Review: 'Stranger Things' Musim 3

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/07/2019 19:08 WIB
Review: 'Stranger Things' Musim 3 Matt dan Ross Duffer atau Duffer Brothers kembali sukses menarik perhatian melalui 'Stranger Things 3'. Kali ini, serial asli Netflix itu sedikit berbeda. (Dok. Netflix via youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Matt dan Ross Duffer atau Duffer Brothers kembali sukses menarik perhatian melalui Stranger Things 3. Hal itu terbukti dengan pemecahan rekor penonton Netflix dalam empat hari pertama penayangan.

Musim ketiga serial asli Netflix ini sedikit berbeda dengan dua sebelumnya.

Jika dua musim sebelumnya serial ini bisa membuat deg-degan dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi, musim terbaru menghadirkan permainan emosi dan perasaan yang lebih banyak.


Musim tiga ini dimulai dengan kehidupan para tokoh yang mulai menjalani hidup secara 'normal'. Hal ini karena masalah utama yang selama ini menghantui dalam Stranger Things, monster, dinilai sudah tuntas di musim ketiga.


Namun bukan Stranger Things namanya bila segala sesuatu berjalan 'wajar'. Monster tetap muncul dalam musim ini.

Selain dari kemunculan kembali monster, aspek permainan psikologi para tokoh menjadi alasan musim ketiga terasa lebih kompleks.

Para pemain yang mulai beranjak remaja beserta segala kompleksitas emosi yang tak sama satu dengan lainnya membuat musim ini lebih 'drama' dibanding yang sudah tayang lalu.
Review: 'Stranger Things' Musim 3Selain dari kemunculan kembali monster, aspek permainan psikologi para tokoh menjadi alasan musim ketiga Stranger Things terasa lebih kompleks.  (dok Netflix)
Bukan hanya itu. Masalah yang muncul dalam musim ini juga jauh lebih rumit. Monster bukan lagi jadi masalah utama untuk diselesaikan seperti pada musim sebelumnya.

Berbagai masalah 'humanis' juga muncul dalam musim ini, mulai dari keluarga, percintaan, pertemanan bahkan diri sendiri dari setiap karakter diceritakan dengan sangat baik di sini.

Musim ketiga juga terasa lebih spesial karena mampu membuat emosi terombang-ambing akibat plot twist yang dikeluarkan dengan apik, dan tak cuma satu kejutan yang disediakan.


Pada musim tiga Stranger Things dan dalam sebuah episode, penonton bisa merasa berbunga-bunga namun menangis hingga terisak-isak akibat kejutan yang tak disangka.

Namun, penonton bisa juga gemas bahkan emosi di awal episode kemudian tertawa terbahak-bahak hanya beberapa menit selanjutnya.

Hal itu bisa muncul karena Duffer Brothers kini benar-benar membagi porsi tampil bagi seluruh tokoh secara adil. Sejumlah tokoh yang pada musim sebelumnya tak begitu menonjol jadi sangat bersinar di musim ketiga.
Review: 'Stranger Things' Musim 3Duffer Brothers kini benar-benar membagi porsi tampil bagi seluruh tokoh secara adil di Stranger Things musim 3. (dok Netflix)
Dalam delapan episode, sejumlah tokoh yang baru muncul cukup banyak tampil hingga bisa jadi idola baru penonton. Bahkan bukan mustahil mereka akan terus muncul di musim selanjutnya.

Visual Stranger Things musim 3 bisa dibilang lebih berani dibandingkan yang lalu. Pertarungan dan darah muncul lebih gamblang dibanding sebelumnya.

Satu yang patut diacungi jempol adalah penggambaran The Mind Flayer. Di musim ini, monster mirip laba-laba aneh itu jadi musuh utama dan sudah muncul dari episode awal.


Menempati posisi 'penting', tim produksi pun menampilkan bentuk The Mind Flayer yang mengagumkan sekaligus menjijikkan. Apalagi ada banyak darah dan daging segar pada makhluk itu yang membuatnya seperti muntahan raksasa.

Hal ini berbeda dengan monster utama dari dua musim sebelumnya, Demogorgon yang punya tangan juga kaki dan bergerak seperti manusia tapi berkepala kelopak bunga. Kali ini, ia memilih 'bersembunyi'.

Stranger Things musim 3 masih meneruskan 'tradisi' musim sebelumnya, menyediakan sejumlah ruang bagi penggemar untuk berspekulasi dan membuat teori-teori untuk musim selanjutnya.

Penonton diharapkan terus menonton hingga akhir kredit episode delapan karena penulis memiliki sesuatu yang bisa memicu penasaran, emosi, bingung, serta harapan baru.

[Gambas:Youtube]

Bila mencari tontonan yang horor, menegangkan, dan penuh misteri, musim pertama Stranger Things merupakan pilihan yang tepat. Pada musim itu, Duffy bersaudara benar-benar menggali dalam soal Demogorgon serta Upside Down, tempat asal Demogorgon.

Jika menginginkan ketegangan dengan sedikit 'latihan' otak, musim kedua layak dicoba. Duffy bersaudara memiliki satu tokoh menonjol yang menjadi kunci pemecah teka-teki di sana.

Namun bila menginginkan musim yang bisa membuat tertawa, menangis, berpikir, tanpa kehilangan jati diri Stranger Things, musim ketiga jawabannya.

Musim ini bahkan menawarkan sesuatu yang baru, drama musikal, yang tak pernah ada sebelumnya. Paket lengkap ini yang sepertinya membuat musim ini layak menjadi favorit banyak orang. (chri/end)