraja, Bali, bahkan Yunani, Mesopotamia, dan Afrika menjadi sumber yang mampu menciptakan berbagai jenis seni dan daya kreativitas manusia," tutur Nano Riantinarno, selaku sutradara dan penulis naskah dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara garis besar, pentas 'Mahabarata: Asmara Raja Dewa' berkisah tentang perjuangan kebaikan melawan kejahatan. Dari kekosongan, Sang Hyang Wenang mencipta Tiga Dunia, yaitu Mayapada (dunia atas), Madyapada (dunia gelap), dan Marcapada (dunia bawah) beserta seluruh penghuninya.
Setelah beberapa waktu, Hyang Tunggal lengser dan digantikan oleh Batara Guru. Dalam pentas inilah kisah tentang perjuangan Rajadewa, Batara Guru, menjaga kedamaian akan dipertunjukkan.
Batara Guru memang bertugas menjaga kedamaian Tiga Dunia yang selalu diusik penghuni Dunia Gelap. Terlebih Idajil, yang masih menghasut para perusuh dari belenggu tempat pengasingannya. Konflik pun bermunculan, menguji kemampuan Batara Guru mampu melindungi Tiga Dunia dari gangguan Idajil dan pengikutnya yang haus kuasa.
Di bawah asuhan Nano dan sang istri sebagai pimpinan produksi, pementasan kali ini didukung penampilan Idries Pulungan, Budi Ros, Sari Madjid, Alex Fatahillah, Dorias Pribadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Toni Tokim, Bayu Dharmawan Saleh, Angga Yasti, Rangga Riantinarno, dan lainnya.
Pementasan ke-154 Teater Koma ini diadaptasi dari karya sastra kuno India yang terdiri dari delapan belas kitab bernama Astadasaparwa. (dna/rea)