KLa Project Bersajak Melodi dari Selatan Jakarta

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 25/11/2018 12:11 WIB
KLa Project Bersajak Melodi dari Selatan Jakarta Katon, Adi, Lilo masih ingat betul ketika mereka bersama Ari membentuk KLa Project dari sudut bilangan Tebet, Jakarta Selatan hingga meraih kesuksesan. (CNN Indonesia/Yoko Yonata Purba)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Bayang raut wajahmu, luruh di bahu..."

Penggalan lirik dari lagu KLa Project bertajuk Lepaskan itu terdengar samar dari sebuah ruangan studio di satu gedung daerah Palmerah, Jakarta Barat, suatu malam di bulan November 2018.

Di ruangan itu, tiga pria yang namanya muncul ke publik sejak 1988, Katon Bagaskara, Adi Adrian, dan Romulo Radjadin alias Lilo, sibuk mengisi sisa-sisa hari dengan latihan demi konser 30 tahun mereka bermusik, Karunia Semesta.


Selama latihan yang semakin intens beberapa hari terakhir itu, Adi kerap memberikan arahan kepada Lilo di posisi gitaris dan Katon sebagai vokalis.

Adi memberi tahu kapan dan bagaimana petikan gitar serta vokal harus masuk pada setiap lagu yang dimainkan. Arahan juga ia berikan pada pemain tambahan yang menemani mereka kini dan nanti.

Setelah menjalani beberapa lagu, Adi kemudian keluar dari 'sarang' yang terdiri dari susunan segitiga kibor, synth, dan monitor, Katon bergerak menegak minuman, dan Lilo melepas gitar yang berselempang di tubuhnya sejak siang. Mereka menghampiri sejumlah bangku kosong yang ada di sudut ruangan.


"Panggil kami mas saja, jangan om karena kami masih muda. Keponakan-keponakan kami juga semua manggilnya mas," ujar Katon berkelakar yang memancing Adi dan Lilo tertawa di awal perbincangan CNNIndonesia.com dengan KLa Project malam itu.

Katon masih ingat jelas awal kisah KLa Project, yang tahun ini genap tiga dekade.

Kala itu, di dekade '80-an, ketiganya tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Lilo tinggal di Tebet Barat, Adi di kawasan Gudang Peluru, dan Katon serta mantan penggebuk drum, Ari Nurhani, tinggal di kawasan Tebet Timur.

Pada era 1970 sampai 1980-an, memang banyak band atau grup musik yang terbentuk dari salah satu kawasan karena antar anggotanya tinggal berdekatan, salah satunya grup musik Gang Pegangsaan yang terbentuk di Jalan Pegangsaan Barat pada dekade 1970-an. KLa mengikuti jalan yang sama.

Kala itu, kata Katon, ia sedang menyanyikan lagu buatan sendiri dengan gitar akustik dalam satu kegiatan. Lilo yang ada di samping Katon saat itu berkata, 'lagu itu enggak mau lo rekam?'.

KLa Project di masa awal, dari kiri ke kanan: Ari, Lilo, Adi, dan Katon.KLa Project di masa awal: Ari, Adi, Lilo, dan Katon. (dok. KLa Project)

Katon menjawab, ia hanya mau merekam lagu itu dengan format band agar menjadi lagu dengan aransemen yang baik.

"Saya sudah berteman dengan Ari sebelumnya. Dari situ Lilo memperkenalkan saya dengan Adi yang sudah main bareng sama Fariz RM. Adi punya pengalaman rekaman yang bagus," kata Katon.

Katon menjelaskan kelahiran KLa Project sangat bergantung pada Adi. Bisa dikatakan, band ini mungkin tidak akan ada kalau saat itu Adi tidak tertarik.

Beruntung Adi menaruh minat, sehingga sepakat membentuk KLa Project bersama Katon, Lilo dan Ari.

KLa diambil dari inisial nama setiap personel. K dan L yang ditulis dengan huruf kapital diambil dari nama Katon dan Lilo. Sementara a yang ditulis dengan huruf kecil diambil dari nama Adi dan Ari. Kata Project menandakan bahwa ada vokalis dalam band ini.


Merelakan Tabungan

Mereka yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) menggandrungi musisi dan genre musik yang cukup berbeda.

Katon menggemari Fariz RM, Ebiet G Ade, Dian Pramana Poetra dan David Foster. Adi menggemari Genesis serta Mr. Mister dan Lilo menggemari Duran Duran serta Genesis.

"Saya dan Adi sempat sempat main band membawakan lagu-lagu Genesis sebelum KLa terbentuk," kata Lilo sembari memetik gitar elektrik yang suaranya tidak dikeluarkan lewat pengeras suara.

Adi menambahkan, "Kami saling mempengaruhi dan saling tukar referensi musik satu sama lain ketika KLa terbentuk. Salah satu yang banyak mempengaruhi KLa adalah Mr. Mister."

Mister Mister adalah band beraliran new wave/pop rock asal Amerika Serikat yang terbentuk 1982. Wajar bila Adi berkata bahwa Mr. Mister sangat mempengaruhi KLa Project, pasalnya album perdana dengan penamaan diri sendiri yang rilis 1989 itu terasa bergenre new wave.

[Gambas:Instagram]

Adi menilai Lantai Dansa adalah lagu yang paling new wave dalam album perdana. Dalam lagu itu mereka tidak menggunakan bas dan drum, mayoritas suara dihasilkan dari synth yang ia mainkan. Tempo lagu yang cepat dengan sejumlah bunyi-bunyian elektronik memancing pendengar untuk bergoyang.

Tidak mudah bagi KLa untuk membuat album perdana. Selain segala proses rekaman yang masih analog, biaya rekaman saat itu terbilang mahal.

Katon yang sudah bekerja setelah lulus SMA menyisihkan gajinya untuk ditabung, dan merelakannya untuk membuat demo.

"Dulu itu inisiatif Katon, dia pakai uangnya yang didapat dari bekerja dan kemudian ngajak rekaman. Saya cuma nyumbang minuman teh. Kalau Katon enggak bikin demo, enggak jadi kita," kata Lilo.

KLa yang sudah memiliki demo lagu memberanikan diri menawarkan lagu pada sejumlah perusahaan rekaman. Mereka ingin bermusik secara mandiri, dengan harapan uang tabungan akan kembali bila hasil produksi bisa balik modal.


Mereka tidak pernah menyangka lagu Tentang Kita, Rentang Asmara dan Laguku meledak di pasar. Mereka terus berkarya hingga merilis album berikutnya yang bertajuk Kedua (1990) yang melahirkan lagu Yogyakarta sebagai hit.

Bahkan lagu Yogyakarta mendapat penghargaan dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1994.

'Hidup adalah Pilihan'

Seiring berjalannya waktu, nama KLa Project semakin dikenal, penggemar mereka semakin banyak yang biasa disebut KLanis.

Mereka pun terbilang produkif pada dekade 1990-an. Hampir setiap dua tahun KLa Project merilis album, seperti Pasir Putih (1991), Ungu (1994), V (1995), KLakustik 1 (1996), KLakustik II (1996), Sintesa (1998) dan KLasik.

Setelah merilis album Pasir Putih (1991), Ari memutuskan keluar dari KLa Projcet karena perbedaan visi. Namun kehilangan Ari tidak mengganggu mereka untuk terus berkarya.

Bagi mereka, musisi adalah insan yang bisa beradaptasi dengan keadaan apapun. Toh bila Ari tidak keluar mereka juga harus beradaptasi untuk mencoba hal baru.

"Buat kami dua tahun sekali bikin album itu enggak produktif, jarak waktu dua tahun cukup lama. Membuat album itu sakral bagi kami dan kami enggak mau dipaksa. Biasanya produser suka maksa dengan alasan mumpung lagi hit," kata Katon.

[Gambas:Youtube]

Bak kebanyakan band yang mengalami dinamika, pada 2001 giliran Lilo yang keluar karena perbedaan visi. Kemudian pada 2003 Adi serta Katon mengganti nama menjadi NuKLa dengan merekrut Harry Goro, Yul Priyatna dan Erwin Prasetyo.

NuKLa hanya berjalan seumur jagung. Tiga tahun setelah terbentuk, Erwin memutuskan untuk keluar.

Tak lama setelahnya, Katon kembali menyatakan band tersebut berganti nama. Kali ini, kembali menjadi KLa Project. Bak gayung bersambut, pada 2009, Katon, Adi dan Lilo menyatakan reuni yang ditandai perilisan album KLa Returns.

Mereka bertiga sempat menjalani karantina untuk memproduksi karya baru. Pada 2010, mereka merilis album bertajuk Exellentia dengan single Hidup adalah Pilihan. Lilo menyatakan masih ada sekitar 40 lagu hasil karantina yang belum dirilis.

"Kami bersyukur sekali bisa berusia 30 tahun, enggak banyak band yang bisa seusia kami," kata Adi. (end)