Nada Sumbang Orkes Tanjidor Betawi yang Meriahkan Cap Go Meh

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/06/2019 12:07 WIB
Nada Sumbang Orkes Tanjidor Betawi yang Meriahkan Cap Go Meh Ilustrasi kemeriahan orkes tanjidor Betawi. (dok Instagram/tanjidorpms_cijantung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ridwan Saidi seorang budayawan Betawi terdengar gembira. Dengan bersemangat, ia menceritakan kemeriahan zaman dulu kala orkes tanjidor tampil. Saat itu Ridwan masih kecil. Ia mengenang bahwa masyarakat turun ke jalan, berkumpul untuk bernyanyi dan menikmati alunan musik orkes yang kerap terdengar fals.

Suasananya mirip pesta rakyat, di mana semua orang saling tersenyum tanpa memandang ras dan status sosial.

Sejak awal, orkes tanjidor bertujuan untuk menghibur dengan membawakan lagu-lagu mars yang bersemangat, juga lagu-lagu daerah, meskipun sumbang lantaran alat musik yang digunakan sudah tua. Tak heran bila kehadirannya selalu dinanti dan disambut dengan sukacita.


Kata Ridwan, orkes tanjidor dulu tidak mengenakan seragam seperti hari ini. Biasanya mereka bermain di acara pernikahan, dengan perayaan Imlek atau Cap Go Meh sebagai acara terbesar sepanjang tahun. Kemeriahan ini ditingkahi pula oleh suara letusan petasan yang dinyalakan oleh anak-anak yang memakai baju baru.


Tidak ada kepastian tentang muasal lahirnya orkes tanjidor di Jakarta. Yang jelas, kelompok musik ini kental oleh jejak Eropa di Indonesia, baik instrumen ataupun lagu-lagu yang dimainkan. Di masa keemasan, masyarakat sama-sama merasa memiliki kesenian ini sehingga bisa menikmatinya tanpa mempermasalahkan perbedaan.

Roda nasib orkes tanjidor berputar bukannya tanpa halang rintang. Ada tahun-tahun di mana mereka kesulitan mendapatkan tawaran main, bahkan terganjal larangan pemerintah.

Saat itu, Wali Kota Jakarta Raden Soediro mengeluarkan larangan mengamen bagi orkes tanjider. Ia menganggap kegiatan itu seolah merendahkan derajat pribumi di depan yang berketurunan Tionghoa.

Namun Ridwan memiliki pandangan berbeda. Ia mengingat larangan tersebut berlaku untuk perayaan Cap Go Meh, padahal orkes tanjidor selalu menjadi bintang di acara itu. Tidak ada alasan jelas di balik pelarangan itu.

Ridwan kecil kecewa. Ia kehilangan hiburan kebudayaan.

Meriahnya Sambutan untuk Orkes Tanjidor Betawi yang SumbangRidwan Saidi, budayawan Betawi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

"Dulu waktu malam Cap Go Meh itu ramai. Ada Liong Barongsai, ada keroncong, ada tanjidor. Dan tanjidor selalu di depan. Yang nonton, daripada orang China lebih banyak orang kita [pribumi]. Sayang ya, padahal kan itu peradaban ya. Kok peradaban dilarang?" katanya melalui sambungan telepon dengan CNNIndonesia.com.

Ia pun membantah pendapat yang mengatakan orkes tanjidor mengamen saat perayaan Cap Go Meh. Menurutnya uang yang didapat para pemain musik diberikan berdasar kesukarelaan.

"Kalau Cap Go Meh itu enggak minta duit. Penyanyi perempuan di jalan itu tidak ada yang bayar. Semua spontanitas, seperti karnaval di Brazil," ujar Ridwan.

Kekecewaan dan pertanyaan rupanya masih tersimpan di benak Ridwan terkait pelarangan tersebut. Ia tak menemukan benang merah yang bisa jadi alibi keputusan Soediro yang keluar pada 1953 itu. Dampaknya pun dirasa amat luas.


"Padahal enggak minta dana dari kota [pemerintah], kok dilarang? Bayangkan pemusik berjalan sambil memainkan musik dari Jatinegara ke Kota, itu kan luar biasa. Dengan gembira semua orang di tepi jalan menunggu. Luar biasa lah," katanya menambahkan.

Koordinator Orkes Tanjidor Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung, Sofyan Marta mengungkapkan, kakeknya selaku pendiri orkes saat itu bisa meninggalkan rumah selama satu bulan di bulan perayaan Cap Go Meh. Sawah dan kebun yang sehari-hari diolah pun ditinggalkan sejenak. Nya'at bin Jaim, nama kakek Sofyan, diceritakan tidur di emperan toko bersama personel lain karena jauhnya perjalanan.

"Mereka baru pulang setelah pesta-pesta di kawasan Pecinan itu selesai. Ya tidurnya di sana ya di emperan toko. Mereka berangkat dari sini jalan kaki memikul alat-alat itu. Pulang ke sini kembali bercocok tanam," kata Sofyan.

Beberapa orkes tanjidor berhasil bertahan sampai hari ini. Mereka berganti nama yang menjadi penanda masing-masing orkes, dan tetap berjuang demi kelangsungan kesenian unik tersebut. Ada pula yang pernah serta dalam beberapa sinetron televisi. (rea)