Orkes Tanjidor Betawi, Pengiring Dansa Para Tuan Tanah

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/06/2019 11:33 WIB
Orkes Tanjidor Betawi, Pengiring Dansa Para Tuan Tanah Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai salah satu seni budaya Betawi, orkes tanjidor memiliki sejarah panjang. Asal muasalnya disebut memiliki beberapa versi. Ada yang menyebut mereka dibawa oleh bangsa Portugis, sementara sebagian lagi mengatakan mereka merupakan 'sisa' dari kebiasaan berpesta orang Belanda saat menjajah Indonesia.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi condong sepakat dengan pernyataan kedua. Menurutnya, kata 'tanjidor' sendiri sebenarnya terdiri dari dua suku kata, yaitu 'tanji' dan 'dor'.

"Awalnya 'tanji', enggak pakai 'dor'. Tanji itu onderneming, artinya perkebunan, jadi [dianggap] rumah pemilik perkebunan. Mereka itu musik tuan tanah, jadi ketika sewaktu-waktu ada tamu itu dikasih musik," katanya kala dihubungi CNNIndonesia.com.


Ridwan menegaskan, para pemusik itu sepenuhnya berstatus karyawan atau pekerja. Hanya saja tidak di perkebunan, melainkan semata memainkan musik. Tuan tanah pemilik perkebunan lantas menampilkan para pemusik tersebut untuk mengiringi pesta yang lekat dengan acara dansa.


"Kalau ada pesta, mereka [tuan tanah] tidak mencari-cari [pemain] musik, mereka sudah ada musik yang namanya musik tanji, musiknya pemilik rumah," katanya lagi.

Sebelum musik tanji yang dimulai sekitar akhir abad 19, ujar Ridwan, orang-orang Belanda memiliki musik 'dansu'. Semua personelnya masih orang Belanda sendiri, sementara musik tanji sepenuhnya diisi oleh orang Indonesia. Ketika negeri ini bergolak karena revolusi pada 1945, tuan-tuan tanah memilih melarikan diri. Para pemusik yang ditinggalkan di perkebunan pun kebingungan, tak tahu harus berbuat apa.

"Tukang-tukang musik keluar dari perkebunan, dari situ disebut 'tanjidor'. 'Dor' artinya bergerak, juga dari bahasa Armenia yang sudah meresap ke dalam kosakata Indonesia," ujar Ridwan.

Karena memainkan musik adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan, maka para pemusik pun membawa serta instrumen mereka. Instrumen tersebut diakui Ridwan sudah berumur karena merupakan warisan dari tanji. Tak mengherankan apabila kondisinya sudah tak maksimal, misalnya tak bisa mengeluarkan bebunyian sebagaimana harusnya.


Para pemusik yang telah kembali bersama saudara sebangsa tetap mempertahankan kebiasaan bermain musik. Lambat laun, mereka membentuk semacam perkumpulan untuk memainkan instrumen secara berkelompok. Inilah, kata Ridwan, cikal bakal orkes tanjidor Betawi.

Ia membenarkan bahwa para pemain orkes tanjidor tidak memiliki pendidikan musik secara formal. Mereka tak bisa membaca partitur, not balok, maupun tangga nada.

Pemimpin orkes Tanjidor Pusaka Tiga Saudara yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur, Ma'ah Piye turut mengiyakan. Ia mengingat, dulu belajar memainkan trompet dengan menonton sang ayah memainkan instrumen yang sama.

"Dulu belajar pakai otak sama hati, cuma melihat cara pencet begini. Tapi Alhamdulillah ketemu do re mi la si do-nya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Sofyan Marta, koordinator orkes Tanjidor Sanggar Putra Mayang Sari di Jakarta Timur berpendapat proses belajar seadanya itu membuat suara alat musik yang dimainkan sering terdengar fals. Selain itu, permasalahan kembali ke instrumen yang sudah tua.

Orkes Tanjidor Betawi, Pengiring Dansa Para Tuan Tanah Seorang personel orkes tanjidor membawa sousaphone. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Ridwan mengingatkan, tuanya alat-alat musik orkes kerap menyebabkan masalah kesehatan yang umumnya bersarang di paru-paru pemain alat musik tiup. Namun bila diberikan instrumen yang sama sekali baru, para pemain justru akan kesulitan.

"Karena sudah lama kan itu [instrumen], dari mulut ke mulut. Jadi pemusik ini sudah terbiasa menggunakan alat-alat lama ini. Alat-alat ini sudah fals, tetapi ketika disuruh bermain dengan alat baru enggak bisa, karena sudah terbiasa mendengar suara-suara dari alat tiup itu," ujarnya.

Instrumen yang telah berumur bukan satu-satunya keunikan orkes tanjidor. Hal istimewa lainnya adalah bagaimana para pelaku tetap mempertahankan nilai kekeluargaan di dalamnya. Kemampuan memainkan alat musik diwariskan secara turun temurun, seperti yang dialami Sofyan. Kakeknya, Nya'at bin Jaim merintis orkes tanjidor sejak 1928. Penerusnya kemudian adalah sang paman, Boris, meski hanya bertahan lima tahun.


Seorang putra Boris kemudian melanjutkan orkes tanjidor yang telah berganti nama menjadi Putra Mayang Sari pada 1980. Karena tak bisa menjalankan orkes, adik Boris yang adalah ayah Sofyan, mengambil alih kemudi.

Hal serupa turut dialami Ma'ah. Bahkan sampai saat ini, 12 orang personel Tanjidor Pusaka Tiga Saudara masih memiliki hubungan darah. Ma'ah sendiri meneruskan orkes yang sebelumnya dipimpin oleh sang kakek dan ayahnya.

"Anaknya enggak disuruh juga mau melanjutkan [orkes] bapaknya. Semuanya juga begitu, pemusik Betawi semuanya biologis," kata Ridwan, menanggapi nilai kekeluargaan dalam orkes tanjidor. (rea)