Ulasan Film: 'Dilan 1991'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 01/03/2019 16:53 WIB
Ulasan Film: 'Dilan 1991' Dilan masih punya segudang gombalan di 'Dilan 1991.' (dok: Max Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berganti film dengan jarak setahun-Dilan 1990 ke Dilan 1991-Dilan masih pandai merayu. Namun porsinya tak sebanyak dahulu.

Kalau di film pertama Dilan membuat Milea mabuk kepayang, sekarang karakter yang masih diperankan Iqbaal Ramadhan itu justru membuatnya dilanda kebingungan.

Kisah cinta mereka yang diawali dengan 'proklamasi' di Warung Bi Eem, 22 Desember 1990 dan di film ini dilanjut dengan hujan-hujanan naik motor keliling Bandung dengan motor CB 100, makin diwarnai konflik.


Salah satunya karena Dilan bersikukuh berada di dalam geng motor meski Milea melarang dan mengancam putus. Masalah Dilan dengan Anhar, kawan yang menampar Milea di film pertama, masih terus bergulir.


Itu ditambah kemunculan sejumlah karakter baru yang membuat hubungan sepasang remaja SMA era 1990-an yang diangkat dari novel trilogi karya Pidi Baiq itu kian rumit.

Kolaborasi antara sutradara Fajar Bustomi dengan sang empunya cerita kembali berhasil memvisualisasikan kisah dari novel. Meski ada beberapa bagian yang dipotong, itu tak berpengaruh besar. Benang merah cerita tetap dapat terjalin dengan baik.

Bahkan dialog yang digunakan 80 persen mengikuti bukunya.

Akting Iqbaal dan Vanesha Prescilla yang masih menjadi Milea di film ini lebih luwes dan tereksplorasi ketimbang sebelumnya. Keduanya bisa menempatkan emosi yang pas di beberapa adegan. Hanya saja, pada beberapa adegan menangis, Vanesha tampak kurang meyakinkan.

Kalau dulu Dilan pintar merayu, kini ia lebih banyak membuat Milea kebingungan.Kalau dulu Dilan pintar merayu, kini ia lebih banyak membuat Milea kebingungan. (dok: Max Pictures)
Akting Iqbaal sendiri terasa kurang maksimal. Misalnya saat mengumumkan hubungannya dengan Milea di hadapan teman-temannya, Iqbaal yang menggunakan bahasa Sunda terdengar buru-buru. Logat Sundanya pun tak terdengar seperti bertutur, melainkan seperti sedang menghafal.

Namun karakter Dilan di sekuel ini terasa lebih manusiawi.

Pada film pertama, karakter Dilan seolah menjadi ikon dambaan wanita dengan segala tingkah manisnya. Ia rela melakukan apa pun demi cinta. Namun di Dilan 1991, karakter tersebut lebih terlihat memiliki sikap atas pilihannya sendiri. Dilan tak lagi dibutakan sepenuhnya oleh cinta.


Bila sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun bisa hilang dari muka Bumi jika mengganggu Milea, kini ia sendiri bisa begitu cuek.

Ada pula momen saat ia mengutamakan kepentingannya sendiri, menunjukkan bahwa kawannya memiliki bagian penting dalam hidup.

Itu seperti apa yang biasa terjadi dalam percintaan di dunia nyata. Laki-laki berjuang mati-matian demi mendapatkan perempuan yang ia mau, lalu berubah saat sudah mendapatkannya sebagai kekasih. Tak ayal, Dilan 1991 pun terasa lebih natural dengan itu.

Dilan saat berboncengan dengan Milea menembus hujan di Kota Bandung.Dilan saat berboncengan dengan Milea menembus hujan di Kota Bandung. (dok: Max Pictures)
Beberapa karakter pendukung justru lebih menarik perhatian, seperti teman geng motor Dilan saat selamatan hari jadi Dilan-Milea, TJ sebagai ibu dari Anhar, hingga guru-guru di sekolah Dilan. Peran mereka cukup memberi warna yang menyegarkan di film ini.

Tokoh ayah Dilan yang dimainkan oleh Bucek Depp pun cukup berhasil memberi gambaran yang tepat akan sosok seorang letnan TNI dan ketegasannya. Sayang, sorot kamera yang ditujukan padanya saat mengenalkan karakter terasa terlalu lama, padahal penokohannya sudah karismatik.


Yang cukup mengganggu dari Dilan 1991 adalah kemunculan karakter Yugo dan Mas Herdi. Peran keduanya terasa kaku dan kurang pas.

Latar tahun 1990-an digambarkan cukup pas dengan suasana kota Bandung yang masih sepi sebelum dipadati kendaraan. Adegan di bioskop pun benar-benar disesuaikan dengan keadaan saat itu. Loket yang kuno dan tertutup, hingga poster-poster film jadul.

Riasan wajah para pemain kali ini tak lagi terlihat berlebihan. Hanya rambut sambungan Vanesha yang cukup mengganggu. Setiap kamera 'close up' ke wajahnya, rambutnya terlihat tak natural.

Secara keseluruhan, film yang menggambarkan kisah cinta remaja ini mampu mengadaptasi cerita dari novelnya dengan cukup baik. Dilan 1991 bisa menjadi hiburan bagi para remaja dan layak dinikmati untuk sekadar bernostalgia.

[Gambas:Youtube] (agn/rsa)