Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata

CNN Indonesia | Sabtu, 17/08/2019 20:51 WIB
Tirto Adhi Soerdjo, Sosok Minke 'Bumi Manusia' di Dunia Nyata Tirto Adhi Surdjo. (Dok. Buku Sang Pemula/Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai tokoh kebangkitan nasional dan juga bapak pers Indonesia. Dedikasi RM Tirto itulah yang akhirnya menginspirasi Pramoedya Ananta Toer untuk menciptakan sosok Minke dalam novel Bumi Manusia dan ketiga novel lainnya dalam Tetralogi Buru.  

Sosok Minke memang disebut mengacu pada sosok Tirto Adhi Soerjo. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh adik kandung Pramoedya Ananta Toer, Soesiko Toer dalam wawancaranya dengan beberapa media.

Pramoedya menjadi sosok yang berjasa karena dapat kembali memutar ingatan bangsa Indonesia akan tokoh yang berjasa dalam pers Indonesia yang namanya hampir dilupakan dalam sebuah roman bertema sejarah. 


Sementara dalam buku "Sang Pemula", Pram juga mengungkapkan banyak dokumentasi mengenai jejak langkah Tirto.


Selain Pram, hikayat soal Tirto pernah juga ditulis dalam sebuah syair karya Priatman yang berjudul "Di Indonesia 1875-1917". Syair ini pertama kali diterbitkan pada buku "Perdjoengan Indonesia dalam Sedjarah" dan kembali disiarkan pada lembar "Lentera", edisi 24 Agustus 1962.

Nama Tirto di Indonesia memang tak pernah gencar dikenalkan sebagai tokoh yang berjasa terutama dalam dunia pers. Miris, karena sampai akhir hayatnya masih jarang khalayak yang tahu ia banyak berjasa bagi bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia.

Ia menjadi pemula dalam bangkitnya pers pribumi dan melawan pergerakan sosial terhadap penjajahan. Tulisan-tulisannya mengajarkan kaum pribumi sebagai kaum terjajah untuk bangkit dan tak boleh meratapi nasib.


Tirto baru diberikan gelar pahlawan nasional pada tahun 2006, yakni 100 tahun setelah mendirikan surat kabar Medan Prijaji tahun 1906. Pada tahun 1973 pemerintahan Soeharto hanya memberikan gelar 'Perintis Pers Indonesia' kepadanya

Perjuangan 'Minke' ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu ingin menyatukan semua golongan senasib. Semua masyarakat dipersatukan sebagai kaum terjajah atau bangsa terperintah.

Hal ini terlihat dari slogan surat kabar Medan Prijaji yang ia dirikan "Bagi raja-raja, bangsawan baik usul dan pikiran (kaum intelektual), priyayi, hingga saudagar yang dipersamakan dengan Anak Negeri di seluruh Hindia Belanda."

Tirto menjadi orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai sarana propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia berani menulis berbagai kecaman pedas yang ditujukan kepada pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.


Ia juga membangun lembaga pers Soenda Beirta (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908).

Karier Tirto berada di puncak saat ia memimpin Medan Prijaji, surat kabar nasional pertama yang menggunakan bahasa Melayu dan seluruh pekerjanya adalah orang pribumi.

Sering menyalurkan kritik pedas terhadap pemerintah Hindia Belanda dan mengungkap beberapa kasus ketidakadilan, Tirto beberapa kali sempat diasingkan selama berbulan-bulan.


Dia pernah diasingkan selama enam bulan karena menulis artikel yang saat itu disebut pengadilan menghina Bupati dan Patih Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat dan Raden Notowidjojo.

Tirto juga pernah mendapat hukuman yang sama selama dua bulan yaitu pada 18 Maret-19 Mei 1910 ke Telukbetung, Lampung. Penyebabnya karena memuat artikel berisi dugaan persekongkolan antara Calon Pengawas Purworejo A Simon dengan Wedana Tjokrosentono terkait pengangkatan Lurah Desa Bapangan, Distrik Cangkrep, Purworejo.

Seburam riwayat masa kecilnya, cerita akhir hidup Tirto juga samar. Jejak perintis perlawanan lewat media massa yang lahir di Blora tahun 1880 itu hilang begitu saja, seolah tak pernah ada.

Pada sekitar Juni 1915, Tirto disebut sudah berada di Batavia setelah dibuang ke Ambon pada tahun 1912-1913.


Bercerita kepada CNNIndonesia.com pada tahun 2016 lalu, Cicit Tirto, Raden Mas Joko Prawoto Mulyadi atau biasa disapa Okky Tirto, menduga, buyutnya itu diamankan dalam sebuah operasi intelijen yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

Tirto bisa jadi didiamkan dalam operasi intelijen pemerintah kolonial sejak tahun 1912 hingga tutup usia pada 7 Desember 1918. Namun jejak karya jurnalistiknya, termasuk keberanian dan perlawanannya terhadap ketidakadilan masih membekas hingga kini.

Tak hanya di dunia jurnalistik, dia juga berjasa dalam bidang pergerakan nasional dengan mendirikan Serikat Dagang Islam yang bertujuan untuk memajukan perdagangan pribumi atau bumiputera.

[Gambas:Video CNN] (DAL/DAL)