KLa Project, Gelombang yang Mendobrak 'Pop Cengeng' Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 26/11/2018 00:50 WIB
KLa Project, Gelombang yang Mendobrak 'Pop Cengeng' Indonesia Kehadiran KLa Project pada tiga dekade silam dalam industri musik Indonesia membuka khasanah baru pada eranya, hadir sebagai alternatif dari 'pop cengeng'. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehadiran KLa Project pada tiga dekade silam dalam industri musik Indonesia sejatinya membuka khasanah baru. KLa Project hadir sebagai pop kreatif dan alternatif dari 'pop cengeng'.

Musik pop kreatif mulai muncul sejak era 1970-an dan terus berkembang sebagai alternatif musik 'pop cengeng' yang jadi tren pada dekade 1980-an di Indonesia.

'Pop cengeng' sendiri adalah istilah dari mantan Menteri Penerangan (saat ini Kemkominfo) Indonesia Harmoko untuk lagu pop bernuansa sendu.


Saking tak suka dengan lagu nuansa itu, Harmoko diketahui sempat melarang Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk memutar lagu pop cengeng.

Sedangkan pop kreatif mulai dikenal pada 1970-an saat Gank Pegangsaan lahir, sebuah grup musik beranggotakan Keenan Nasution, Harry Sabar, Fariz RM, Molly Gagola, Eet Sjahranie, Sitoresmi Prabuningrat dan Harry Minggoes.

Mereka terbentuk pada sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Barat, Menteng, Jakarta Pusat.


Di sana pula musisi Indonesia yang saat ini dianggap legendaris sering nongkrong. Beberapa di antaranya adalah Chrisye, Guruh Soekarno Putra dan Abadi Soesman. Mereka semua memainkan musik pop yang tergolong pop kreatif.

Fariz RM dan Dodo Zakaria adalah salah dua musisi yang konsisten memainkan musik pop kreatif pada akhir era 1970-an sampai 1980-an.

Pop kreatif semakin dikenal dan melahirkan beberapa musisi baru yang memainkan musik tersebut, salah satunya adalah KLa Project yang terbentuk di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada 1988.

Pengamat musik Wendi Putranto menilai KLa Project lahir meneruskan semangat pop kreatif. Saat masih menjadi jurnalis, ia pernah mewawancarai KLa Project yang menjelaskan bahwa DNA mereka adalah Fariz dan Ebiet G. Ade.

"Mereka membawa pembaharuan di akhir dekade '80-an. Saat itu masih kuat pop cengeng, tapi karya mereka dari segi musik dan lirik berbeda. Banyak yang menaruh harapan pada KLa saat itu," kata Wendi kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

KLa Project kala muncul tiga dekade silam meneruskan semangat pop kreatif yang jauh dari nuansa cengeng.KLa Project kala muncul tiga dekade silam meneruskan semangat pop kreatif yang jauh dari nuansa cengeng. (CNN Indonesia/Yoko Yonata Purba)

Selain Fariz RM dan Ebiet, musik KLa Project juga dipengaruhi musisi asal negara barat era 1980-an. Dua di antaranya adalah Duran Duran dan Mr. Mister yang sama-sama mengusung genre new wave, genre yang identik dengan bunyi-bunyian elektronik dari alat musik synthesizer.

Pada 1989, KLa Project merilis album perdana dengan tajuk namanya sendiri dengan genre new wave, atau di Indonesia genre itu tergolong dalam pop kreatif. Lagu Tentang Kita berhasil menjadi hit sehingga mendongkrak nama KLa Project.

Nama KLa Project semakin meroket ketika merilis album Kedua (1990) dengan lagu Yogyakarta sebagai hit.

KLa Project kian produktif pada dekade '90-an. Hampir dua tahun sekali mereka merilis album, yaitu Pasir Putih (1991), Ungu (1994), V (1995), KLakustik 1 (1996), KLakustik II (1996), Sintesa (1998) dan KLasik (1999).

Dapat dikatakan akhir dekade '80-an dan '90-an adalah masa-masa kejayaan KLa Project.


Mereka bukan hanya membuat album di era tersebut, namun KLa juga membuat konser tunggal, seperti Konser Ungu (1992), KLakustik (1996), Konser Empat Musim (2000), Five Senses (2006) dan KLa Returns (2009).

Selain itu, lagu yang direkam saat konser KLakustik di Gedung Kesenian Jakarta lewat dua album dianggap adalah keputusan yang sangat tepat.

"Tahun itu lagu zaman unplug, MTV Unplugged heboh di akhir dekade '80-an sampai akhir dekade '90-an, di Indonesia juga. Album KLakustik itu sukses berat," kata Wendi.

Di sisi lain, musisi Pongki Barata menilai kesuksesan KLa Project juga dipengaruhi kemampuan mereka yang mampu memadukan idealisme dengan selera pasar.

Terlebih, mereka memiliki lirik apik yang terdengar seperti sajak dan aransemen musik yang tidak terpaku pada satu pola saja.

Kemampuan Adi Adrian dalam menguasai kibor membuat kagum Jimi Multhazam.Kemampuan Adi Adrian dalam menguasai kibor membuat kagum Jimi Multhazam. (CNN Indonesia/Yoko Yonata Purba)

"KLa tidak terpaku pada satu aransemen. Misal pada 'Yogyakarta' mereka memasukkan unsur etnis, kemudian di lagu 'Gerimis' [ada] akustik. Lagu Sudi Turun ke Bumi [adalah] elektronik," kata Pongki saat berkorespondensi dengan CNNIndonesia.com di kesempatan terpisah.

Pongki merupakan salah satu musisi yang terlibat dalam album tribut bertajuk A Tribute To KLa Project (2011). Ia menyanyikan lagu Meski Telah Jauh bersama istrinya, Sophie Navita. Kala itu ia mendapat tawaran dari Lilo.

Selain Pongki, Lilo juga menawarkan band The Upstairs untuk terlibat dalam album tersebut. Lilo mengetahui bahwa The Upstairs mengusung genre new wave, dengan begitu ia menawarkan membawakan lagu Lantai Dansa. Ia menganggap Lantai Dansa adalah lagu paling new wave karya KLa Project.

"Awalnya gue mendengar KLa Project itu sebuah band pop yang kental synthesizer. Pertama tahu mereka dari klip Tentang Kita," kata vokalis The Upstairs Jimi Multhazam kepada CNNIndonesia.com di lain kesempatan.

Jimi mengaku hanya mendengar lagu-lagu KLa Project yang bertempo cepat. Lagu Lantai Dansa, Rentang Asmara dan Lagu Baru masih terekam di kepalanya sampai saat ini. Ia hafal mulai dari lirik, intro, dan tentu suara synthesizer yang dimainkan Adi Adrian.

"Adi Adrian salah satu kibordis terbaik Indonesia. Kalau bicara musik Indonesia yang bersinggungan dengan synthesizer, nama beliau wajib disebut. He-he-he," kata Jimi.

[Gambas:Youtube] (adp/end)