FOTO: Memahami Persaudaraan Lewat Tradisi Pukul Sapu

ANTARA FOTO, CNN Indonesia | Senin, 01/07/2019 10:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap 7 Syawal, masyarakat Mamala, Maluku Tengah, mempererat persaudaraan mereka dengan tradisi saling memukulkan sapu.

Upacara ritual 'ukuwala mahiate' atau pukul sapu merupakan upacara adat negeri Mamala yang dilaksanakan setiap tahun dilatarbelakangi pembanguan Masjid Mamala.  (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Kata ukuwala diambil dari bahasa negeri Mamala yang artinya sapu lidi sedangkan Mahiate artinya baku pukul. Jadi arti dari ukuwala mahiate adalah baku pukul sapu lidi disebut juga pukul menyapu. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Pukul Manyapu merupakan atraksi unik dari Maluku Tengah yang biasanya dipentaskan di Desa Mamala dan Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Tradisi ini berlangsung setiap 7 Syawal dalam kalender Hijriah dan telah berlangsung sejak Abad ke-17 Masehi. Konon, tradisi ini diciptakan tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Ukuwala Mahiate diikuti 20 peserta dari kedua desa yang saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan. Kedua kelompok mulai saling mengayunkan lidi saat suling mulai ditiup. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut menggobati lukanya dengan menggunakan getah pohon jarak. Namun tak ada keluh kesah yang terlontar dari mereka. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Ada juga yang mengoleskan minyak 'nyualaing matetu' (minyak tasala), konon mujarab mengobati patah tulang dan luka memar. Dalam beberapa minggu, luka-luka ini akan sembuh tanpa berbekas. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Nilai filosofis dari tradisi ini yaitu persaudaraan tidak memandang suku, agama dan ras. Sakit di kuku, rasa di daging yang artinya rasa senang maupun rasa sakit dapat dirasakan bersama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis antar sesama. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Ada pula cerita yang juga berkembang bahwa asal tradisi itu berawal dari sejarah masyarakat di Maluku Tengah saat bertempur mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan penjajah. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)
Namun perjuangan mereka gagal dan Benteng Kapapaha tetap jatuh ke tangan penjajah yang dipimpin oleh Kapiten Telukabessy. Untuk menandai kekalahannya, pasukan Telukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah. (ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah)