LIPUTAN KHUSUS

Guyub dan Akrab di Layar Tancap

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 10:02 WIB
Guyub dan Akrab di Layar Tancap Budaya menonton layar tancap seakan 'mendarah daging' bagi masyarakat Indonesia. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalau bukan di daerah pinggiran, sudah hampir tidak mungkin menemukan bentangan layar putih dengan gambar bergerak yang ditonton puluhan, bahkan ratusan orang di tanah lapang.

Layar tancap, demikian ia dikenal. Bukan hanya membawa tawa, melainkan juga nostalgia.

Sebab layar tancap biasanya memang menyuguhkan film-film lawas. Bollywood, Rhoma Irama, Barry Prima, Suzzanna. Film-film 1970-an atau 1980-an. Di tahun-tahun itu, layar tancap memang sedang jaya-jayanya. Diputar di mana-mana. Keliling dari kampung ke kampung.


Kebetulan, di masa itu pula film Indonesia mencapai puncak kejayaan.

Film-film yang sudah 'lengser' dari bioskop biasanya 'dilungsurkan' pada pengusaha layar tancap. Itulah yang mereka bawa-bawa dari satu hajatan ke hajatan lain, diputar di bentangan layar yang ditonton mulai anak-anak sampai dewasa, semalam suntuk.

Layar tancap memang hiburan yang merakyat. Menontonnya saja gratis. Yang membayar sewa biasanya si empunya hajat. Sejak dahulu diperkenalkan Jepang pada 1940-an, konsep layar tancap mencari massa. Berbeda dari bioskop 'bikinan' Belanda yang elitis.

Saat bioskop pertama didirikan pada 1900, bayarannya saja setengah Gulden, setara dengan 10 kilogram beras. Dengan layar tancap-dahulu diperkenalkan sebagai bioskop keliling, Jepang membuat layar tancap gratis. Masyarakat berkumpul, propaganda lebih masif.

Tak heran saat Indonesia telah merdeka, layar tancap masih berperan sebagai alat 'pemersatu.' Masyarakat 'diundang,' diberi penyuluhan, atau edukasi dengan itu.

Lama-kelamaan, budaya wayang dan orkes dangdut yang sudah lebih dahulu menjamah rakyat kecil, tergantikan oleh layar tancap. Itu sangat sesuai dengan kebiasaan yang mendarah daging di masyarakat Indonesia: guyub. Layar tancap menciptakan ruang interaksi antarindividu.

Anak-anak bisa bermain sampai malam. Jajan sesuka mereka. Muda-mudi bisa mejeng, bahkan mencari jodoh. Para paruh baya, melepas penat menyaksikan film sembari ngobrol dan ngemil.

Dalam satu malam, layar tancap bisa memutar sampai lima film.

Budaya itu mulai tergerus saat ruang kosong di kota-kota besar mulai menyusut. Bioskop juga semakin menjamur. Belum lagi, belakangan, menonton streaming lebih 'gaya.'

Layar tancap terpinggirkan.

Namun bukan berarti mereka menghilang. Di kantong-kantong Jakarta seperti Bekasi dan Bojong Gede, masih ada pengusaha layar tancap, bahkan yang menyimpan pemutar seluloid dan mengoleksi rol-rol film yang dibintangi Barry Prima, Rhoma Irama, maupun Suzzanna.

Masih ada pula yang menyewa jasa mereka. Per layar bisa ratusan ribu sampai Rp1,5 juta. Tergantung jauh dekatnya jarak penyewa. Dalam sebulan, setidaknya empat kali layar keluar.

Semakin hari, pengusaha layar tancap kian beradaptasi dengan teknologi. Mereka tak lagi mengandalkan pemutar seluloid. Ada yang sudah pakai komputer, menyimpan film hasil unduhan di dalam CPU maupun flash disk. Penyewa bahkan bisa request mau film apa.

Para pengusaha itu, adalah mereka-mereka yang masih bertahan demi hobi. Mereka suka film dan senang melihat suasana akrab di layar tancap. Mereka juga punya niat mulia melestarikan budaya Indonesia yang sudah ada sejak zaman penjajahan.

Budaya yang akan terus hidup selama masyarakat Indonesia masih suka guyub, gotong-royong, atau begadang sampai semalam suntuk seperti menonton wayang.

CNNIndonesia.com menyuguhkan laporan khusus tentang kehidupan mereka, juga fenomena-fenomena layar tancap yang menjadi salah satu tonggak penting perfilman Indonesia.
(rsa/rsa)