Peraih Nobel Toni Morrison Meninggal Dunia

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 11:09 WIB
Peraih Nobel Toni Morrison Meninggal Dunia Penulis Toni Morrison meninggal dunia di usia 88 tahun pada Senin (5/8). (Don EMMERT / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penulis yang telah menuliskan pengalaman seorang keturunan Afrika-Amerika dalam kisah fiksi selama lima dekade, Toni Morrison, dikabarkan meninggal dunia dalam usia 88 tahun.

Melansir Guardian, keluarga Morrison mengonfirmasi berita tersebut pada Selasa (6/8). Sang penulis berpulang pada Senin (5/8) malam waktu setempat di Montefiore Medical Center di New York. Ia sempat mengalami sakit, namun baik pihak keluarga maupun penerbit tidak menjelaskannya secara detail.

Morrison bukan hanya penulis novel biasa. Wanita kelahiran 1931 ini juga seorang penulis esai, editor, guru dan profesor di Universitas Princeton. Lahir di era Depresi Besar, tulisan-tulisan Morrison kerap menyuarakan pandangan orang Afrika-Amerika. Ia dikenal terutama melalui The Bluest Eye, Song of Solomon dan Beloved.


Sepanjang karier, ia telah mendapatkan penghargaan bergengsi seperti Pulitzer Prize, Nobel, Legion d'Honneur dan Presidential Medal of Freedom yang diserahkan kepadanya pada 2012 oleh Barack Obama. Karya-karya Morrison kini dianggap sebagai bagian dari kehidupan orang Afrika-Amerika, termasuk di institusi pendidikan.

Toni Morrison diketahui berkawan dengan Barack Obama dan keluarga. (Mandel NGAN / AFP)
Keluarga mengenang Morrison sebagai 'ibu dan nenek yang dikagumi'. "Walaupun kepergiannya meninggalkan duka mendalam, kami bersyukur ia memiliki hidup panjang yang baik. Kami ingin berterima kasih untuk siapapun yang mengenal dan mencintainya, secara personal maupun melalui karyanya, untuk dukungan kalian di saat berat seperti ini, kiranya kami bisa mendapatkan privasi," ujar perwakilan keluarga.

Politikus Bernie Sanders menulis di Twitter atas kehilangan sosok yang disebutnya 'legendaris'. "Hari ini kita kehilangan legenda Amerika. Semoga ia beristirahat dalam tenang," tulisnya.



Margaret Atwood, seorang penulis dan penyair Kanada yang juga aktivis lingkungan, mengatakan bahwa Morrison adalah 'raksasa dalam masa kita... Bahwa suaranya yang kuat akan dirindukan di era di mana kaum minoritas menjadi target baru di AS dan hal itu adalah tragedi untuk sebagian besar dari kita'.

Pada 1965, pernikahan Morrison gagal setelah diupayakan selama enam tahun. Ia lalu pindah ke New York dan mulai bekerja sebagai editor. Saat itu ia kemudian tersadar bahwa novel yang ingin dibacanya tidak perlu ditulis, maka ia sendiri yang melakukannya.

"Saya punya dua orang anak kecil di rumah kecil, dan saya sangat kesepian. Menulis adalah sesuatu untuk dilakukan saat sore hari, setelah anak-anak tidur," ungkap Morrison pada The New York Times, 1979.

Sejak usia sekolah, Morrison telah memiliki karakter dan pemikiran kuat. Salah satunya, ia menuturkan ketika seorang kawan sekolah memberitahunya bahwa si kawan menginginkan bola mata berwarna biru. Hal itu menjadi pemicu kelahiran novel The Bluest Eye.

"Ia seperti menyiratkan secara implisit keinginannya membenci ras sendiri," ujar Morrison kemudian, mengingat peristiwa itu pada 1993.

Dalam menulis novel, Morrison memilih untuk melakukannya diam-diam. Baginya, menulis adalah hal privat.

"Saya ingin memilikinya untuk diri saya sendiri. Karena sekali saja Anda membicarakannya (dengan orang lain), maka orang-orang lain akan jadi terlibat," katanya.

Peraih Nobel Toni Morrison Meninggal DuniaToni Morrison kerap mengejutkan publik dengan keberaniannya mengangkat isu-isu sensitif dalam cerita. (FRANCOIS GUILLOT / AFP)
Morrison melanjutkan eksplorasi tentang pengalaman orang Afrika-Amerika, proyek yang yang dideskripsikan pada The New York Times sebagai 'menulis tanpa pandangan (orang kulit) putih'. Menggunakan latar cerita dari abad ke-17 sampai era modern, ia tak pernah ragu menuliskan isu-isu sensitif dalam penuturan ceritanya, termasuk membela Bill Clinton pada 1998 lalu.

Reputasi Morrison dibangun bertahap, hati-hati namun mengesankan. Novel Beloved dipublikasikan pada 1987, mengangkat cerita dari pertengahan abad ke-19 tentang seorang budak yang membunuh bayinya sendiri, menempatkannya sebagai figur nasional.

Ketika Beloved tidak masuk dalam daftar calon peraih National Book Awards, 48 penulis lain menandatangani surat terbuka yang memprotes keputusan itu, menuduh industri penerbitan 'lalai dan bertingkah keterlaluan'.

Morrison adalah wanita keturunan Afrika-Amerika pertama yang berhasil meraih Nobel di bidang literatur poda 1993. Saat menerima penghargaan tersebut, ia berbicara tentang bahaya 'bahasa yang mengekspresikan penindasan adalah kekerasan, bahasa yang mengekspresikan pembatasan pengetahuan akan membatasi pengetahuan'.

"Kita semua akan meninggal. Mungkin, itu makna kehidupan. tetapi kita bisa berbahasa. Itu mungkin ukuran kehidupan kita," kata Morrison.

[Gambas:Video CNN] (rea)