FOTO: Geliat Seni di Tengah Kecamuk Perang Tripoli

REUTERS/Ahmed Jadallah, CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 06:43 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Tak seperti kebanyakan warga Libya yang memilih pindah karena kota tua Tripoli terbengkalai akibat perang, Mustafa Iskandar justru membuka galeri seni.

Tripoli boleh berperang, tapi hati Mustafa Iskandar tak ikut panas. Seiring perang yang kembali berkecamuk di Libya, pebisnis itu membuka galeri seni dan pusat budaya. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Ia tak seperti kebanyakan warga Libya yang memilih pindah ke distrik modern karena kota tua Tripoli telah dipenuhi sampah dan bangunan peninggalan Roma yang butuh perbaikan. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Iskandar justru membeli rumah yang terlantar di dekat ‘gapura’ Mark Aurelius peninggalan Roma dan merogoh kocek US$720 ribu untuk menyulapnya jadi semakin ‘nyeni.’ (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Iskandar menjadikan itu rumah bagi seniman. Lukisan-lukisan digantung, perabot-perabot jadul yang dikumpulkan bertahun-tahun dari Eropa ia pindahkan ke bangunan itu. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Ia kemudian mengundang para duta besar dan seniman untuk berkunjung. Hanya seniman yang tertarik, para diplomat tak ada yang datang. Alih-alih, bising jet militer yang terdengar. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Namun Iskandar tak putus asa. Ia ingin memberi sinyal kepada orang-orang bahwa Tripoli masih hidup, bersama dengan sejarahnya sebagai tempat para kolonialis, Muslim, Yahudi dan Kristen hidup dengan harmonis selama bertahun-tahun. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Apalagi lokasi galeri seni Iskandar sangat strategis, dekat dengan hotel di mana turis membanjir sampai Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Sejak itu, kota tua Tripoli seakan terlupakan. Proyek-proyek pemerintah untuk merehabilitasi bangunan-bangunan tua di Tripoli terbengkalai begitu saja. Alih-alih harmoni seni, adalah kekacauan yang terjadi sejak itu. Sampai orang-orang seperti Iskandar membuka galeri seninya. (REUTERS/Ahmed Jadallah)


BACA JUGA