Babad Ratu Tanah Jawa

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 12:45 WIB
Keraton Yogyakarta sedang gonjang-ganjing soal wacana sultanah pertama di Tanah Jawa. (Ilustrasi/Istockphoto/HildaWeges)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jauh sebelum perdebatan soal pemimpin perempuan pertama yang tengah ramai menyelimuti Keraton Yogyakarta, Bumi Mataram sejatinya pernah dikepalai seorang ratu.

Shima, seorang perempuan kelahiran Sumatera yang merupakan keturunan pemuka agama Hindu-Syiwa, memegang tampuk kepemimpinan di pantai utara Jawa sejak 674 hingga 694 Masehi. Ia menggantikan suaminya, Kartikeyasinga sebagai penguasa Kerajaan Kalingga.

Tak dinyana, di tangan Shima kerajaan itu mencapai puncak kejayaan. Sifat Shima yang adil dan tegas, tak pilih kasih soal hukuman meski kepada anak kesayangannya sendiri, dikenal seantero negeri. Di masa kepemimpinan Shima nyaris tak ada kejahatan dan pencurian.


Keturunan Shima kelak membuat menguasai Kerajaan Medang, yang lantas menjadi Kahuripan, pecah dan pindah kekuasaan ke Jawa Timur menjadi Kadiri, Singosari, kemudian dikuasai Majapahit. Setelah panji terbesar di Jawa itu runtuh, Kerajaan Demak tumbuh.


Demak merupakan cikal bakal Mataram Islam, yang belakangan terpecah menjadi dua: Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Keduanya masih dikenal hingga kini.

Di salah satunya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sejarah mungkin akan berulang. Keraton bakal dipimpin seorang perempuan, yakni putri tertua Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X, GKR Pembayun.

HB X sudah memberi gelar Mangkubumi kepadanya.

Gelar itu menjadi penanda seseorang biasanya akan naik takhta. Namanya kini menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Ia menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama penerima gelar Mangkubumi dalam sejarah kerajaan Jawa.

Lazimnya gelar Mangkubumi diberikan kepada putra raja tertua. Namun HB X hanya punya lima orang putri hasil pernikahannya dengan GKR Hemas. Pada 2015, muncul wacana putri tertuanya akan naik takhta, meski itu masih jadi kontroversi karena tak disetujui adik-adiknya.

Sri Sultan Hamengkubuwana X keluar dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta seusai mengeluarkan sabda raja yang menobatkan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi.Sri Sultan Hamengkubuwono X keluar dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta seusai mengeluarkan sabda raja yang menobatkan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Pada 30 April 2015 HB X mengeluarkan Sabda Raja untuk mengganti gelar.

Sejak 1989 ia bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gelar itu berubah menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubawono ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati-ing-Ngalaga Langgeng ing Bawana, Langgeng, Langgeng ing Tata Panatagama. Gelar Hamengku Buwana berubah menjadi Hamengkubawono. Kemudian gelar Abdurrahman, Sayidin dan Khalifatullah dihilangkan.

Lalu, 5 Mei 2015 HB X mengeluarkan Dawuh Raja, memberi gelar Mangkubumi pada putrinya. Muncullah wacana Kesultanan Yogyakarta akan dipimpin seorang perempuan.


Namun peluang perempuan memimpin Keraton semakin besar ketika Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan soal syarat pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang tercantum dalam Pasal 18 ayat (1) huruf m UU 13/2012 tentang Keistimewaan DIY pada Agustus 2017.

Pasal tersebut menjelaskan bahwa syarat cagub dan cawagub Yogyakarta harus menyerahkan daftar riwayat hidup yang memuat riwayat pendidikan, pekerjaan, saudara kandung, istri, dan anak. Kata 'istri' dalam aturan tersebut resmi dihapus karena dinilai diskriminatif karena seolah memberikan syarat bahwa raja dan Gubernur di Yogyakarta harus laki-laki.

(bersambung ke halaman selanjutnya...) (adp/rsa)
1 dari 2