Perjalanan Spiritual demi Dapat Nama Orkes Tanjidor

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/06/2019 15:45 WIB
Perjalanan Spiritual demi Dapat Nama Orkes Tanjidor Pemimpin Tanjidor Pusaka Tiga Saudara, Ma'ah Piye. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nya'at bin Jaim, seorang Betawi, merintis orkes tanjidor sejak tahun 1928. Kala itu orkes tanjidor tidak memiliki nama seperti hari ini. Untuk membedakan orkes satu dengan yang lain hanya ditambahkan nama pemimpin, seperti Tanjidor Nya'at.

Perlahan Tanjidor Nya'at berkembang, namanya mulai dikenal di Jakarta. Mereka sering tampil di berbagai acara seperti pernikahan dan sunatan. Bila sepi panggilan, mereka juga mengamen. 

Sofyan Marta, cucu Nya'at, mengingat tanjidor yang dipimpin kakeknya biasa mengamen di kawasan Kota. Beberapa daerah di antaranya adalah Beos, Kampung Pecinan dan Glodok. Mereka semakin aktif ngamen saat hari raya Imlek dan Cap Go Meh.


"Kakek saya dulu berangkat dari Cijantung, itu sebulan ngamen di sana. Pulang setelah pesta-pesta di kawasan Pecinan itu selesai. Selama ngamen tidur di emperan toko, berangkat dari sini jalan kaki memikul alat-alat itu," kata Sofyan saat ditemui CNNIndonesia.com di Cijantung, Jakarta Timur.


Kelangsungan orkes tanjidor sempat redup pada dekade 1950-an karena Wali Kota Jakarta Raden Soediro melarang tanjidor mengamen. Kegiatan mengamen di perayaan Imlek dan Cap Go Meh dinilai merendahkan derajat pribumi, dianggap seperti mengemis pada orang keturunan Tionghoa.

Orkes tanjidor mulai menanjak lagi sejak Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada April 1975. Berkat undangan pengelola, mereka sering tampil di anjungan DKI Jakarta. Menurut Sofyan, hal itu menjadi alasan mengapa orkes tanjidor diberi nama.

"Pihak anjungan tersebut meminta ada sebuah namanya. Biar gampang membedakannya, agar ada identitas. Seingat saya, kakek saya sendiri itu mencari namanya itu nggak sembarangan," kata Sofyan.

Menurut kisah yang dituturkan Boris, mendiang paman Sofyan, Nya'at mencari nama dengan cara spiritual, mendaki ke Gunung Gede. Setelahnya, baru Nya'at memberi nama Tanjidor Putra Mayang Sari.

"Konon katanya ada makamnya Putra Mayang Sari di gunung itu. Sejauh ini saya belum pernah menelusurinya, karena sulit. Kemudian pada tahun 1980 Kakek Nya'at meninggal, dilanjutkan oleh anak pertamanya bernama Boris yang mengganti nama menjadi Tanjidor Putra Mayang Sari," ujar Sofyan.


Boris memimpin tanjidor tersebut selama lima tahun sampai 1985 karena meninggal dunia. Anak Boris pun sempat melanjutkan, namun tidak bisa menjalani. Akhirnya Tanjidor Putra Mayang Sari diteruskan oleh adik Boris bernama Marta Nya'at yang merupakan ayah Sofyan.

Tahun 1990 Marta memutuskan mengubah nama menjadi Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung. Menurut Sofyan ayahnya ingin menghilangkan kata pusaka yang bisa diartikan suci. Pada 2013, Marta terserang stroke sehingga tongkat estafet tanjidor diserahkan kepada Sofyan.

"Sebenarnya saya ini belum menjadi pimpinan, selama masih ada orang tua, ialah pimpinan walaupun sudah tidak aktif. Ya saya ini koordinator atau bisa disebut sebagai manajer," katanya.

Kini Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung beranggotakan 15 orang. Untuk setiap acara, Sofyan akan memilih 10 orang untuk tampil, sementara lima orang lain menjadi cadangan. Dalam satu bulan, ada dua sampai tiga tawaran.

Perjalanan Spiritual demi Dapat Nama Orkes TanjidorSebagian personel orkes tanjidor Pusaka Tiga Saudara. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Sofyan mematok tarif Rp2,5 sampai Rp3 juta untuk satu kali penampilan. Tarif bisa lebih mahal bila diminta tampil dalam durasi lebih panjang. Pendapatan akan dibagi rata oleh pemain yang tampil dan disisihkan untuk uang kas.

Semua anggota Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung memiliki pekerjaan utama, begitu pula Sofyan yang bekerja di salah satu pasar swalayan. Menjadi pemain tanjidor adalah pekerjaan sampingan, sekaligus sarana berkesenian.

Bukan hanya Sanggar Putra Mayang Sari Cijantung, orkes Tanjidor Pusaka Tiga Saudara juga cukup dikenal. Orkes ini didirikan pada tahun 1970-an.

"Kakek saya yang memimpin tanjidor pada 1978 itu. Setelah itu ayah saya yang memimpin, saya baru mulai memimpin pada tahun 1989," kata Ma'ah Piye di Cijantung, Jakarta Timur, saat ditemui CNNIndonesia.com.

Ma'ah merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakak laki-laki tidak menjadi pemimpin karena sibuk dengan pekerjaan dan kurang paham cara menjalankan tanjidor. Ma'ah merasa, dirinya yang paling handal mengelola dan mencari panggung.


Tanjidor Pusaka Tiga Saudara kini beranggotakan 12 orang. Semua anggota masih memiliki hubungan darah dengan Ma'ah, seperti keponakan dan cucu. Pria yang kini berusia 64 tahun mengaku melatih sendiri setiap anggota.

"Kalau tampil hanya 10 orang, sisa dua jadi cadangan. Bayaran dari manggung kami bagi 11. Yang satu itu buat uang kas, buat kalau anggota ada yang sakit atau perbaiki alat-alat yang rusak," kata Ma'ah.

Ma'ah masih bermain tanjidor karena ingin meneruskan pelestarian seni yang dimulai kakeknya. Selain itu ia juga mendapat dorongan dari anak dan cucu. Ia berharap tongkat estafet tanjidor itu terus berlanjut.

Pun begitu dengan Sofyan, ayahnya pernah berpesan untuk tetap melanjutkan orkes tanjidor. Kata sang ayah, meneruskan tanjidor tidak akan membebani hidup, justru menambah rezeki. Petuah itu menjadi kenyataan lantaran Sofyan berhasil membeli mobil dari pendapatan tanjidor.

"Sudah ada tanggung jawab, sudah ada darah seni dan terikat. Jadi saya sulit menghilangkan. Ini hobi saya," kata Sofyan. (adp/rea)