Tari Bedhaya, Jembatan Budaya Yogyakarta dan Dunia Luar

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 03/11/2018 17:49 WIB
Tari Bedhaya, Jembatan Budaya Yogyakarta dan Dunia Luar Tari bedhaya yang akan ditampilkan di Amerika Serikat dalam lawatan Sri Sultan Hamengku Buwono X mengisahkan kebenaran dan kekuasaan dalam filosofi Jawa. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) memasuki pelataran Bangsal Trajumas, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, bersamaan dengan matahari yang mulai turun di ufuk barat.

Ia jalan bersama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menuju kursi kayu yang sudah disediakan. Kursi itu menghadap ke arah pengrawit.

Tak lama kemudian musik gamelan mulai dimainkan untuk mengiringi geladi resik Tari Bedhaya Sang Amurwabumi. Di belakang alat musik terlihat sembilan penari yang berbaris rapi mulai bergerak, bersiap memasuki Bangsal Trajumas.


Dua di antara penari tersebut merupakan putri pertama dan keempat HB X, GKR Mangkubumi dan GKR Hayu.

Bukan tanpa alasan, geladi resik digelar sebagai persiapan lawatan HB X bersama tim kesenian ke Wesleyan University, Middletown, Amerika Serikat (AS), dalam rangka misi budaya pada Jumat (9/11) mendatang.


Misi ini sudah dijajaki oleh GKR Hayu dan suaminya, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, sejak tiga tahun lalu saat tinggal di New York.

KPH Notonegoro terlihat mengatur persiapan sebelum geladi resik berlangsung. Saat geladi resik berjalan, ia berperan sebagai salah satu pengrawit.

Dalam Keraton sendiri ia menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punakawann Kridhamardawa, departemen yang fokus pada kesenian.

"Misi budaya terdiri dari beberapa kegiatan, cukup komplit. Ada simposium, pelajaran tari, lokakarya, pementasan tari, pementasan wayang golek dan pementasan wayan kulit," ujar KPH Notonegoro kepada awak media, Jumat (2/11).

Gerakan sembilan penari terlihat kompak, mulai dari gerakan tangan, kepala sampai kibasan selendang berlangsung secara bersamaan.

Tari Bedhaya, Jembatan Budaya Yogyakarta dengan AmerikaLatihan Tari Bedhaya Sang Amurwabumi  untuk misi kali ini sudah berjalan sejak tiga bulan lalu. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)

Beberapa penari terlihat bermandi peluh, bahkan ada salah satu penari yang dagu dan hidungnya dihiasi keringat sebiji jagung. Seakan tak peduli, ia tetap fokus menari.

HB X dan GKR Hemas memperhatikan geladi resik yang kurang lebih berlangsung selama satu setengah jam.

Adalah HB X yang menciptakan Tari Bedhaya Sang Amurwabumi. Tarian tersebut bercerita tentang kebenaran dan kekuasaan dalam filosofi Jawa, bagaimana dalam kehidupan sehari-hari kebenaran lebih unggul daripada kekuasaan yang ada dalam diri manusia.

Geladi resik usai ketika sembilan penari keluar Bangsal Trajumas dan musik gamelan berhenti. GKR Mangkubumi dan GKR Hayu kemudian duduk dekat HB X serta GKR Hemas, mereka sempat berbincang sedikit.

Tak lama kemudian penari lain berjalan jongkok sampai di dekat HB X dan GKR Hemas. HB X memberikan nasihat pada penari yang dijadwalkan terbang ke Amerika Serikat, Minggu besok (4/11).


Pria yang juga menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta ini berpesan pada penari untuk menjaga kesehatan tubuh. Jangan sampai sakit karena tidak ada yang menggantikan, terlebih perbedaan waktu Indonesia dengan AS sangat kontras.

"Kalau masalah nari enggak ada masalah. Hanya yang merasa tinggi menyesuaikan dengan yang rendah, bukan yang lebih rendah yang menyesuaikan. Perhatikan kompaknya, itu saja," kata HB X.

Tim kesenian mengabadikan momen dengan foto bersama di dekat Bangsal Trajumas. Jumlahnya yang cukup banyak membuat beberapa orang harus duduk di bawah. Usai foto itu, CNNIndonesia.com berkesempatan berbincang dengan GKR Mangkubumi.

Wanita 46 tahun ini bukanlah orang yang asing dengan kehidupan luar negeri. Sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mengenyam pendidikan di Singapura. Kemudian dilanjutkan di sejumlah perguruan tinggi di California hingga akhirnya berlabuh di Griffith University, Birsbane, Australia.

GKR Mangkubumi menjelaskan banyak universitas di AS yang memiliki dan memelajari gamelan. Menurutnya banyak misi kebudayaan dari Jawa yang terbantu karena dari universitas ada tim karawitan (tim yang memainkan gamelan) yang mumpuni. Pun dengan Wesleyan University.

"Di satu sisi saya senang. Tapi di sisi lain, ayo, kita sendiri orang Indonesia harus bangga dengan gamelan dan tarian Jawa, jangan sampai ketinggalan, jangan sampai kalah dengan mereka yang intens dan aktif berlatih," kata GKR Mangkubumi.

Latihan Tari Bedhaya Sang Amurwabumi sudah berjalan sejak tiga bulan lalu. Sayang GKR Mangkubumi sibuk sehingga baru bisa menghadiri latihan beberapa waktu belakangan ini. Geladi resik kemarin menjadi latihannya untuk kali ketiga.

Ia mengingat sudah berlatih menari sejak usia enam tahun. Setiap ada kegiatan di dalam atau di luar Keraton, ia kerap ikut menari. Termasuk bila ada misi kebudayaan seperti sekarang.


Saat SMA, ia sempat menari dalam misi budaya di AS, baginya misi budaya nanti menjadi spesial karena bertandang dengan ayahanda.

"Kami ingin pengelanan budaya tidak hanya di Nusantara tapi di internasional juga. Edukasi masyarakat internasional bahwa tarian klasik seperti ini, karena kami punya yang klasik bukan modern," kata GKR Mangkubumi.

Total tim kesenian akan menampilkan tiga tarian. Selain Tari Bedhaya Sang Amurwabumi, mereka akan membawakan Tari Wayang Topeng - Klama Sewandana Gandrung dan Tari Golek Menak Umarmaya-Umarmadi.

KPH Notonegoro mengatakan hanya membawa tujuh pengrawit karena akan berkolaborasi mahasiswa dan dosen Wesleyan University yang turut menjadi pengrawit.

Serupa dengan tim kesenian, mahasiswa dan soden Wesleyan University sudah berlatih sejak beberapa bulan belakangan.

Mereka berlatih dengan Profesor Sumarsam, dosen Jawa yang sudah memainkan gamelan sejak kecil. Selain memiliki kemampuan bermain gamelan, ia juga memiliki kemampuan sebagai dalang.

"Masalah sedikit karena Profesor Sumarsam beraliran gaya Surakarta, Ini para mahasiswa dan dosen bekerja keras belajar gaya Yogyakarta," kata KPH Notonegoro.

Sebelum bertandang ke Wesleyan University, tim kesenian Karaton akan berkunjung ke Yale University untuk menggelar pertunjukkan wayang kulit purwa dengan lakon Arjuna Wiwaha.

Pertunjukan wayang tersebut sangat tepat karena Yale University menyimpan koleksi wayang kulit Jawa terbesar di AS. (end/stu)