Review Film: 'Warkop DKI Reborn'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 13/09/2019 19:33 WIB
Review Film: 'Warkop DKI Reborn' Ada banyak upaya membangkitkan kembali jenaka ala Dono, Kasino, Indro di 'Warkop DKI Reborn'. (Dok. Falcon Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya Falcon Pictures mengangkat nama Warkop DKI kembali dalam 'Warkop DKI Reborn' seperti yang dilakukan beberapa tahun lalu, tak memiliki kemajuan yang berarti.

Bahkan, Warkop DKI Reborn terbaru dan di bawah arahan sutradara Rako Prijanto ini sejatinya hanya sekadar menjual nama besar grup yang beranggotakan Dono, Kasino, dan Indro.

Cerita yang ditawarkan Warkop DKI Reborn hilang arah. Komedi dan humor sulit diterima. Para aktor muda yang berperan pun belum mampu masuk ke dalam karakter Dono, Kasino, dan Indro.


Usai melihat film Warkop DKI Reborn, tak ada kesan istimewa yang tersisa. Malah, wajah terasa lelah karena terlalu banyak mengernyitkan dahi.

Kali ini, Warkop DKI dibintangi Aliando Syarief yang menggantikan Abimana Aryasatya untuk karakter Dono. Adipati Dolken ditunjuk menggantikan Vino Bastian untuk karakter Kasino. Randy Danistha menggantikan Tora Sudiro sebagai Indro.

Film ini mengisahkan tiga tokoh utama itu direkrut sebagai agen polisi rahasia. Mereka berada di bawah komando Komandan Cok yang diperankan langsung oleh Indro 'Warkop DKI' yang 'asli'.

Komandan Cok dikisahkan kehilangan tangan kanannya, Karman (Mandra) saat menelusuri pencucian uang di industri perfilman Indonesia. Lebih tepatnya, pada sebuah studio milik Amir Muka.

Dono, Kasino, dan Indro akhirnya berusaha masuk ke industri film dan terlibat dalam produksi film komedi demi dapat informasi.

Namun investigasi yang mereka lakukan tak selalu berjalan mulus. Saat menghadiri sebuah pesta, ketiganya malah menyeret lawan main mereka di film itu, Inka.

Mereka kemudian terkurung dalam sebuah ruangan dan jatuh pingsan. Namun ajaibnya, ketika terbangun, mereka sudah ada di padang pasir. Inka juga menghilang tanpa bekas. Petualangan lain ketiga lelaki itu pun dimulai.
Review Film: 'Warkop DKI Reborn'Kali ini, Warkop DKI dibintangi Aliando Syarief yang menggantikan Abimana Aryasatya untuk karakter Dono. Adipati Dolken ditunjuk menggantikan Vino Bastian untuk karakter Kasino. Randy Danistha menggantikan Tora Sudiro sebagai Indro. (Dok. Falcon Pictures)
Secara umum, garis besar cerita Warkop DKI lebih banyak diselingi beragam parodi dari sejumlah film hit di Indonesia. Hal ini biasa dilakukan komedian di Barat yang dikenal gemar membuat komedi satir.

Namun usaha Warkop DKI Reborn ini yang naskahnya ditulis oleh Anggoro Saroto dan Rako Prijanto sendiri ini tak berhasil membuat penonton tertawa.

Hujan sketsa komedi dalam film ini justru membuat cerita utama Warkop DKI Reborn ambyar. Tak keruan dan punya arah yang jelas. Apalagi soal logika cerita dan efektivitas kesampaian pesan film ini, absurd.

Banyak pertanyaan yang muncul usai melihat Warkop DKI Reborn, sebut saja penyebab ketiganya terdampar di padang pasir seperti yang muncul di trailer, dan hubungan Maroko dengan cerita film ini.

Hal itu baru sebagian. Masih ada beberapa adegan dan cerita dalam film ini yang membuat pertanyaan "kok bisa?" berkecamuk dan enggan pergi.

Namun yang fatal dari film komedi adalah ketika tidak bisa membuat penontonnya tertawa. Inilah yang terjadi.
Review Film: 'Warkop DKI Reborn'Banyak pertanyaan yang muncul usai melihat Warkop DKI Reborn, sebut saja penyebab ketiganya terdampar di padang pasir seperti yang muncul di trailer, dan hubungan Maroko dengan cerita film ini. (Dok. Falcon Pictures)
Warkop DKI Reborn terbilang memiliki candaan yang sudah "ketinggalan zaman" dan juga menempatkan wanita sebagai objek.

Mereka berusaha menjadikan kembali lawakan ala Warkop DKI 'jadul' di era kini, salah satunya ketika ketiga lelaki itu melotot melihat wanita yang agak membusungkan dadanya.

Gaya komedi itu mungkin laris dulu, puluhan tahun lalu. Namun di era saat ini ketika perempuan berani mengambil sikap dan bersuara juga menempati posisi yang setara dengan laki-laki, apakah masih relevan menggunakan komedi seperti itu?

Mungkin, bila mengutip salah satu dialog yang disampaikan tokoh Indro dalam film ini, "Ceritanya gini amat ya, Kas?". Itu pula yang saya rasakan selama menonton Warkop DKI Reborn.

Konsep Falcon Pictures dengan film dengan cerita bersambung tapi menggantung pun kembali diulang dalam Warkop DKI Reborn ini. Ya, film ini dibagi ke dalam dua bagian, tanpa penyelesaian konflik berarti di bagian pertamanya.

Konsep ini sempat mereka buat di Warkop DKI Reborn yang dibintangi Abimana, Vino, dan Tora serta Benyamin: Biang Kerok. Bahkan, kelanjutan Benyamin: Biang Kerok pun tak ada kabarnya hingga sekarang.

Tiga karakter baru yang memerankan tokoh Dono, Kasino, dan Indro, secara keseluruhan terlihat telah berupaya keras untuk bisa mirip. Sayangnya, itu tak sepenuhnya berhasil.

Secara gestur saja yang agak terlihat mirip, tapi belum sampai ke karakter ketiga legenda komedi Indonesia itu.

Latar belakang masing-masing aktor yang lebih banyak bermain dalam film drama itu mungkin menjadi salah satu faktor mereka sulit menyampaikan cerita atau situasi dengan lucu.

Aliando, Adipati, dan Randi tidak terasa alami dalam menyampaikan lelucon. Berbeda dengan Dono, Kasino, dan Indro yang memang kerap memberikan komedi cerdas di radio sebelum beranjak ke depan kamera.

Terlepas dari tiga tokoh utama, penampilan pendukung seperti Mandra dan Indro sebenarnya juga tak sepenuhnya menyelamatkan film ini.

Secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn bukan sebuah film yang direkomendasikan untuk bisa menikmati nostalgia akan tokoh Dono, Kasino, dan Indro.

Di samping itu, embel-embel film komedi yang disuguhkan pun tidak sepenuhnya bisa dinikmati sebagai hiburan.

[Gambas:Youtube] (end)