'Dunia dalam Berita' Kembali Hadir di Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Senin, 29/04/2019 16:27 WIB
'Dunia dalam Berita' Kembali Hadir di Indonesia Museum MACAN pamerkan 'Dunia dalam Berita.' (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Museum MACAN mengadakan pameran terbaru yang akan dibuka 1 Mei mendatang. Pameran yang diberi tajuk 'Dunia dalam Berita' ini menelaah tentang perkembangan seni kontemporer Indonesia di masa menjelang dan setelah Reformasi 1998.

Sejumlah karya dari 10 perupa kontemporer kenamaan Indonesia itu bakal dipamerkan sampai 21 Juli mendatang. Para perupa itu termasuk Agus Suwage, FX Harsono, Heri Dono, I GAK Murniasih, I Nyoman Masriadi, Krisna Murti, Mella Jaarsma, S. Teddy D, Taring Padi, dan Tisna Sanjaya.

Dijelaskan Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN dalam jumpa pers pada Senin (29/4) di Jakarta, 'Dunia dalam Berita' membahas hubungan antara praktik berkesenian dan pengaruh peristiwa politik pada periode penting perjalanan Indonesia.


"Reformasi memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan kebebasan berekspresi, transformasi lansekap media massa dan ekspresi artistik," kata Aaron.


Dia menambahkan, "Peristiwa tersebut membuka kesempatan yang lebih luas bagi para perupa untuk mengakses informasi, dan memfasilitasi cara-cara baru untuk mengekspresikan ide kepada publik."

Tajuk 'Dunia dalam Berita sendiri sengaja dipilih karena terinspirasi dari program berita populer di TVRI, yang telah ditayangkan sejak 1973. Itu dikonfirmasi Kurator Museum MACAN Asep Topan. Proses kurasinya berpusat pada dua peristiwa penting dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia.

"Latar belakang pameran ini berdasarkan dampak transisi dari era Orde Baru ke Reformasi pada sekelompok perupa antara 1990-an hingga awal 2000-an, juga pengaruh kultur pop global di Indonesia, yang muncul dari demokratisasi media dan visual," katanya.

Dalam pameran ini, lanjut Asep, 'Dunia dalam Berita' diinterpretasi ulang sebagai cara-cara para perupa melihat dunia lewat pemberitaan dan media massa. Sebagai sebuah ikon, program televisi Dunia dalam Berita mewakili berbagai perubahan politis, sosial dan teknologi yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.


Pada periode 1990-an hingga awal 2000-an, dua pembaruan dibuat: Undang Undang Dasar 1945 Pasal 28 diperbaiki untuk menjamin kebebasan berekspresi dan berkomunikasi setiap orang; dan pengesahan Undang Undang No. 40 tahun 1999 tentang Kebebasan Pers.

Pembaruan ini memungkinkan kemunculan beberapa stasiun TV, radio dan media cetak swasta baru. Sebelumnya, bisnis media massa dikontrol secara ketat oleh negara.

"Dengan kebebasan media yang baru disahkan, perusahaan media dapat menawarkan program, termasuk hiburan, yang lebih beragam, termasuk program dari luar Indonesia, yang kemudian mengekspos masyarakat Indonesia terhadap kultur pop global," tambahnya.

Heri Dono menginterpretasikan ulang visual tradisional untuk membahas isu sosial dan relasi kekuasaan dalam panggung politik nasional. Sedangkan Mella Jaarsma dan I GAK Murniasih mengeksplorasi tubuh dalam konteks politis dan gender dalam karya-karya mereka, mewakili identitas politik dalam kritik budaya.


Dalam karya-karya I Nyoman Masriadi, S. Teddy D., Agus Suwage dan Tisna Sanjaya, teks dan visual populer muncul dalam gaya satir yang mengandung komentar kritis seputar peristiwa dan fenomena sosial. Perupa FX Harsono dan Krisna Murti menggunakan visual dari media massa seperti iklan dan berita untuk memaknai kembali situasi politis dan sosial masa itu.

Dan kelompok perupa Taring Padi mengekspresikan kritik sosial mereka lewat bahasa visual yang menyuarakan perlawanan dan pemberdayaan masyarakat lewat karya spanduk dan poster.

"Karya ini merupakan bagian dari rangkaian proyek pada 1999, bagaimana Taring Padi menyikapi problem-problem masa itu lewat poster. Masing-masing anggota buat satu setelah itu dicetak bersama dan ditempel ruang-ruang publik di berbagai kota termasuk Jakarta dan Yogyakarta," kata Hestu, salah satu pendiri Taring Padi.

Karya Taring Padi ikut dipamerkan dalam 'Dunia dalam Berita.'Karya Taring Padi ikut dipamerkan dalam 'Dunia dalam Berita.' (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pada saat itu kelompok Taring Padi berfokus untuk menyuarakan permasalahan seperti pergantian rezim, adu domba etnis hingga kekerasan fisik.

"Itu seperti virus yang akan menular ke yang lain dan untuk meredam Taring Padi sebagai pelaku seni, budaya, dan juga aktif di bidang sosial, harus bersikap untuk memberi kontribusi terhadap situasi yang terjadi," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Pameran 'Dunia dalam Berita berlangsung' pada 1 Mei hingga 21 Juli 2019. Tiket dijual mulai Rp80 ribu (anak-anak), Rp90 ribu (pelajar), dan Rp100 ribu (dewasa). (agn/rsa)