Mencari Muasal Nama Kempot dan Darah Seni Didi

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 27/07/2019 10:24 WIB
Mencari Muasal Nama Kempot dan Darah Seni Didi Didi Kempot berasal dari keluarga berdarah seni yang kencang. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria tampak duduk sendirian di tengah restoran sebuah hotel di Solo, Jawa Tengah. Suasana restoran yang temaram bertolak belakang dengan cuaca kota budaya itu yang cerah di pertengahan Juli 2019.

Siluet menunjukkan pria itu berambut gondrong. Asap rokok tak lepas mengelilingi tubuhnya. Hanya segelas air minum dan asbak di atas meja bundar yang tak begitu besar di hadapannya.

"Ayo, duduk, duduk," kata pria yang bernama Didi Prasetyo atau yang dikenal publik sebagai Didi Kempot itu sembari tersenyum kepada kami.


CNNIndonesia.com berkesempatan berbincang dengan musisi lawas yang kembali viral itu di tengah jadwalnya yang padat. Jadwal wawancara kami pun tak terduga maju lebih awal dari yang seharusnya.

"Di Solo berapa hari?" tanya Didi, ramah. Ia tampaknya memang gemar mengobrol. "Ayo pesen makan dan minum," lanjutnya menunjukkan keramahan khas masyarakat Jawa. Hanya ada kami dan Didi beserta timnya di restoran itu.

Sedikit perbincangan mengenai sosok Didi Kempot dan perjalanan kariernya ternyata membuka banyak kisah yang belum terungkap dari pelantun Stasiun Balapan ini. Didi dengan semangat mengisahkan sembari mengenang sekaligus menghisap rokoknya.

Kenangan paling awal yang dikisahkan Didi adalah pengalamannya di masa kecil sebagai anak dari pemain ketoprak atau pementasan khas Jawa, Ranto Edi Gudel.

Sebagai pemain ketoprak, Mbah Ranto -sapaan akrab ayahanda Didi Kempot- mampu melakukan banyak hal, seperti karawitan, melawak, main peran, melukis, hingga menciptakan lagu.
Didi Kempot, Darah Seni, dan Hidup Gembel di JakartaBakat seni melimpah dari sang ayah mengalir ke Didi Kempot dan mendiang Mamiek Prakoso. ( CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Dari sekian banyak lagu ciptaan Mbah Ranto, Anoman Obong adalah lagu yang paling terkenal. Bahkan sampai saat ini lagu masih dinyanyikan, terlebih oleh penyanyi dangdut.

Bakat seni melimpah itu yang tampaknya menurun ke anak-anaknya, terutama Didi Kempot dan mendiang Mamiek Prakoso. Mbah Ranto pun tampaknya tak menyia-nyiakan waktu mendidik dua putranya itu ke dunia seni.

"Kalau almarhum bapak itu mengajarinya langsung, bukan hanya 'nuturi' atau ngasih wejangan. Namun langsung diajak praktek di tempat dia bekerja," kata Didi mengenang masa kecilnya dengan Mamiek.

"Kadang kalau malam diajak bapak, saya dan almarhum mas Mamiek diajak duduk di tempat gamelan," lanjutnya.

"Jadi kami melihat dan almarhum [Mbah Ranto] sempat cerita 'ini saya bekerja untuk kamu juga'," kata Didi.

Rokok Didi Kempot belum habis meski asapnya terus menguar. Begitu juga dengan ceritanya tentang sosok yang ia sebut "guru besar" dalam hidupnya itu.

"Beliau ngomong 'karena aku ingin dagelan, jadi aku enggak sekolah tinggi-tinggi. Sekolah saya ya praktek dari panggung ke panggung'. Akhirnya terbawa ke saya dan Mas Mamiek," kata Didi merujuk alasannya tak tamat sekolah.

Meski tak mengenyam di bangku pendidikan secara resmi, Didi terus belajar. Ia belajar kepada banyak orang, di mana pun, kapan pun untuk mengasah bakat alaminya: bernyanyi. Namun sosok "guru besar" Mbah Ranto tetap jadi panutan.

"Kayaknya kalau belajar gitar lebih gampang. Kalau cari duit di jalanan lebih mudah pakai gitar daripada pakai gamelan. Di situlah akhirnya saya ngamen di Keprabon, Solo. Saya belajar gitar otodidak dan mulai mengamen pada 1984," kata Didi sembari mengusap rambut klimisnya yang disisir ke belakang.

[Gambas:Youtube]

Pria berusia 52 tahun ini yakin bisa sukses dengan bermusik. Ia mengacu pada Waldjinah yang sukses hingga dijuluki Ratu Keroncong. Menurut Didi, orang akan teringat Waljinah kalau datang ke Solo. Didi pun berambisi untuk menjadi seperti itu.

Didi benar-benar mulai dari bawah, ia menjual sepeda pemberian ayahnya untuk membeli gitar. Setelah itu ia mulai mengamen dengan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa dan mulai menulis lagu.

Dari sekian banyak tempat, Stasiun Balapan adalah salah satu tempat yang paling sering ia datangi. Tidak sendiri, ia mengamen bersama lima orang temannya, mereka adalah Dani Pelo, Comet, Rian Penthul, Heri Gempil dan Mamat Kuncung.

Selama mengamen, Didi hanya menyanyikan lagu tanpa mengerti genrenya. Kala itu, ia juga belum mengetahui genre campursari. Baginya yang penting kala itu mendapat uang.

Suatu kali ketika Didi Kempot cs mengamen di Keprabon Solo, ada rombongan datang dari Jakarta. Dalam rombongan tersebut, ada pemimpin Pemuda Pancasila, Yapto Soelistyo Soerjosoemarno.
Didi Kempot, Darah Seni, dan Hidup Gembel di JakartaMenurut Didi Kempot, orang akan teringat Waljinah kalau datang ke Solo. (Tong Tong Fair/Festival/Wikimedia)
"Mas Yapto bertanya lagu siapa, saya jawab lagu saya sendiri. Kemudian Mas Yapto menyarankan untuk datang ke Jakarta. Teman saya juga kasih motivasi, mereka bilang siapa tahu nanti bisa jadi kayak Iwan Fals atau Rhoma Irama," kata Didi.

"Kalau kita tidak mencoba, ya enggak bakal jadi apa-apa. Akhirnya dengan keberanian, modal saya punya gitar. Kalau saya nyanyi enggak mungkin lapar. Untuk karier dan prestasi nanti ada Tuhan dan harus kerja keras di situ."

Keinginan Didi ini didukung oleh kedua orang tuanya, meskipun sang ibu, Umiyati Siti Nurjanah menangis melepas kepergian sang anak. Didi hanya bisa meminta ibunya mendoakan agar ia kembali dan membahagiakan kedua orang tuanya.

"Kempot" Lahir di Jakarta

Asap dari rokok Didi Kempot masih mengepul. Didi masih semangat mengisahkan cerita hidupnya, hanya dengan bermodal rokok dan kenangan yang ia bongkar dari ingatannya yang terdalam.

Didi tiba di Jakarta pada 1987 untuk pertama kalinya. Spesifiknya, daerah Palmerah dan Slipi jadi lahan Didi bertaruh nasib mengumpulkan uang dari usaha mengamen. Kadang, ia bisa menjamah hingga Grogol dan Cililitan, ikut terbawa bis kota.

Jumlah yang ia terima per hari kala itu sudah lama Didi lupakan. Yang jelas, uang dari mengamen itu cepat lenyap karena untuk mabuk minuman anggur merah.

"Kami pahamnya itu obat capek, tidur kebablasan. Ya namanya orang mabuk," kata Didi ceplas-ceplos.
Didi Kempot, Darah Seni, dan Hidup Gembel di JakartaIlustrasi: Didi Kempot juga pernah mengamen dari bus ke bus. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Untuk tidur, Didi dan kawanannya indekos di kawasan Kemanggisan. Namanya juga anak rantau dan hanya mengamen, mereka cuma bisa menyewa kamar yang tak besar. Masalahnya, mereka terdiri dari sembilan orang.

"Namanya anak jalanan, tidur di situ miring juga jadi," kata Didi tertawa.

Meski 'ngenes', momen itu adalah salah satu titik balik Didi Kempot. Ketika mengamen itulah nama "Kempot" ia dapatkan. Nama itu sendiri akronim dari "Kelompok Penyanyi Trotoar".

Nama itu menggambarkan kondisi Didi dan teman-temannya, mengamen dan nongkrong di trotoar kawasa Slipi, Jakarta. Namun hanya Didi yang mengenakan nama itu, hingga ia rekaman pertama kali di Musica Studios.

"Dari pertama Cidro, udah pakai nama Kempot. Dulu bu Acin [pimpinan Musica Studios] bilang 'kok nama Kempot?', saya bilang ini nama mungkin bawa hoki. Sebelumnya ada Doel Soembang, Iwan Fals dan Gombloh," kata Didi Kempot.

Didi melanjutkan sembari tertawa, "Mereka bisa kondang semua, nama mereka gampang diingat orang,"

"Saya pilih Kempot karena gampang diingat orang. Nama Kempot juga disebut sampai akhir zaman nanti, kalau sudah tua pipi pasti kempot." lanjutnya, sambil ditemani asap yang menguar perlahan ke udara dan pergi menghilang.

[Gambas:Youtube] (adp/end)