ULASAN KONSER

Terbius Bahasa Jari John Mayer di Jakarta

Renata Angelica, CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 18:46 WIB
Terbius Bahasa Jari John Mayer di Jakarta John Mayer saat tampil di ICE, Bumi Serpong Damai, Jakarta pada Jumat (5/4) malam. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- John Mayer memang acap kali diidentikkan dengan lagu-lagu cinta yang membuat hati meleleh atau deretan kekasihnya seperti Jennifer Aniston dan Taylor Swift. Namun bukan sosok itu yang saya temukan di panggung ICE Bumi Serpong Damai, Jumat malam, ketika ia kali pertama menggelar konser di Indonesia, 17 tahun setelah ia mengeluarkan album pertama pada 2001 silam. 

John Mayer yang berdiri di atas panggung itu adalah seorang musisi yang demikian menikmati musik dalam bentuk paling murni. Kecintaannya itu yang kemudian direspons dan memuaskan para penggemar yang hadir.

Saya sendiri bukan penggemar berat John Mayer dan tak begitu mengikuti album-albumnya. 'Battle Studies' adalah album terakhir miliknya yang saya dengarkan secara serius.


Tetapi ia tak pernah lepas dari radar, karena ia suka musik blues dan punya John Mayer Trio. Ia pernah berkolaborasi dengan B.B King, Buddy Guy dan Eric Clapton, para dedengkot musik blues. Artinya, orang ini bukan sekadar penulis lagu cinta pemuja wanita.

Malam itu, Mayer muncul di panggung mengenakan kaos warna hijau army seperti yang saya biasa pakai ke kantor, ditambah celana jeans dan bandana diselipkan di kantong belakang. Ia membawa sepasukan anak band, dua penyanyi latar dengan kemampuan vokal luar biasa, dua gitaris, seorang bassist, seorang drummer dan seorang pemain perkusi serta keyboardist.
Terbius Bahasa Jari John Mayer di JakartaUntuk kali pertama, John Mayer menggelar konser di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Mayer membuka aksinya dengan Belief, Helpless dan Love on The Weekend. Penonton pun histeris sementara saya manggut-manggut mengakui angkuhnya jari-jemari Mayer menari di atas senar.

Setelah Love on The Weekend, baru pria 41 tahun itu menyapa, "Jakarta, how are you?" dengan suara rendah.

"Senang rasanya akhirnya bertemu kalian. Saya membaca surel-surel-mu, sungguh saya membacanya," kata Mayer, membuat penonton di kelas Premium makin histeris.

Queen of California, Guess I Just Feel Like, Something Like Olivia dan Changing menyusul kemudian. Sembari mengutak-atik gitar sebelum Changing, Mayer menyempatkan diri menengok dan berkata, "I love you too," pada seorang penggemar. Lagi-lagi penonton meleleh.

Clarity disusul Edge of Desire, dan ketukan Waiting on The World To Change sontak membuat penonton penyanyi bersama.

Mayer dan tim panggungnya kemudian rehat sejenak sekitar 21.15 WIB. Lima belas menit kemudian, lampu panggung kembali dinyalakan. Untuk sesi kedua, Mayer muncul seorang diri dengan gitar akustik, memainkan XO, Your Body Is A Wonderland, serta Neon dan In You Atmosphere, tak lupa ia pamer kemampuan mempermainkan nada di senar di lagu epik In Your Atmosphere. (Oke, John Mayer, oke, kami paham).

Anggota band-nya kemudian bergabung kembali dan kemeriahan berkelas ini dilanjutkan dengan Vultures, Rosie dan Slow Dancing In A Burning Room, salah satu lagu romantis kesukaan saya.

Mayer memberi kejutan ketika salah seorang gitarisnya angkat suara di depan mic  dan memberi warna berbeda di konser meski hanya beberapa saat.

Saat itu saya pikiran saya sempat melayang, membayangkan bahwa dengan pertemanan bersama orang-orang bertalenta yang berbagi panggung dengannya, Mayer tidak benar-benar perlu peduli apa kata orang tentang dirinya.

Tampaknya belakangan ini Mayer memang telah mencapai level lain dalam hidup. Hal ini tergambar melalui musikalitasnya dengan memainkan musik pop dengan rumit. Anehnya, musik itu masih saja enak di telinga.

Video musik New Light, contohnya. Salah satu keisengan Mayer, menurut saya. Ia tampil memakai piyama dan apapun yang tidak akan disetujui semua fashion stylist dan menggerak-gerakkan badannya dengan percaya diri sepanjang lagu. Tetapi New Light begitu pop, begitu mudah diterima telinga.
Pertama kali mengeluarkan album pada 2001, John Mayer baru pada Jumat (5/4) kemarin konser di Jakarta.  John Mayer mengaku menggelar konser di Jakarta karena diminta para penggemarnya lewat media sosial. (CNN Indonesia/Safir Makki)


Kembali pada konser semalam. If Ever Get Around to Living, Stop This Train, In The Blood dan Dear Marie menyusul, sebelum Mayer memperkenalkan kawan-kawan panggungnya yang mendapat sambutan meriah dari penonton.

Lalu mereka masuk ke dalam panggung dan penonton mulai memohon mereka kembali.

Apalah arti sebuah konser tanpa encore?

Dari balik keyboard, Mayer memainkan You're Gonna Live Forever In Me. Di bawah satu lampu sorot warna biru, saya harus mengakui musisi ini menarik dalam cara tertentu, terutama ketika bersentuhan dengan instrumen musik.

New Light dan Gravity melengkapi konser Mayer di Jakarta, setelah mereka membungkukkan badan sebagai penghormatan kepada audiens.

Selesailah sudah penantian penggemar Mayer yang selama ini harus terbang ke Singapura atau Thailand untuk menonton konsernya.

Sekilas, membaca ulasan ini, barangkali konser Mayer kelihatan biasa saja. Tidak spektakuler menggunakan banyak properti seperti Taylor Swift atau Bruno Mars, tetapi Mayer memang bukan sekadar bintang pop. Ia adalah seorang musisi, yang berbicara melalui nada. Gitar adalah 'bahasa' dan jari-jemari Mayer adalah 'mulutnya'.

Sepanjang konser, Mayer terlihat larut dalam instrumennya. Ia kerap berinteraksi dengan anggota band, tersenyum ketika mereka memainkan beberapa bagian dengan manis, dan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia demikian menikmati musik.

Ia berulang kali mengulum senyum ketika memandangi gitar yang membuat kami yang menontonnya akan berpikir, "Mayer benar-benar senang bermain musik."
Terbius Bahasa Jari John Mayer di JakartaJohn Mayer tidak menggunakan properti spektakuler saat konser, tapi membius penonton lewat raungan gitarnya. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Buat saya, John Mayer adalah seorang musisi dalam artian sesungguhnya. Seorang gitaris. Bukan bintang pop. Vokal hanyalah bonus, demikian pula rambut acak-acakan, serta kemampuannya menulis lirik yang bisa bikin cewek-cewek 'meleleh'.

Ia menikmati panggung dan membagikan musik dengan pendengarnya. Ia memainkannya dengan hati, dengan jiwa. Tidak perlu latar panggung bermacam-macam, sedikit tema tie-dye saja sudah cukup, kadang diimbuhi laser warna-warni. Sesederhana sosok Mayer dengan kaus hijaunya itu.

Ia terlihat seperti seorang teman lama yang bisa kau ketuk pintu kamarnya setiap waktu dan ia ada di dalam, bersantai atau pegang gitar, dan kalian akan mengobrol tentang musik.

Sang bintang sendiri tak banyak berinteraksi dengan audiens, tetapi setiap mengatakan sesuatu melalui mic, ia seperti mengajak bicara seorang teman.

Tampaknya, Mayer sendiri terkejut dengan yang dilihatnya semalam, ketika penonton tak ragu meneriakkan lirik-liriknya. Dalam unggahan Instagram hari ini, Sabtu (6/4), ia mengatakan:

"Jakarta, Indonesia: Ini adalah tentang Instagram membangun jembatan antara artis dan penggemar yang sebelumnya tidak tahu dia miliki, jika para penggemar tak mencarinya di media sosial. Baiklah, saya tak akan diam saja - sayalah artis itu. Dan penggemar? Well, mereka adalah 10,000 teman baru yang bernyanyi dan tersenyum. Terima kasih, Jakarta, untuk malam yang indah," tulisnya, mendampingi serangkaian foto.

[Gambas:Instagram]

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya akan memberi tahu sebuah hal. Mendiang Mac Miller pernah bekerja sama dengan Mayer dalam lagu Small Worlds. Mayer tampil membawakan lagu yang sama di acara penghormatan Mc Miller: A Celebration of Life. Perhatikan menit 2:20 dan 4:31-selesai, itulah sosok John Mayer yang saya maksud.

[Gambas:Youtube]

(vws)