Arby Rahmat
Berbekal Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, laki-laki bertinggi badan 192 sentimeter ini mulai terjun ke dunia jurnalis bersama CNNIndonesia.com sejak 2014.

Mencintai Islam Lewat Musik Dian PP

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 14:32 WIB
Mencintai Islam Lewat Musik Dian PP Dian Pramana Poetra meninggal dunia pada Kamis (27/12) malam. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Begitu mengetahui kabar Dian Pramana Poetra meninggal dunia pada Kamis (27/12) malam, saat itu juga tebersit lirik lagu beliau berjudul Savana dari album Azza Wa Jalla di pikiran saya.

"Hanya pada-Mu, hanya untuk-Mu, ku serahkan jiwaku," begitulah kira-kira penggalan refrein pada lagu yang dirilis pada 2006 ini, kalau saya tidak salah ingat.

Maklum, saya sudah lama sekali tidak mendengar lagu tersebut. Terakhir kali dengar mungkin sekitar 8 tahun yang lalu saat saya berusia 18 tahun. Tapi tetap saja, melodi indah dan lirik yang mendalam ciptaan Dian membekas di ingatan.


Musisi Indonesia ini meninggal dunia di usia 57 tahun setelah dirinya disebut mengidap kanker stadium 4. Ia mengembuskan napas terakhir pukul 20.50 WIB.


Saya baru sampai rumah di Bogor sekitar pukul 22.00 WIB saat pertama tahu kabar duka itu dari grup percakapan kantor. Kaget dan sedih rasanya. Kesedihan itu rupanya juga dirasakan orangtua, khususnya ibu saya yang lebih dahulu menggemari karya-karya pria kelahiran Medan tersebut selama bertahun-tahun.

"Hah? Ah, yang benar?" kata ibu terkejut, demikian pula ayah dan adik saya.

Kami tak mengenal Dian, tapi ikut merasakan duka mendalam.

Dian mulai bermusik pada 1980. Ketika itu, ia sempat mengikuti kompetisi Lomba Cipta Lagu Remaja dan berhasil menempati posisi ketiga lewat lagu bertajuk Pengabdian.

Tiga tahun kemudian, ia membentuk 2D bersama Deddy Dhukun. Hingga kini, 2D telah merilis empat album dengan masing-masing bertajuk Keraguan (1987), Masih Ada (1989), Sebelum Aku Pergi (1996) dan Peluklah Diriku (2016).


Di samping itu, Dian juga membentuk grup musik Kelompok 3 Suara (K3S) bersama Deddy dan Bagus A. Ariyanto, dengan hit Bohong. Tak sampai di situ, ia berkolaborasi bersama Fariz RM dan melepas album bertajuk Fariz RM & Dian PP in Collaboration With yang berisi 13 lagu pada 2014.

Entah mengapa dari sekian banyak karya tenar Dian seperti Masih Ada, Biru, Melayang, dan lainnya, lagu-lagu dari album Azza Wa Jalla menjadi yang paling berkesan untuk saya pribadi. Mungkin karena hampir saban hari saya mendengarkan album itu di setiap perjalanan luar kota bersama keluarga.

Album Azza Wa Jalla, yang berarti Allah Maha Perkasa lagi Maha Agung, dibeli tak lama setelah rilis, dan langsung menjadi album musik favorit keluarga.

Pemilihan kata di setiap bait Dian di album tersebut terkadang memiliki makna tersirat yang mendalam, didukung dengan kombinasi tempo yang secara umum tak terlalu cepat serta alunan musik bernuansa pop modern. Ini yang menurut saya menjadi kekuatan dan perbedaan musik religi Dian dengan karya religi lain di Indonesia.

Dian Prama Poetra saat di atas panggung.Dian Prama Poetra saat di atas panggung. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Bagi kami sekeluarga, mendengar delapan lagu Dian pada album religi itu rasanya seperti mendapat rahmat. Album itu dibuka dengan Dian yang membacakan surah pembuka dalam Alquran, Al Fatihah.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al A'raf ayat 204, "Apabila dibacakan Alquran, perhatikanlah dan diamlah, maka kalian akan mendapatkan rahmat."

Dalam album ini, setiap kata dari Dian seakan berbicara dan mengajak orang untuk berkenalan dengan Islam. Ia seakan mencoba untuk mengajarkan ajaran Islam secara lembut dan perlahan kepada siapa pun yang ingin tahu lebih dalam mengenai ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Di trek kedua, Dian membuat lagu berjudul Syahadat. Dalam ajaran Islam, syahadat merupakan persaksian yang diikrarkan dengan lisan dan dibenarkan dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah. Syahadat merupakan kalimat pertama yang wajib diucapkan seseorang agar secara sah memeluk agama Islam.


Bahan renungan dan pelajaran kehidupan semakin lengkap dengan lagu-lagu ciptaan Dian berikutnya yang berjudul Dunia Akhirat, Minal Aidin Wal Faidzin, Kembali pada-Mu, Savana, Tiada Tuhan Selain Allah, dan Azza Wa Jalla.

Saya ingat betul ketika ayah tak bosan-bosannya mengulang lagu Minal Aidin Wal Faidzin dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor saat lebaran.

Perasaan ketika mendengar Azza Wa Jalla, sama seperti pada saat saya mendengar karya Chrisye yang berjudul Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lagu itu dirilis pada 1997, berdasarkan pandangan Islam pada Hari Pengadilan dan ayat 65 dari surah Yaasiin.

"Pada hari ini, kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada kami dan mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan," demikian bunyi surah itu.

Islam dan Seni Musik

Dian seakan menuruti hadis, "sampaikanlah walau hanya satu ayat," melalui musiknya.

Sebagian memang menganggap musik dalam Islam itu dilarang, namun ada juga yang tidak.

Islam memang mengajarkan para penganut ajarannya untuk mencintai keindahan lewat seni, salah satunya melalui musik yang merupakan bagian dari seni. Saya setuju dengan pernyataan Pakar tafsir Alquran sekaligus pendiri Pusat Studi Alquran, Prof. Muhammad Quraish Shihab, yang membenarkan kesenian adalah sesuatu yang disukai Allah SWT.

Quraish mengatakan Tuhan menciptakan manusia untuk membangun bumi.


"Membangun bumi itu berarti membangun peradaban. Peradaban itu bisa dikatakan terdiri dari tiga unsur pokok: kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Mencari yang benar menghasilkan ilmu, mencari yang baik menghasilkan moral, mencari yang indah menghasilkan seni," ucap Quraish dalam sebuah wawancara dengan sang putri, Najwa Shihab, yang diunggah lewat YouTube pada 10 Desember 2018.

"Jadi tugas kita [sebagai manusia adalah] mengembangkan seni sesuai dengan petunjuk-petunjuk Tuhan. Islam itu sangat menghargai seni dalam segala bentuknya. Nah, tapi Dia [Allah SWT] memberikan tuntunan supaya kita tidak melanggar/menyeleweng dari fitrah kemanusiaan," ucapnya menambahkan.

Sama dengan Dian, saya seorang Muslim yang juga gemar membuat puisi atau mencipta lagu di kala senggang. Saya pun suka bermain musik dalam beberapa kesempatan sebagai seorang pemain bass. Walau belum sehebat Dian, karya-karya dia cukup banyak mempengaruhi gaya bahasa saya dalam menciptakan sebuah lirik lagu.

Salah satu dari belasan lagu saya berjudul Lagu Tidur, ditulis untuk grup musik Sevenchords. Lagu itu telah didengar sebanyak 373 ribu kali dalam sebuah layanan streaming musik digital.

Dian Pramana Poetra meninggal karena kanker darah.Dian Pramana Poetra meninggal karena kanker darah. (Dok. Pribadi)
Melihat apresiasi dari masyarakat untuk mendengarkan musik saya saja sudah sangat menggembirakan hati. Apalagi jika sampai dapat menginspirasi sebuah keluarga untuk semakin dekat dan mengingat Tuhan seperti yang dilakukan Dian. Ini baru satu keluarga, saya tidak tahu berapa banyak keluarga lain yang membeli album tersebut, tentu pahala yang ia dapat berlipat. Wallahu a'lam.

Sangat disayangkan selama saya bermusik sejak 2007, belum sekali pun saya satu panggung dengan beliau. Dan selama kurang lebih empat tahun menjadi jurnalis di CNNIndonesia.com, saya pun belum pernah melihat bola mata dan menyapa Dian secara langsung.

Meski sekarang kehadirannya tiada mungkin lagi ditemui, saya beruntung bisa menikmati hasil karyanya selama ini.

Saya berharap agar seluruh karya Dian, terkhusus pada album Azza Wa Jalla terus ada hingga akhir masa di dunia. Bukan apa-apa, menurut saya album ini betul-betul memberikan efek yang baik khususnya anak muda yang sedang mencari kebenaran dan jati diri.

Pada malam terakhir jasad Dian di dunia, saya berdoa agar ia diampuni Allah SWT dari segala dosa, diterima semua amal ibadah, dan diselamatkan di alam kubur serta akhirat kelak. Aamiin. (rsa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS