Ulasan Film: X-Men: Dark Phoenix

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 15/06/2019 16:56 WIB
Ulasan Film: X-Men: Dark Phoenix X-Men: Dark Phoenix sejatinya diperuntukkan menutup saga X-Men. (20th Century Fox Film)
Jakarta, CNN Indonesia -- Frasa save the best for the last rasanya sangat tak tepat disematkan untuk X-Men: Dark Phoenix yang menjadi penutup saga X-Men. Hampir tidak ada celah untuk memuji film yang berdurasi 113 menit ini. Sebaliknya, eksekusi cerita, pembentukan karakter, transisi antar adegan hingga efek visual menjadi hal yang mengganggu.

Film yang ditulis dan disutradarai Simon Kinberg ini bercerita tentang Jean Grey (Sophie Turner) yang terpapar kekuatan misterius saat misi penyelamatan astronaut. Kekuatan itu membuat Jean semakin kuat, namun di sisi lain ia tidak bisa mengendalikannya.

Jean semakin tak terkendali dan berubah menjadi jahat ketika 'disetir' oleh karakter jahat bernama Vuk (Jessica Chastain). Dalam perjalanannya, Jean tak segan menyerang menggunakan kekuatan yang berakibat teman-temannya terluka parah.



Kisah tersebut sebenarnya menarik bila digarap dan diceritakan dengan baik. Cerita Jean menggunakan kekuatan mutan untuk melakukan kejahatan sebenarnya menarik, mengingat ia merupakan salah satu anggota X-Men dengan kekuatan luar biasa. Tapi X-Men: Dark Phoenix tak punya naskah yang baik.

Perkembangan karakter Jean menjadi jahat diceritakan cukup rumit karena melibatkan masa lalu dan Professor Charles Xavier (James McAvoy). Sementara, dengan mudah Jean kemudian bisa kembali menjadi baik dan berbalik melawan karakter jahat.

Itu membuat cerita yang berpusat pada Jean menjadi nanggung alias tidak klimaks. Setelah melewati berbagai masalah yang cukup rumit hingga merubah sifat Jean, ia ternyata bisa berbalik dengan sangat mudah.

Hal berikut yang mengganggu adalah pembentukan karakter antagonis, Vuk dan kawanannya. Asal-usul karakter Vuk sangat tidak jelas hingga terasa seperti karakter tempelan yang dipaksakan muncul.


Film ini semakin buruk ketika Kinberg tidak bisa menjahit antar adegan dengan baik. Satu adegan belum selesai lalu sudah berpindah ke adegan lain sehingga perpindahan adegan tak terasa mulus.

Ini terlihat dalam adegan ketika Jean bertemu dengan Vuk di sebuah bar. Seketika adegan itu berpindah pada sekumpulan X-Men yang menyusun rencana untuk membawa Jean kembali pulang.

Semua ditutup dengan efek visual yang juga buruk. Mayoritas adegan laga yang menyajikan pertarungan antara mutan dibalut dengan efek seadanya, seperti adegan saat sesama mutan bertarung di jalan raya dan adegan pertarungan di atas kereta.

Satu-satunya yang bisa dipuji dari film ini adalah kualitas akting Sophie Turner yang baik. Pun begitu dengan McAvoy, Michael Fassbender dan Jennifer Lawrence.

Akhirnya, sayang sekali, X-Men sebagai salah satu waralaba sukses ditutup dengan film yang buruk dan tidak berkesan.


[Gambas:Video CNN] (adp/stu)