FOTO: Menyunggi 'Tanduk' Rambut Leluhur

AFP/FRED DUFOUR, CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 14:44 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- 'Tanduk' rambut leluhur digunakan oleh etnis Miao. Mereka mengenakannya untuk kepentingan festival bunga atau yang disebut Tiaohuajie, tak lama usai Imlek.

Perayaan Tahun Baru China atau Imlek di Guizhou, China tidak bergemerlapan lampion dan riuh rendah barongsai. Tahun baru di sana dirayakan gadis-gadis yang menari berputar. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Mereka mengenakan kostum khusus, jaket bersulam mawar merah dengan motif geometris. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Namun yang khas dari penampilan mereka bukan hanya itu. Di atas kepala mereka ada gelungan rambut besar yang disunggi menyerupai menara. Di situ ada sejarah yang berharga. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Gelungan itu terbuat dari wol, benang dan rambut leluhur mereka yang sudah meninggal. Ia kemudian dibungkus dengan kain warna putih dan tanduk binatang. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Gelungan yang kemudian menjadi ‘tanduk’ itu hanya digunakan sekali setahun. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Itu sudah diturunkan dari satu generasi ke generasi lain dan dijaga bak benda pusaka. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Etnis yang menggunakannya disebut Long Horn (Tanduk Panjang) Miao. Mereka mengenakannya untuk kepentingan festival bunga atau yang disebut Tiaohuajie. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Etnis itu adalah minoritas dan yang paling banyak ditemukan di barat daya China. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Total, ada sembilan juta orang yang termasuk dalam etnis Miao, dan 5.000 di antaranya tinggal di desa-desa terpencil di Guizhou. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)
Festival bunga yang menjadi satu-satunya kesempatan mengenakan ‘tanduk rambut leluhur’ itu biasanya diselenggarakan pada hari ke-10 setelah perayaan Tahun Baru China. (Photo by FRED DUFOUR / AFP)